Menikmati Salju di Dataran Tinggi Dieng

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

(Foto: akun Twitternya @sutopo_pn)

Jakarta, era.id - "Enggak usah jauh-jauh kalau mau lihat salju, di Jawa juga ada." Begitu kira-kira percakapan saya dengan seorang kawan pagi. Kata-kata itu muncul setelah melihat kicauan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho di Twitter.

Pada akun Twitternya, Sutopo mengatakan pagi ini kawasan dataran tinggi Dieng diselimuti oleh salju. Sesungguhnya, ini bukan kali pertama, sebab pada pertengahan Juli hal serupa juga pernah terjadi. Saking dinginnya tempat tersebut, keran air yang terbuat dari besi sampai membeku. 

"Daratan Dieng tampak seperti musim dingin di Eropa. Embun beku salju menyelimuti rumput dan tanah. Pagi ini temperatur di Dieng adalah -5 ° C di lembah Sikunir, Sembungan, Wonosobo. Keran air sampai beku," kata Sutopo dilansir dari akun Twitternya @sutopo_pn, Kamis (2/8/2018).
 


Dalam dua bulan terakhir cuaca di Dieng memang cukup dingin. Pada bulan Juli embun dingin juga pernah menyelimuti tempat ini. Sama seperti hari ini, ketika itu Dieng berubah menjadi putih, tanaman-tanaman yang berada di Dieng diselimuti oleh embun es.

Dinginnya udara bulan Juli lalu mencapai 5 derajat celcius, menurut salah seorang warga yang tinggal di Dieng, ini kerap terjadi antara bulan Juli-Agustus. Namun pada tahun ini, udara dingin sudah dirasakan sejak lebaran atau pertengahan bulan Juni. 

Warga Dieng cukup akrab dengan kondisi ini, mereka menyebut embun beku atau salju yang terjadi di Dieng dengan sebutan embun upas atau embun kupas. 

Saat ditelisik lebih dalam mengenai embun upas didapati fakta bahwa embun ini merupakan fenomena alam yang terjadi karena adanya perubahan tekanan udara secara ekstrem, jika pada siang hari udara berkisar 22-24 derajat celcius, tekanan udara akan menurun drastis pada malam hari mencapai minus 5 derajat celcius.
 

Saat suhu sangat dingin, kabut yang datang dari ketinggian biasanya akan berubah bentuk menjadi tetesan air (embun) saat mendekati tanah. Tapi karena suhu yang sangat rendah, kabut langsung terkondensasi membeku dan menempel di pucuk tanaman, membentuk lapisan es. Alhasil terciptalah pernampakan embun Upas.

Bagi penikmat keindahan, embun upas adalah fenomena alam apik untuk dipandang berlama-lama, dengan segelas kopi hangat makin indahlah suasananya, kilauan embun-embun es yang menempel di dedaunan, terasa menentramkan. 

Merugikan petani

Bagi para petani, embun upas adalah si pembunuh, pemandangan seram yang bikin perasaan petani gundah gulana. Kenapa? Karena embun Upas tidak seperti embun pada biasanya yang berbentuk cair dan menyejukan, embun ini beku dan merusak sistem fisiologi tanaman. 

Karena tertempel embun beku, sel-sel tanaman jadi tidak bisa melakukan fungsi fisiologisnya, cairan sel membeku, dan fotosintesis pun menjadi terhambat. Tapi nantikan embun bakal cair dan tanaman hidup kembali? Kata siapa, ketika embun mencair kondisi yang ada adalah tanaman menjadi layu dan mati. Apalagi jika embun yang beku bertahan hingga berjam-jam lamanya, karena itu para petani bisa merugi. 

Hal tersebut benar terjadi memang pada pertengahan Juli lalu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dari Kecamatan Batur Banjarnegara Agus Rifai mengatakan, terdapat 10 hektar sawah di wilayah Dusun Pawuhan Desa Karang Tengah Batur dan sekitar kompleks candi Arjuna Dieng yang diselimuti salju.

Kondisi tersebut membuat para petani di Dieng bersedih. Alasannya, musim kemarau masih panjang dan penurunan suhu masih akan terjadi. Alhasil, bukan tidak mungkin, embun beku akan kembali turun dan mengenai lahan pertanian warga. 

Jika hal tersebut benar terjadi, bukan tidak mungkin tanaman warga akan sulit diselamatkan. Dan Agustus ini kembali terulang hal serupa, bagaimana kondisinya disana sekarang? 

Untuk menghindari resiko tanaman rusak saat terjadi perubahan ekstrem cuaca yang memunculkan embun upas, para petani disarankan melakukan pemanasan kering atau dry heating dengan suhu 41 derajat Celcius selama 4 jam pada umbi dan bibit. 

Pencegahan lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengontrol tanaman secara rutin setiap pagi, terutama bila ada hujan pada malam hari sebelumnya.

Setelah itu dilakukan penyemprotan dengan air atau mengusapnya dengan daun pisang. Setelah terbebas dari embun, segera menyemprotnya dengan fungisida, karena udara dingin dan kelembaban tinggi bisa memicu timbulnya cendawan bulu halus (peronospora destructor) yang juga merugikan.

Nasib Pendaki

Oh iya, salju yang turun di Dieng juga menarik minat wisatawan pastinya, mereka berebut untuk menyaksikan keindahan alam di Dieng. Namun perlu diingat, kondisi cuaca yang ekstrem perlu diwaspadai oleh para pendaki dan wisatawan agar tidak bikin susah orang lain.

Tekanan udara yang rendah dan dingin membuat para pendaki perlu mempersiapkan dengan matang rencana untuk mendaki ke Dieng, sejumlah peralatan yang dapat menghangatkan tubuh mereka, wajib dibawa. 

Tidak hanya itu, disarankan juga untuk mempersiapkan fisik, takut-takut jika fisik tidak kuat, ketika turun ke bawah langsung jatuh sakit.

Dieng Culture Festival

Kebetulan, besok, Jumat (3/8/2018) sampai Minggu (5/8/2018), bakal diadakan  Dieng Culture Festival (DCF). Untuk DCF 2018, tema yang diangkat adalah "The Beauty of Culture". 

Dalam festival ini, para pengunjung akan menikmati budaya yang sudah melekat pada masyarakat Dieng yang dikemas dengan hiburan musik jazz, serta keindahan alam khas negeri di atas awan. 

Dari akun Instagram Dieng Culture Festival, @festivaldieng, disampaikan serangkaian kegiatan yang akan ditampilkan. 

Pada hari pertama, 3 Agustus 2018, ada Aksi Dieng Bersih yang merupakan kegiatan rutin dalam DCF ini. Pada malamnya, wisatawan akan disuguhkan pertunjukan musik "Jazz Atas Awan" mulai pukul 19.30-23.00 WIB. Acara ini bakal digelar di suatu tempat dengan ketinggian 2.093 meter di atas permukaan laut (mdpl). 
 

Pada hari kedua, 4 Agustus 2018, ada empat festival yang digelar yakni Festival Caping, Festival Domba, Festival Bunga, dan Festival Tumpeng. 

Untuk Festival Tumpeng, ini akan dikirab dan dimakan bersama pengunjung DCF. Sedikitnya, ada 50 tumpeng yang disiapkan warga setempat. Sementara, untuk Festival Domba diselenggarakan sebagai bentuk upaya merintis desa wisata lainnya, sehingga bisa mengangkat agrowisata domba. 

Pada hari ketiga, 5 Agustus 2018, puncak acara DCF 2018 akan diisi dengan Jamasan Rambut Gembel, prosesi Ruwat Rambut Gembel, dan prosesi Larungan di kompleks Candi Arjuna. Acara ini akan digelar pagi hari. Kemudian, pada siang hari, akan digelar ragam pertunjukan seni budaya dan Aksi Dieng Bersih.

Bagikan: