Pola Hidup Tak Sehat Bisa Bikin Milenial Terkena Strok

Tim Editor

    Ilustrasi (VSRao/Pixabay)

    Bandung, era.id – Pola hidup yang tidak sehat menyebabkan penyakit strok tidak lagi menyerang pasien dengan usia lanjut. Pihak medis mencatat kecenderungan penyakit strok menyerang usia lebih muda atau di bawah 60 tahun.

    Strok sendiri diartikan sebagai penyakit di mana terjadi sumbatan di pembuluh darah ke otak. Selain itu, pendarahan di otak juga menimbulkan strok.

    Dampak dari strok ini beragam, mulai gangguan bicara, ingatan, kelumpuhan anggota badan, sampai menurunnya kesadaran. Namun penyakit strok tidak bisa berdiri sendiri, ada faktor lain yang memicunya.

    "Strok sebenarnya didiagnosis sebagai penyakit yang tidak bisa berdiri sendiri. Jadi harus ada penyebab atau faktor risikonya," kata dr Lisda Amalia Sp.S (K), saat dihubungi, baru-baru ini.

    Faktor pemicu strok yang utama ialah darah tinggi atau hipertensi, kemudian diabetes atau kencing manis, kolesterol, gangguan jantung, dan keturunan atau genetik.

    Baca Juga : Cegah Risiko Penyakit Jantung dengan Konsumsi Makanan Berserat

    Hanya saja, Kepala Subdivisi Cerebrovaskular Disease (Strok) Departemen Neurologi RSUP dr Hasan Sadikin Bandung/FK Universitas Padjadjaran tersebut bilang, soal genetik tersebut menyumbang 20 persen terjadinya strok. Faktor gaya hidup mendorong yang 20 persen tersebut menjadi 100 persen.

    "Pola hidup kita mengubah strok yang tadinya menyerang usia 60 tahun ke atas, bergeser proporsinya ke 40an, bahkan 30an itu bisa kena strok, karena pola hidup," kata dr Lisda.

    Pola hidup seperti apa yang membuat penyakit mematikan nomor tiga di dunia ini cenderung menyerang usia muda? Lisda menuturkan, gaya hidup yang bisa mempercepat terjadinya strok adalah makanan.

    Baca Juga : Kebutaan Jadi Peringatan Serius soal Konsumsi Junk Food

    Makanan yang tidak sehat dapat memicu terjadinya hipertensi, diabetes dan kolesterol yang merupakan pemicu strok. Dewasa ini, kata Lisda, orang lebih suka mengonsumsi makanan yang tinggi garam, gorengan, makanan cepat saji (fast food).


    Ilustrasi (Marcel Gnauk/Pixabay)

    Sementara makanan rendah lemak dan serat seperti sayuran dan buah-buahan cenderung kurang disukai. Hal ini ditambah kurangnya aktivitas olahraga yang sebenarnya berfungsi membakar lemak.

    Selain itu, di tengah kesibukan aktivitas kerja, orang cenderung lebih mudah stres. Padahal stres merupakan penyebab hipertensi. "Antisipasinya tentu saja dengan mengurangi faktor yang menyebabkan strok," tandas Lisda.

    Ia menyarankan agar menjaga pola makan. Misalnya dalam mengantisipasi hipertensi, diperlukan pengendalian konsumsi garam yang tidak boleh lebih dari 2,3 gram per hari.

    Untuk diabetes, perlu dilakukan kontrol terhadap makanan yang memiliki kandungan karbohidrat yang akan meningkatkan kadar gula darah. “Prinsipnya, makanan tidak terlalu berlebihan,” kata Lisda.

    Baca Juga : Tujuh Kegiatan yang Dilarang Sebelum Tidur

    Ia menyarankan menghindari makanan yang mengandung penyedap rasa. Dalam makanan tersebut terdapat gabungan garam dan penyedap. Hal ini membuat komposisi garamnya meningkat.

    "Kurangi makanan yang digoreng, jangan terlalu banyak, kalau beli daging jangan beli daging yang banyak mengandung lemak jenuh seperti tetelan, dan lebih banyak makan sayur," tutupnya.

    Tag: wabah penyakit kesehatan

    Bagikan :