Kematian Sulli Kembali Ungkap Sisi Gelap Panggung K-Pop

Tim Editor

    Sulli. (Instagram)

    Jakarta, era.id - Kabar duka kembali datang dari jagat hiburan Korea Selatan. Mantan personil f(x) Choi Jinri alias Sulli ditemukan tewas di kediamannya. Belum diketahui pasti penyebab kematian perempuan berusia 25 tahun ini. 

    Dikutip dari Korean Herald, penyanyi sekaligus aktris ini ditemukan manajernya tewas di rumah Sulli di Seongnam Sujeong, provinsi Gyeonggi, Korea Selatan, pukul 03.21 waktu setempat, Senin (14/10/2019).

    "Terakhir kali saya berbicara dengan Sulli malam sebelumnya sekitar 18.30. Saya belum mendengar kabar darinya sejak itu, jadi saya datang dan menemukan dia sudah mati," kata manajernya seperti dikutip Metro.

    Padahal, sehari sebelumnya Sulli melakukan syuting CF untuk merek tas mini Stretchangekls di Gwanggyo, Suwon. Ia bahkan memposting video tas yang ia terima di Instagram miliknya. Kabar kematian Sulli ini langsung menjadi trending topic di Twitter. Warganet ramai-ramai menyampaikan belasungkawa.
     

    Polisi sedang menyelidiki apakah Sulli meninggalkan surat wasiat yang menyatakan melakukan bunuh diri. Polisi juga akan menginvestigasi detail kejadian memilukan ini. "Tampaknya ia tinggal sendirian di rumah, dan sepertinya ini kasus bunuh diri tapi kita akan terus melakukan penyelidikan," ujar seorang pejabat kepolisian.

    Sulli memulai debutnya di dunia hiburan Korea Selatan pada tahun 2005 sebagai aktris cilik dalam sebuah drama televisi. Pada 2009, ia bergabung bersama f(x). Namun, pada tahun 2014, ia diketahui absen dari panggung hiburan karena kerap menerima bully dan rumor kebencian dari para netizen di akun media sosialnya. Ketika kembali, ia memilih untuk akting dan meninggalkan girl bandnya. 

    Baca Juga: Di Korsel Ada Jasa 'Paman Sangar' buat Cegah Bully

    Tren bunuh diri di Korea Selatan

    Tewasnya Sulli ini menjadi satu di antara banyaknya idol Korea Selatan yang memutuskan untuk mengakhiri hidup. Menurut manajer, Sulli menderita depresi berat. Kematian Sulli kembali membuka tabir gilanya tekanan di industri hiburan Korea Selatan di balik gemerlap yang kita lihat di layar kaca. Perkara pelecehan seksual, tekanan karier, hingga buruknya hubungan dengan manajemen disebut-sebut jadi penyebab banyaknya artis depresi di Korea Selatan.

    Sebut saja Jang Ja Yeon, ia dilaporkan bunuh diri pada 2009 karena menerima pelecahan seksual usai dipaksa melayani 31 pria oleh manajemennya. Kebijakan agensi yang semena-mena juga telah membuat Sojin dari KARA melakukan bunuh diri. Ia depresi setelah kontraknya diputus sepihak oleh agensinya. 

    Gemerlap K-Pop memang menyilaukan. Panggung yang dibangun dengan banyak tata lampu memudarkan sisi belakang panggung dalam kegelapan. Semua bisa lihat keindahan yang ditampilkan di atas panggung. Namun, tak semua mau melihat apa yang sejatinya terjadi pada para penghibur yang mereka cinta dan gandrungi.
     

    Tren bunuh di Korea Selatan telah menjadi perbincangan. Dalam data yang dirilis oleh World Population Review 2019. Korea Selatan menjadi lima negara teratas di dunia dan pertama di Asia dengan kasus bunuh diri mencapai 26,9 persen, termasuk dalam kalangan para aktris. 

    Angka bunuh diri di Korea Selatan merupakan yang tertinggi. Kasus bunuh diri paling banyak dialami oleh anak muda. 45 persen orang berusia 13 dan 24 mengatakan, mereka stres karena pekerjaan dan sekolah. Di usia ini mereka juga khawatir terhadap masa depan mereka, diikuti oleh kinerja akademik dan penampilan fisik, demikian menurut Statistik Korea.

    Kata WHO, salah satu faktor tingginya bunuh diri pada anak muda karena tekanan terlampau besar dari orang tua untuk berhasil secara akademis. Ketika mereka tak bisa memenuhi keinginan orang tua, anak muda ini merasa mereka telah mempermalukan keluarga. Gemar mengonsumsi alkohol, kurang tidur, stres, dan retannya hubungan sosial yang buruk menjadi faktor pendukung anak muda memutuskan untuk bunuh diri.


    Infografis (Retno Ayuningtyas/era.id)

    Baca Juga: Diet Ekstrem Idol K-Pop di Balik Tren Korean Wave

    Berbagai cara dilakukan oleh pemerintah Korea Selatan untuk mengekang epidemi bunuh diri. Salah satunya dengan meningkatkan akses ke perawatan kesehatan mental, karena 90 persen dari korban bunuh diri memiliki kondisi masalah dengan kesehatan mental mereka. 

    Merujuk riset yang dikeluarkan Departemen Kesehatan Keluarga di Hallym University, sekitar 60 persen orang yang berusaha melakukan percobaan bunuh diri menderita depresi, demikian dikutip New York Times.  Sementara itu, menurut Barkeley Political Review yang mengutip Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea mengatakan, 90 orang yang melakukan bunuh diri pada tahun 2016 didiagnosis memiliki gangguan metal, termasuk depresi, dan kecemasan.

    Data dari Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan tadi juga menemukan, dari 90 persen orang yang mengalami gangguan mental dan melakukan bunuh diri, hanya 15 persen saja yang pernah menerima perawatan dalam bentuk apa pun.

    Kim Eo-su, seorang profesor psikiatri di Yonsei Severance Hospital mengatakan, satu dari tiga pasien depresi berhenti di tengah-tengah perawatan. Salah satu masalah terbesar adalah, banyak pasien yang merasa, mereka bisa mengatasi depresinya sendiri. 

    Tag: korea selatan hari pencegahan bunuh diri

    Bagikan :