Variasi Cerita Horor Kuntilanak 2 yang Duduki Box Office Indonesia

Tim Editor

Layar tangkap film Kuntilanak 2 (Youtube)

Jakarta, era.id - Liburan lebaran lalu menjadi momen yang tepat bagi rumah produksi dalam merilis film garapannya. Mulai dari film anak, komedi, action, dan beberapa genre lainnya. Termasuk film horror yang diwakili oleh Kuntilanak 2 dan Ghost Writer. Namun dari dua horror tersebut (termasuk film bergenre lain) hanya Kuntilanak 2 yang meraih jumlah penonton terbanyak yang mencapai 1.726.516 penonton. Bahkan menjadi film dengan jumlah penonton terbanyak ketiga di tahun 2019 ini. 

Salah satu indikasi yang membuat film ini menjadi buah bibir dan menarik jumlah penonton adalah variasi subgenre baru yang digunakan dalam film ini. Ada sentuhan lain yang tidak sekedar menyajikan teror urban legend semata. Seperti yang dituturkan oleh sang sutradara Rizal Mantovani kepada era.id, ia dan tim produksi mencoba memakai subgenre cabin in the wood, dalam hal ini sebuah pondok kayu dalam hutan. 

"Khan sub genre horror itu banyak. Ada haunted house, exorcism, slasher, dan lainnya. Nah, cabin in the wood ini berfokus pada sebuah pondokan di tengah hutan. Kebetulan belum pernah ada yang buat dengan subgenre ini. Jadi kita coba," ujar Rizal kepada era.id. 

Meski beresiko karena belum pernah ada yang mencoba di Indonesia, namun Rizal dan tim produksi bisa mengemasnya dengan baik. Kombinasi subgenre tersebut dengan urban legend yang dekat dengan masyarakat seperti Kuntilanak membuat penonton Indonesia berbondong-bondong ke bioskop. 

"Saat diputuskan akan membuat kedua, saya sempat mikir cerita film kedua ini akan seperti apa. Terus saya ingat, wah bisa nih cabin in the wood."

"Setelah ketemu genrenya, baru mikirin gimana ceritanya bisa disambungin dari cerita pertamanya. Di film pertama kan selesai Dinda keluar dari terror Kuntilanak. Saat itu kan karakter Dinda belum ketemu ibunya. Nah, di film keduanya kita buat karakter Dinda bertemu ibunya di sebuah rumah kayu di tengah hutan."


Sutradara flim Kuntilanak 2, Rizal Mantovani (Maretien/era.id)

Apa itu Cabin In The Wood?

Seperti yang sudah dituturkan sebelumnya oleh Rizal Mantovani, cabin in the wood merupakan salah satu jenis cerita horror di antara jenis yang ada. Ceritanya terfokus kepada sebuah kabin yang terisolasi dari dunia luar di tengah hutan. 

"Ini berbeda dengan haunted house (rumah hantu). Karena cabin in the wood harus rumahnya dari kayu dan tinggalnya di dalam hutan. Sedangkan rumah berhantu itu bisa lokasinya di mana aja. Di pinggiran atau tengah kota, atau bisa juga samping rumah kita," jelas Rizal lebih jauh. 

Salah satu contoh film bertema serupa menurut Rizal adalah film garapan Sam Raimi berjudul The Evil Dead yang dirilis 1981 silam. Film bisa dikatakan sebagai pelopor yang kemudian banyak diikuti. Film ini bercerita tentang lima anak muda yang pergi ke sebuah hutan dan menemukan sebuah pondokan tua dari kayu yang tak diketahui siapa pemiliknya. Saat memutuskan untuk menginap di pondok itu, mereka menemukan sebuah tape rekaman misterius, di mana orang yang mendengarkan rekaman itu didatangi atau dirasuki roh jahat. 

Yang menjadi pembeda adalah unsur misteri dari subgenre tersebut. Sutradara serta penulis skenario akan membuat banyak tanda tanya yang membuat penonton penasaran. 

"Misteri di sini adalah mengapa bisa ada rumah itu di tengah hutan seperti itu. Lalu siapa pemiliknya atau siapa yang membuatnya. Serta apa yang ada di dalamnya. Pertanyaan seperti itu yang membangkitkan curiosity. Di horror pun bisa ada unsur misteri yang perlu diungkapkan, tidak hanya terror dari sesuatu yang seram," jelas Rizal. 

Dengan mengadopsi subgenre cabin in the wood tersebut, Kuntilanak 2 menjadi sebuah tontonan yang memikat dan segar bagi penonton Indonesia. Pencapaian ini melebihi dengan hasil yang didapat pada film pertamanya yang kebetulan juga ditayangkan di liburan lebaran tahun lalu. Sehingga wajar saja pihak MVP Pictures beserta sang sutradara Rizal Mantovani bersyukur dengan pencapaian film ini. 

"Senang sekali film ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat penonton film. Walaupun beresiko ternyata membuahkan hasil dalam upaya kami untuk menghadirkan sesuatu yang baru di film Indonesia," tutup Rizal.

Film ini diperankan oleh Sandrinna Skornicki, Maxime Bouttier, Karina Suwandi, Teuku Rifku Wakana, dan beberapa aktor dan aktris lainnya. 
 

Tag: hari film nasional 2018 film indonesia

Bagikan: