Sistem Hubungan Poliamori dan Kontroversinya

| 23 Aug 2020 14:00
Sistem Hubungan Poliamori dan Kontroversinya
Ilustrasi poligami (Rumah.com)

ERA.id - Umumnya, berpasangan itu ada dua orang. Itu yang kerap kita pelajari. Ya, sepasang. Tapi poliamori, beda. Poliamori adalah menjalani hubungan lebih dari dua orang dan itu sah-sah saja.

Contohnya, pernah ada ada seseorang di Amerika Serikat, yang membeberkan lewat media sosialnya baik lewat Instaggram dan Youtube, ihwal bagaimana ia menjalani poliamori. Kontroversial memang, dan itu membuat mereka banyak dihujat selama berbulan-bulan.

Dilansir dari Daily Star, Kamis (6/8/2020) lalu, Maggie Odel adalah wanita berusia 26 tahun yang bertemu pasangannya, Cody Copolla berusia 30 lewat Tinder pada November 2016.

Pada bulan yang sama, mereka kenal dengan wanita berumur 25 tahun bernama Janie Frank. Dari sanalah awal mula hubungan poliamori.

"Kami bertemu Janie di Tinder. Lalu kami bertemu langsung di bar. Ini terjadi sangat santai, dan tidak ada dari kami yang niat mencari hubungan. Ini terjadi begitu saja," ungkap Maggie.

"Tapi dia (Cody) senang tentang itu. Itu terjadi begitu orisinil, sehingga kami sudah berpacaran dan menyadari apa yang terjadi. Kami tak membutuhkan arahan lagi," tambahnya.

Cody dan pasangannya/Instagram: Cody_Coninja

Maggie mengatakan, masing-masing mereka menjalani hubungan poliamori untuk pertama kalinya. Maggie merasa lebih bahagia dengan adanya Janie. Mereka hidup rukun dan tidak ada rasa cemburu.

Akhirnya, hubungan mereka diserang pembenci di dunia maya. Maggie, Cody, dan Janie merasa terganggu, sebab sudah kelewatan rasanya, kalau pembencinya mengirim surat kebencian ke tempat kerjanya. Mau tahu isi suratnya? Janie dicap sebagai pelakor karena merusak hubungan Cody dan Magie. 

"Kami menghadapinya dengan memeriksa kabar satu sama lain dan berusaha satu sama lain dengan saling memberikan perhatian. Itu adalah masa-masa yang sulit bagi kami. Tetapi kami tetap bersatu dan menjadi semakin vokal tentang percintaan kami," jelas Maggie.

Terlepas dari itu, monogami disimpulkan dengan sementara sebagai hal yang tidak natural. Aktris Scarlett Johansson usai bercerai dengan suaminya, Romain Dauriac, pernah diwawancarai majalah Playboy yang dikutip oleh People.

Di sana, ia mengaku, pernikahan adalah hal yang begitu indah meski banyak hal yang harus diselesaikan di dalamnya. Usia pernikahannya dengan Romain cuma bertahan dua tahun.

“Pernikahan menuntut upaya besar bagi banyak orang dan fakta membuktikan hal ini bukanlah sesuatu yang natural. Saya pernah terlibat di dalam pernikahan dan menghormatinya, tetapi saya pikir hal ini tentunya melawan insting-insting untuk melihat sesuatu [di luar pernikahan] lebih jauh lagi,” ujar Johansson.

Katanya, banyak hal yang berubah setelah orang menikah, termasuk tanggung jawab yang diemban oleh seseorang. Johansson mengungkapkan, “Pernikahan merupakan tanggung jawab yang indah, tetapi tetap saja namanya tanggung jawab.”

Ilustrasi poliamori/Shutterstock

Penelitian menemukan hanya 3-5 persen dari 5000 jenis mamalia (termasuk manusia) yang benar-benar monogami. Dilansir situs Live Science, Pepper Schwartz, profesor Sosiologi dari University of Washington, Seattle, menyatakan bahwa manusia bukan makhluk monogami.

“Monogami diciptakan untuk keteraturan dan investasi, bukan sesuatu yang pada dasarnya alamiah,” tandas Pepper.

Beberapa peneliti lain yang sejalan dengan pemikiran Pepper juga memandang monogami dalam konteks sosial dan seksual hanyalah merupakan struktur bermasyarakat, dibanding kebenaran secara alamiah.

Daniel Kruger, psikolog sosial dan evolusi dari University of Michigan’s School of Public Health, menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang poliginis seperti kebanyakan mamalia lain, di mana laki-laki cenderung memiliki relasi dengan lebih dari satu perempuan.

Karena pertimbangan anak dan untuk menciptakan ikatan dengannya, manusia berevolusi dan membuat komitmen dengan satu orang pasangan, demikian disampaikan oleh Jane Lancaster, antropolog evolusi dari University of Mexico kepada Live Science.

Fakta ilmiah ini menjadi salah satu faktor mengapa sebagian orang memilih jenis hubungan alternatif, yakni poliamori. Tentu saja perdebatan ini akan panjang jika harus membedah baik tidak poliamori jika dilakukan.

Poliamori bukan selingkuh

Mereka yang tak kenal dengan poliamori, mungkin menuduh orang yang menjalani poliamori adalah bodoh atau mau diselingkuhi atau kurang ajar, kok selingkuh? Biasa kok itu, sebab orang yang tak kenal memang mudah mencerca.

Begini, pahami poliamori tidak sama dengan poligami. Poliamori artinya Anda menjalin hubungan dengan beberapa orang, dan tiap orang yang terlibat dalam hubungan ini, bisa menjalin asmara antara satu sama lain. Tidak ada pengekangan.

Ilustrasi poligami

Poligami berarti seseorang berpasangan dengan lebih dari satu istri atau poliandri lebih dari satu suami. Poliamori dan poligami serta poliandri, beda. Tapi ada satu hal yang sama dari keduanya. Baik poliamori dan poligami tidak sama dengan selingkuh.

Orang-orang yang menjalani poliamori sadar kalau pasangan mereka berhubungan mesra dengan orang lain. Hal sebaliknya juga berlaku bagi Anda. Tidak ada pengekangan di dalamnya.

Dalam kaca mata awam, poliamori mengusung hubungan yang lebih bebas, tapi ingat dan catat: Poliamori itu harus ada persetujuan, jangan seenak perut saja mau berhubungan lebih dari seorang!

Untung-rugi menjalani poliamori

Memang, budaya kita di Indonesia masih sangat aneh melihat poliamori, begitu juga poligami dan poliandri. Komentar miring kerap menimpa para pelaku sistem asmara itu.

Walau negatif atau aneh di mata orang lain, poliamori menguntungkan berbagai pihak kok. Anda bisa memperoleh jaringan baru berisikan orang-orang dengan kebutuhan fisik dan emosional yang sama. Dengan demikian, Anda dapat merasakan keintiman berbeda.

Jika sudah begitu, Anda otomatis akan belajar bagaimana cara mengatur emosi hingga menjaga hubungan tetap harmonis. Melansir laman Foundation for Intentional Community, ini keuntungan poliamori:

-Membuka sudut pandang dan kesempatan baru

-Mendapatkan kebebasan dan penerimaan

-Bisa mengungkapkan cinta dengan lebih luas

-Menjadi saling terbuka dengan pasangan

-Memiliki banyak orang yang mendukung Anda

Ilustrasi poliamori/Kurio

Kerugian menjalani poliamori:

-Rasa cemburu yang sulit dikendalikan

-Hubungan yang rumit, terlebih jika ada yang ingin menikah

-Diskriminasi dari orang-orang terdekat ataupun masyarakat

-Sulit menemukan orang lain yang ingin menjalani hubungan serupa

-Risiko kesehatan akibat bergonta-ganti pasangan, misalnya penyakit menular seksual

-Harus bernegosiasi dengan pasangan yang memiliki keinginan berbeda

-Kecenderungan membandingkan pasangan yang satu dengan yang lain

-Hubungan poliamori juga rentan mendapatkan penolakan dari banyak pihak.

Fenomena poliamori yang kontroversi

Pertama, jika poligami dan poliandri akrab dalam keseharian kita, maka disebut apakah seorang lelaki yang menikahi dua lelaki? Ya, gay poliamori.

Di Thailand, 3 orang pria bernama Joke, Ball dan Art menikah. Mereka menikah karena merasa cinta satu sama lain. Kisahnya, dimulai dari Joke dan Art yang berpacaran lebih dulu, lalu muncul Ball dalam sebuah pesta. Keramahan kedua orang ini membuat Ball terpikat dan singkat cerita ia menerima tawaran keduanya untuk menikah.

Joke dan pasangannya/Metro.co.uk

Jangan bayangkan ini terjadi di Indonesia dan akan jadi seperti apa rumah tangga mereka ya. Sebab, di Thailand sendiri, aturan pernikahan sesama jenis sudah dibolehkan.

Kedua, Kitten, Brynn dan Doll Young. Mereka pasangan lesbian dan memutuskan untuk menikah pada Agustus 2013 lalu dan sukses menjadi headline di berbagai media. Mereka menjalani sistem poliamori.

Kitten dan pasangannya/News Dog Media

Meski pernikahan sesama jenis sudah legal di Amerika serikat, namun belum ada undang-undang tentang hubungan tiga orang seperti yang Kitten lakukan. Sehingga tak heran kalau pernikahan ini bikin banyak orang bertanya-tanya. Otoritas setempat pun sempat menyarankan mereka untuk tidak meneruskan perkawinan.

Tags : seks
Rekomendasi