Berkaryalah Jika Ingin Dikenal Orang

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era. id - Sebenar-benarnya sebuah mahkota bagi seorang musisi adalah karya. Meskipun hanya sebuah single, karya merupakan hal yang paling diingat dari seorang pelaku seni begitu ia meninggal dunia. Bukan banyaknya jumlah show yang menjejali daftar riwayat hidupnya.

Siapa yang tidak mau melegenda seperti Koes Bersaudara/Plus yang memiliki ribuan lagu dan ratusan album yang disukai khalayak musik Indonesia? Semua orang pasti mau. Ya, kepuasan tertinggi yang dapat dirasakan seorang musisi adalah menghasilkan karya yang diapresiasi banyak orang . 

Saat kita jujur dalam menuangkan idealisme bermusik, di sanalah karya musik 'bagus' itu lahir. Dan tentunya, selalu ada orang yang akan menghargai karya musik yang dibuat dengan sungguh-sungguh. Ngetop dan kaya raya adalah reward dari hasil jerih payah kita. Perjuangkanlah musik yang diusung tanpa terpengaruh tren yang tengah ngehits. Percayalah, kualitas akan mematahkan teori yang disebut, 'pasar'!

Dan proses perekaman sebuah karya, bagaimanapun, adalah peristiwa sakral sekaligus ritual seorang musisi. Suatu hal yang patut dirayakan, dinikmati dan disyukuri. Karena hasilnya bakal abadi,  jangan setengah-setengah saat melakukan rekaman. Dan tetaplah humble. Karena gabungan antara talenta besar dan sifat yang humble akan membuat karya semakin matang dan selalu out of the box. Jadilah yang terbaik untuk diri sendiri.


Ilustrasi (Pixabay)

Lalu, merilis album merupakan salah satu bentuk dedikasi tertinggi yang dapat dicapai seorang musisi terhadap apa yang dilakukannya. Tapi, jangan jadikan album atau single pertama yang dirilis sebagai tujuan akhir dalam bermusik. Karena setelah karya pertama dirilis, beban musisi bakal semakin besar sekaligus berat. Ada tuntutan untuk mempertanggungjawabkan karya tersebut.

Lalu apa rahasia yang membuat para metalhead lebih berani merilis album dalam format fisik ketimbang artis-artis 'mainstream'? Mengapa pula mereka tidak gampang tergilas roda zaman? Tidak ada jurus yang spesial, semua hanya masalah timing dan dedikasi. Musisi-musisi populer yang tidak merilis album mungkin sedang menunggu waktu yang tepat untuk melakukan hal tersebut. Kita tidak pernah tahu apa yang menghalangi langkah mereka. Semua kembali ke masalah strategi. 

Industri musik punya haluannya sendiri. Tidak harus diubah dan berlaga seperti pahlawan kesiangan. Musik adalah recycle. Musik hanyalah pengulangan yang mengalami perkembangan dari sisi-sisi lain. Berkaryalah tanpa terpengaruh hiruk pikuk industri musik. Karena berkarya merupakan salah satu upaya menyekolahkan diri sendiri sekaligus bentuk syukur kepada Tuhan atas bakat yang dimiliki. Musik adalah sekolah tanpa ijazah. Just play that sh*t loud, man! 

Baca Juga : Saatnya Menjadi Trendsetter

Tag: album musik

Bagikan: