Menimbang Utang Pernikahan

Tim Editor

Ilustrasi (Mahesa/era.id)

Jakarta, era.id - Tingginya biaya pernikahan jadi momok buat banyak pasangan hari ini. Enggak semua memang. Masih ada juga yang meyakini pernikahan sebagai upacara sakral yang enggak melulu soal pesta berbiaya mahal. Tapi masalahnya, banyak masyarakat Indonesia yang meminjam uang untuk biaya nikah. Dan itu adalah fakta.

Tahun 2017, Google Indonesia melakukan survei untuk mencari tahu apa alasan masyarakat Indonesia mengajukan pinjaman uang. Hasilnya, lewat wawancara 501 pengguna internet berusia 18-60 tahun di Indonesia, Google menemukan fakta: 26 persen masyarakat meminjam uang untuk perubahan kehidupan sosial, termasuk pernikahan.

Industry Analyst Finance Google Indonesia, Yudhistira Adi Nugroho menjelaskan, survei dalam kurun waktu Februari hingga April 2017 ini menguak data, alasan terbanyak, yakni 36 persen masyarakat Indonesia meminjam karena kondisi darurat. Selanjutnya, 27 persen akibat promo-promo.

"27 persen responden mengajukan pinjaman karena ada promo, dan 26 persen mengajukan pinjaman karena life stage changes atau perubahan hidup, misalnya pernikahan," tutur Yudis sebagaimana ditulis Kompas.

Baim (28) barangkali salah satu dari 26 persen yang tertangkap survei Google. Kepada era.id, Baim yang berprofesi sebagai pekerja swasta di agensi periklanan di Jakarta mengungkapkan minatnya untuk menutupi kekurangan biaya pernikahannya tahun depan dengan uang pinjaman. Belum bulat memang berapa jumlah yang akan dipinjam, apalagi soal layanan pinjaman apa yang akan ia manfaatkan. Yang jelas, Baim dan kekasihnya Vinny telah hitung-hitungan dan sepakat meminjam.

"Pinjamlah. Biaya tinggi (soalnya). Tapi, gua dan Vinny hitung-hitungan, kok. Gua banyak ngobrol sama orang yang paham dan cari-cari informasi soal KTA (Kredit Tanpa Agunan) pernikahan ... Banyak bank yang sediain layanan ini, kok. Malah saking banyaknya, gua sampai bingung mau pilih yang mana. Tapi, worth it kok mudah-mudahan. Asal direncanakan dengan matang," tutur Baim kepada era.id beberapa waktu lalu.

Baim dan Vinny enggak punya banyak pilihan, apalagi waktu. Keduanya baru saja berpacaran empat bulan, hingga ayah Vinny meminta Baim untuk menikahi putrinya. Baim oke, meski kocek belum mencukupi. Tapi, mau bagaimana lagi. Ia harus maju atau enggak sama sekali. Meski artinya ia harus meminjam uang. Namun, Baim enggak akan kalap juga. Pinjaman uang ini ia ajukan hanya untuk menutupi kekurangan biaya pernikahan, bukan mendanai seluruh biaya pernikahan.

"(Ayah Vinny) sih sebenarnya sanggup untuk (membiayai) resepsi. Tapi, enggak mungkin kan gua diam saja ... Gua juga mengerem, kok. Pinjaman ini enggak akan banyak. Gua batasi di angka 20 (juta). Karena sejak awal ini memang rencana (meminjam) cuma untuk menutupi kekurangan biaya, bukan untuk mendanai seluruh biaya pernikahan,"kata Baim.

Hitung-hitungan

Langkah yang diambil Baim sejatinya sudah cukup baik. Sebab, ada satu peraturan enggak tertulis yang amat mendasar dalam peminjaman uang untuk biaya pernikahan: pinjaman hanya boleh untuk menutupi kekurangan biaya, bukan memenuhi seluruh biaya.

Lagipula, sejatinya belum ada juga sih bank yang betul-betul membuka layanan pinjaman untuk pernikahan. Biasanya, pasangan-pasangan yang hendak mengajukan pinjaman untuk biaya pernikahan akan memanfaatkan layanan KTA, yakni layanan peminjaman uang tanpa jaminan.

Bentuk pinjamannya pun bebas, dapat digunakan untuk keperluan apapun termasuk membiayai pesta pernikahan. Selain itu, nilai pinjaman KTA pun cukup tinggi, antara Rp10 juta sampai Rp250 juta.

Meski menggiurkan, jangan lupakan sejumlah hal yang perlu kamu perhatikan sebelum mengajukan pinjaman. Dilansir dari cermati.com, hal pertama yang perlu dilakukan adalah survei layanan KTA. Hal ini penting mengingat setiap bank memiliki kekurangan dan kelebihan dalam layanan KTA-nya. Intinya, cari saja bank yang memberikan suku bunga pinjaman KTA yang paling rendah.

Selanjutnya, ambil pinjaman dengan nilai kecil dan jangka waktu pendek. Selain itu, jangan tutupi cicilan dengan kartu kredit. Bukan apa- apa, masa iya menutup utang dengan utang? Syarat lain, jangan pernah melewati batas waktu pembayaran alias nuggak. Ini penting untuk menghindari black list Bank Indonesia (BI).

Jadi, ingat kawan, jangan sampai pesta pernikahanmu membuyarkan rencana-rencana lain yang lebih penting di waktu mendatang.

Tag: era-nya nikah milenial

Bagikan: