Ketahuan Tambang Uang Virtual, Kepsek di China Dipecat

Tim Editor

    Ilustrasi (Pixabay)

    Jakarta, era.id - Mata uang virtual (cryptocurrency) memang jadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang ingin menambah penghasilan. Cara untuk mendapatkan mata uang virtual itu pun tak terbilang mudah, bahkan bisa menguras kantong karena tagihan listrik yang membengkak. 

    Nah, baru-baru ini seorang kepala sekolah menengah atas di Hunan, China, dipecat lantaran ketahuan menambang mata uang virtual di sekolah. Akibat ulahnya itu, sekolah harus membayar tagihan listrik yang membengkak. 

    Sang kepala sekolah yakni, Lei Hua, sudah menjalankan aksi mining atau menambang mata uang virtual jenis Ethereum sejak Juni 2017. Kasus ini terungkap berkat kecurigaan beberapa guru, yang mendengar suara berdesing tiap pagi dan malam hari terlebih tagihan bulanan listrik sekolah yang membengkak hingga 14.700 yuan (sekitar Rp31 juta). 

    Dilansir dari South Morning Post, Senin (12/11/2018) Lei menghabiskan lebih dari 10 ribu yuan atau sekitar Rp 21,1 juta untuk membangun 'mesin tambang' uang virtual. Namun karena tak sanggup untuk membayar tagihan listrik untuk mengoperasikan mesin itu selama 24 jam tanpa henti.

    Lei memutuskan untuk memindahkan mesin tersebut ke sekolah. Di mana ia memanfaatkan daya listrik dan koneksi internet gratis yang sudah tersedia untuk menambang mata uang virtual. Tidak hanya itu, Lei bahkan menambah perangkat mesin tambangnya lagi dan memindahkannya ke laboraturium elektronik sekolah.


    Biar kalian tahu, penambangan cryptocurrency semacam Bitcoin dan Etherum memang membutuhkan konsumsi listrik yang besar. Pasalnya, komputer diharuskan terus menerus bekerja terus menerus untuk memproses validasi transaksi di jaringan cryptocurrency, sehingga penambang bisa mendapat imbalan berupa koin digital yang baru dibuat. 

    Dalam industri cryptocurrency, terutama jika dilakukan dalam skala besar. Semakin banyak mesin penambang, semakin besar konsumsi listrik yang diperlukan, sehingga kemungkinan menghimpun koin digital pun semakin tinggi.

    Pada kasus Lei, ia menghubungkan delapa alat penambang uang virtual di ruang komputer sekolah untuk dirinya sendiri. Lei bahkan mengajak koleganya Wang Zhipeng yang berprofesi sebagai wakil kepala sekolah juga melakukan hal serupa. 

    Wang bahkan ikut membeli sendiri mesin tambang uang digital dan menempatkannya juga di labotarium sekolah sejak Januari 2018. Dengan kesembilan mesin 'tambang' yang beroperasi 24 jam tanpa henti sudah barang tentu membuat listrik sekolah menjadi tidak stabil.

    Koneksi internet sekolah juga menjadi lambat untuk kegiatan belajar dan mengajar di kelas. Guru-guru lain di sekolah juga mulai mengeluhkan tentang suara yang bising di ruang kelas setiap malam hari dan kecepatan internet yang lambat. 
     


    Namun Lei menyangkalnya dan menyebut itu disebabkan karena masalah AC atau mesin pemanas. Tidak percaya begitu saja, para guru kemudian melakukan pencarian sumber masalah dan menemukan mesin tambang uang virtual milik Lei dan Wang.

    Gara-gara ulahnya, Hua dipecat pada Oktober lalu. Sementara itu, sang wakil kepala sekolah diberi peringatan keras, ditambah seluruh keuntungan dari operasi tambang uang virtual yang mereka lakukan juga turut disita.

    Tag: bitcoin chipset teknologi 7nm hari perempuan internasional

    Bagikan :