Dampak Buruk Kawin Kontrak: Prostitusi Berkedok Agama

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Praktik kawin kontrak belakangan menjadi sorotan media seiring penggebrekan tujuh Warga Negara Tiongkok di Pontianak Selatan oleh Polda Kalimantan Barat beberapa waktu lalu.

Para pakar terutama psikolog keluarga coba menganalisa dampak buruk praktik yang sejatinya dilarang Mahkamah Agung (MA) sejak tahun 2016 ini. MA tegas bilang, kawin kontrak sebagai prostitusi terselubung mengatasnamakan agama.

Psikolog Keluarga dan Pernikahan dari Rumah Dandelion, Nadya Pramesrani menampik manfaat kawin kontrak khususnya bagi perempuan.

"Buat apa? Balik lagi, tujuan menikah untuk apa. Kalau hanya dua tahun tiga tahun buat apa. Apa untungnya untuk seseorang, apalagi perempuan. Setelah dua tahun dia hamil, setelah itu gimana?" ujar Nadya Pramesrani seperti dikutip Antara.

Menurut Nadya, pernikahan bertujuan antara lain membangun keluarga bahagia dan memiliki keturunan yang sejalan dengan pernyataan dalam UU Perkawinan. Kawin kontrak bukan solusi mencapai tujuan itu karena tidak ada masa depan dari hubungan tersebut.


Infografik (era.id)

"Karena, kembali pada namanya kawin kontrak itu kawin dalam waktu tertentu yang setelah periode tertentu itu selesai begitu saja," kata dia.

Nadya mengungkapkan, alasan ekonomi menjadi pemicu orang-orang melakukan kawin kontrak. Dia belum pernah menemukan ada pelaku kawin kontrak yang mengungkapkan alasan lain, semisal ibadah.

Dia juga mengaitkan praktik ini dengan perdagangan orang dan prostitusi yang hulunya alasan ekonomi.

"Tetapi ada juga yang memilih berprofesi seperti itu (PSK) tetapi mengatakan mereka diperdagangkan. Ketika bilang diperdagangkan mereka menjadi korban. Ada juga banyak yang memang diperdagangkan," tutur Nadya.

Pratiknya, kawin kontrak di Indonesia banyak dilakukan pria pendatang dengan perempuan lokal. Padahal Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise telah melarang praktik kawin kontrak karena termasuk bentuk eksploitasi terhadap kaum perempuan.

Tag: era-nya nikah milenial

Bagikan: