Mungkinkah Pekerjaan Jurnalis Tergantikan Robot?

Tim Editor

Layar Tangkap Ai News Anchor Xinhua TV (Sumber: Youtube)

Jakarta, era.id - Profesi pembaca berita atau news anchor perlu waspada dan berhati-hati. Siapa tahu profesi ini nantinya bisa digantikan robot.

Kantor berita resmi China, Xinhua, mulai mempekerjakan pembaca berita atau news anchor baru mereka dalam bentuk virtual yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

News anchor AI ini diklaim menjadi yang pertama di dunia dan bisa membawakan berita seperti penyiar profesional. Xinhua bekerja sama dengan Sogou, perusahaan mesin pencari di China, untuk mengembangkan sistem yang digunakan untuk menjalankan pembawa berita virtual ini.

"Halo, Anda melihat program berita bahasa Inggris. Saya akan bekerja tanpa lelah untuk membuat Anda tetap mendapat informasi karena teks akan diketik di sistem saya tanpa gangguan," kata penyiar itu, seperti dikutip dari South China Morning Post, Kamis (15/11/2018).

Xinhua mengatakan, penyiar berita virtual ini dapat bekerja 24 jam sehari di situs web dan media sosial. AI ini mampu membawa berita dalam dua bahasa, yakni Inggris dan China.
 


Teknologi juga memungkinkan Xinhua untuk menyebarkan laporan berita secara tepat waktu. Banyaknya keuntungan yang didapat bisa dimanfaatkan untuk mengurangi biaya produksi berita.

Sistem AI digunakan dalam suara sang penyiar, pergerakan bibir serta ekspresi wajah, yang didasarkan pada penampilan presenter manusia sungguhan. Namun demikian untuk saat ini, sang presenter masih belum terlihat sangat natural.

"Ini cukup sulit untuk ditonton lebih dari beberapa menit. Ini sangat datar, sangat cepat, tidak memiliki ritme, kecepatan, atau penekanan," kata Michael Wooldridge, akademisi di Oxford University seperti dilansir BBC.
 


Perkembangan AI dalam media jurnalis

Sebagaimana kalian tahu, teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) ternyata mulai sanggup menggantikan pekerjaan jurnalis manusia. Tak hanya Xinhua, media Arab berbahasa Inggris, Al Arabiya.net telah lebih dulu memperkenalkan robot yang berprofesi sebagai jurnalis, dan  diberi nama Tamara.

Tamara memiliki kemampuan untuk memindai 6 ribu website dan platform media sosial. Keahlian lain Tamara adalah mampu mendeteksi berita bohong atau hoax.

Mengenai analisa data, menurut Tamara, ia akan berfokus pada kepentingan audiensnya. Sedangkan tahap publikasi, robot ini menjelaskan dirinya akan bekerja sama dengan rekan kerjanya di Al Arabiya dalam menerbitkan laporannya.

"Saya dapat melakukan lebih banyak lagi. Saya dapat mengelola informasi dalam beberapa detik. Saya dapat melakukan pengumpulan data, analis, dan publikasi," ujar robot tersebut, seperti dikutip gulfnews.
 

Mundur beberapa tahun kebelakang, penggunaan robot sebagai penyusun berita bukan lagi hal baru, karena AI tidak lagi sekadar menjadi asisten bagi jurnalis dalam menyusun berita. Tapi juga dapat mengkurasi laporan dan data-data mentah lainnya.

Tak cuma itu, pada 2014 kantor berita Associated Press (AP), media ternama ini pun juga telah bekerjasama dengan Automated Insight, untuk penggunaan AI yang mampu mengubah data menjadi teks sederhana. Meski baru terbatas laporan keuangan. 

Namun berkat ini AP bisa memproduksi 4.400 laporan keuangan dalam waktu cepat. Termasuk juga Los Angeles Times, yang kini telah memanfaatkan robot untuk menulis berita tentang gempa bumi dan pembunuhan.

Dua tahun berselang, raksasa Washington Post menyusul dengan teknologi Heliograf, yang digunakan untuk memproduksi berbagai laporan singkat mengenai Olimpiade Rio de Janeiro. 

Di Indonesia, situs kurasi Beritagar juga sudah memulai menggunakan kemampuan AI dalam menulis rubrik artiklenya. AI bernama Robotorial mulai difungsikan pada 25 Februari 2018 dengan memfokuskan pada laporan hasil pertandingan sepak bola. Dasarnya, data yang muncul dalam pertandingan umumnya konsisten dan berupa pengulangan.

"Data hasil pertandingan dimaksud, juga merupakan fakta yang tak butuh verifikasi sehingga dapat disajikan apa adanya kepada Anda," tulis beritagar.id.

Terlepas dari itu, yang pasti jurnalis robot memang memiliki dua sisi. Ia mungkin saja bisa menjadi pembantu kerja penulisan. Di sisi lain ia juga bisa mengancam profesi jurnalis.

"Saya tidak yakin apakah jurnalisme masih jurnalistik tanpa reporter. Tapi akan ada banyak manfaat yang bisa dipelajari jurnalis untuk memperbaiki laporan mereka," kutip dari pengembang Wikimedia Foundation, Melody Kramer.

Tag: kecerdasan buatan chipset teknologi 7nm china hari perempuan internasional

Bagikan: