Misteri Tiket Habis Tapi Kursi Kosong Akhirnya Terjawab

| 25 Aug 2018 00:35
Misteri Tiket Habis Tapi Kursi Kosong Akhirnya Terjawab
Salah satu pertandingan bulu tangkis Asian Games 2018 di Istora Senayan (Foto: INASGOC)
Jakarta, era.id - Kalau dilihat dari sisi penjualan tiket beberapa cabang olahraga Asian Games 2018, INASGOC bisa dibilang sukses berat. Tiket-tiket pertandingan begitu langka karena selalu habis terjual. Tapi.. kenapa kursi-kursi di arena masih banyak yang kosong?

Soal penjualan tiket ini memang sempat berujung pada kericuhan. Cek saja menjelang final bulu tangkis beregu Asian Games 2018, Rabu (22/8) lalu di Jalan Pintu I Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. Ribuan calon pembeli tiket kecewa karena menerima informasi tiket sudah habis. Padahal mereka ada yang antre sejak pagi.

Okelah, bisa dimaklumi animo masyarakat mungkin saja yang tak lagi terbendung ingin mendukung atlet kesayangannya berlaga. Tapi pertanyaan besar kemudian muncul ketika siaran televisi menangkap Istora Gelora Bung Karno, venue berlangsungnya cabang bulu tangkis, tidak penuh. Kecurigaan langsung bermunculan.

Ketua Deputi II Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (INASGOC) Francis Wanandi akhirnya memberi penjelasan soal ini. Telunjuk mengarah kepada vendor lama, yaitu kiostix yang bermasalah. Terpaksa INASGOC melakukan perpindahan vendor untuk penjualan tiket dari kiostix.com ke blibli.com, tiket.com dan loket.com.

"Saat ini dalam masa transisi, di satu lain kami menutup yang lama dan membuka penjualan tiket yang baru, kita harap setelah ini tidak akan ada lagi keluhan," kata Fancis seperti kami kutip dari Antara, Jumat (24/8) kemarin.

Penonton yang keburu membeli secara online, tidak perlu lagi menukarkan tiket elektroniknya menjadi tiket fisik. Cukup menunjukan tiket elektronik untuk langsung masuk ke arena. Penjualan secara daring ini juga dimaksudkan untuk mengurangi potensi calo yang mengintai.

Salah satu faktor yang membuat bangku terlihat kosong adalah banyak masyarakat khususnya masyarakat Indonesia yang hanya ingin menonton tim Indonesia saja. Padahal tiket yang dibelinya adalah tiket untuk keseluruhan pertandingan.

 

"Itu terlihat kosong karena penonton Indonesia hanya ingin melihat tim Indonesia saja, contoh pertandingan basket, padahal tiket yang mereka beli untuk empat pertandingan, tetapi tim Indonesia bermain pada pertandingan terakhir, akhirnya tiga pertandingan awal tidak terisi penonton, padahal tiketnya sudah dibeli," kata dia.

Untuk memberi pelayanan penuh kepada penonton, INASGOC juga mengurangi kapasitas kursi untuk penonton yang terakreditasi agar masyarakat memiliki kesempatan menonton pertandingan secara langsung.

"Selama ini ada 30 sampai 40 persen dari total kursi yang ada di venue untuk penonton yang terakrediatsi yaitu media, broadcaster, atlet, federasi juga tamu VVIP. Nah jumlah ini akan kita kurangi. Sesuai kesepakatan dengan OCA jumlah itu sekarang hanya menjadi 10 persen dari kapasitas," kata dia.

Panitia juga akan membatasi pembelian tiket pertandingan Asian Games sebagai antisipasi tiket tersebut diborong oleh calo. Untuk pembelian tiket daring, satu orang bisa membeli paling banyak lima tiket. Sedangkan di loket, satu orang hanya bisa membeli dua tiket.

Dia mengatakan pembelian tiket di loket, hanya untuk penjualan karcis H-2 pertandingan sedangkan jika ingin membeli tiket pertandingan jauh hari harus dilakukan melalui daring. Untuk pembelian dengan jumlah banyak, mereka memiliki mekanisme penjualan secara B2B, atau bisnis ke bisinis.

Rekomendasi