Mabuk Kepayang Akibat 'Jaran Goyang'

Tim Editor

Ilustrasi "Kuda Goyang" (Putranto Hilmy/era.id)

Jakarta, era.id - Nama Nella Kharisma begitu tersohor ketika lagu "Jaran Goyang" dirilis pada 2017 lalu. Sampai saat ini, Nella masih jadi salah satu penyanyi koplo paling diperhitungkan, bersama Via Vallen yang ngetop dengan lagu "Sayang".

Memang, Nella dan Via adalah agen penting yang berjasa mempopulerkan musik koplo. Sejak mereka, musik koplo mampu mendobrak sekat-sekat yang terbentuk di kalangan masyarakat modern. Nah, peluang ini pun dilirik oleh Rajesh Punjabi.

Bukan seorang 'Punjabi' rasanya jika enggak mampu mencium peluang dari yang begini-gini. Ia pun memutuskan untuk memproduksi sebuah film horor yang diangkat dari lagu Jaran Goyang Nella. Dibintangi oleh Ajun Perwira dan Cut Meyriska, film ini akan mengangkat unsur mistis dari "Jaran Goyang".

Jaran Goyang memang mengandung unsur mistis yang begitu kuat. Di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Jaran Goyang dikenal sebagai salah satu mantra pelet yang begitu manjur. Asal usul mantra Jaran Goyang sendiri berasal dari sastra lisan Suku Osing di Banyuwangi.

Selain ilmu aliran hitam dan putih yang banyak dikenal begitu banyak masyarakat Jawa, Suku Osing juga mengenal aliran ilmu kuning dan merah. Ilmu kuning ini berkaitan dengan jabatan, sedang ilmu merah berkaitan dengan asmara. Nah, Jaran Goyang itu termasuk dalam bagian ilmu merah.

Nama Jaran Goyang sendiri diambil dari perilaku kuda yang cenderung liar dan sulit dijinakkan. Sama dengan rasa cinta yang enggak ada seorang pun mampu mengendalikan. Azeek~

Dalam sejarah, Jaran Goyang banyak dikaitkan dengan kisah Kerajaan Blambang yang tengah berada di ambang kehancuran, di mana begitu banyak rakyat yang terpecah belah. Nah, untuk menyelamatkan agar garis keturunan masyarakat Blambangan tetap terjaga dan enggak bercampur, banyak rakyat akhirnya yang memutuskan untuk menikahkan anak mereka dengan saudara dan kerabat dekat.

Tentu saja bukan perkara mudah. Sebab, begitu banyak anak yang menolak dijodohkan oleh orang tua mereka. Nah, pada saat itulah mantra Jaran Goyang digunakan banyak orang tua untuk menikahkan anak-anak mereka dengan pasangan yang telah dipilih dengan pertimbangan menjaga garis keturunan tadi.
 

Perkembangan budaya

Seiring perkembangan zaman dan budaya, Jaran Goyang kemudian ditampilkan sebagai sebuah tarian. Penari Banyuwangi, Darji dan Parmi dari Lembaga Kesenian Nasional (LKN)-lah yang pertama kali menampilkan Jaran Goyang sebagai tarian di tahun 1966.

Slamet Menur, seniman tari asal Banyuwangi menuturkan, awalnya, tarian Jaran Goyang dilakoni oleh banyak orang yang mengiringi dua penari utama. Seiring perkembangan waktu, di masa kini, Jaran Goyang lebih banyak dilakukan oleh dua orang, tanpa para penari pendamping.

Sebagaimana ditulis Kompas pada 7 November 2017, Menur menjelaskan, tari Jaran Goyang adalah tarian pergaulan yang maknanya mengisahkan tentang seorang pria yang cintanya ditolak oleh seorang gadis. Kemudian, pria itu merapalkan mantra Jaran Goyang dan melemparkan bunga kepada sang gadis, hingga sang gadis akhirnya tergila-gila pada sang pria.

Kemudian, di tahun 2017, Jaran Goyang diadaptasi menjadi sebuah lagu yang didendangkan dengan irama koplo oleh Nella yang kemudian di tangan Rajesh diadaptasi menjadi sebuah film horor.

Mem-film-kan sebuah lagu memang bukan hal baru dalam industri hiburan nasional. Beberapa judul film yang mengangkat judul lagu pun pernah dirilis. Sebut saja lagu band Armada berjudul "Asal Kau Bahagia" yang dilirik rumah produksi Falcon Pictures yang bahkan melibatkan nama Hanung Bramantyo sebagai sutradara.

Atau "Surat Cinta untuk Starla" yang diangkat menjadi proyek film pendek yang dipecah dalam tujuh chapter. Atau lagu baper ciptaan Yovie Widiyanto: "Mantan Terindah" yang dibintangi Karina Salim.

Ya, bolehlah. Namanya juga bisnis. Barangkali ini proses yang harus dilalui industri perfilman Indonesia sebelum betul-betul memiliki kualitas merata. Asal jangan "Surti Tejo" punya Jamrud aja yang diangkat jadi film. Bingung juga kan memvisualisasikan adegan Surti dan Tejo yang tengah menebus rindu di tengah sawah.

Tag: film indonesia hari film nasional 2018 era eksistensi budaya

Bagikan: