Di China, Gaji Pemain Sepak Bola Dibatasi Rp21 Miliar Setahun

| 21 Dec 2018 11:10
Di China, Gaji Pemain Sepak Bola Dibatasi Rp21 Miliar Setahun
Ilustrasi (Pixabay)
Beijing, era.id  - Asosiasi Sepak Bola China (CFA) mengeluarkan aturan pembatasan gaji pemain lokal paling tinggi sebesar 10 juta RMB (renmimbi atau yuan) atau Rp21 miliar per tahun. (kurs 1 RMB = Rp2.100)

Jika klub atau tim yang melanggar aturan yang dikenal dengan istilah kontrak 'yin-yang' tersebut, maka CFA akan mencoret klub atau tim yang bersangkutan. Aturan tegas tersebut bagian dari upaya CFA membatasi pengeluaran keuangan tim sepak bola setempat.

Dilansir dari Antara, Jumat (21/12/2018), dalam regulasi tersebut juga terdapat pembatasan bonus dan insentif lainnya kepada para pemain lokal. 

Namun, para pemain asing yang akan berlaga pada musim kompetisi baru Liga Super China (CSL) mulai musim semi nanti tidak terkena dampak regulasi pembatasan gaji atau salary cap itu.

Kebijakan lain adalah setiap tim harus menandatangani kontrak bersama pemain dan pelatih pada akhir tahun.

Kontrak yang meliputi pajak pemain dan kesepakatan nilai kontrak harus sesuai dengan aturan persepakbolaan dan bisnis pertunjukan di China.

Jika pemain atau pelatih tidak memenuhi skema pajak CFA, maka akan dikenai larangan melakukan aktivitas persepakbolaan di daratan Tiongkok selama satu hingga tiga tahun. Klub juga akan dicoret dari keikutsertaannya di kompetisi CSL.

Dua tahun lalu, gelandang serang asal Brasil Oscar hengkang dari Chelsea untuk bergabung dengan klub anggota CSL Shanghai SIPG dengan nilai kontrak 60 juta euro yang merupakan rekor di Asia.

Pada saat itu juga, klub rival SIPG, Shanghai Shenhua menandatangani kontrak dengan penyerang asal Argentina Carlos Tevez dengan nilai yang sama hingga mengguncang jagat persepakbolaan dunia.

Kedatangan dua pemain mahal tersebut bersamaan dengan puluhan bintang Brazil lainnya, termasuk Paulinho, membuat klub-klub di China dilanda kekhawatiran akan distorsi pasar transfer internasional yang membubung tinggi.

Lalu CFA menghentikan penghamburan uang itu dan memaksa klub untuk berkonsentrasi pada pengembangan pemain muda. Dengan demikian maka bursa transfer yang mulai dibuka pada 1 Januari 2019 kelihatannya tidak akan ada lagi klub yang "jor-joran" belanja pemain.

"Kami belajar dari pengalaman liga-liga di negara maju dalam merancang kebijakan untuk mengendalikann nilai kontrak, bonus, transfer, dan persoalan lain," kata Wakil Ketua CFA Li Yuyi.

Menurut dia, jika hanya mengandalkan investasi tanpa memikirkan dampak jangka panjang, maka persepakbolaan di China tidak akan maju.

"Perusahaan selaku pemilik klub harus bisa memahami kenapa berinvestasi, apa yang mereka dapatkan dan apa pula kontribusi mereka kepada masyarakat," ujarnya.

Dibandingkan dengan cabang olahraga lain di China, sepak bola miskin prestasi. Bahkan untuk tingkat Asia, tim nasional China masih tertinggal.

Dalam tiga tahun terakhir, pemerintah China terus membangun fasilitas sepak bola, termasuk ribuan unit sekolah sepak bola mulai usia dini hingga junior.

Rekomendasi