Virus Korona yang Selalu Bermutasi

Tim Editor

Iustrasi (Freepik)

Jakarta,era.id - Para ilmuwan telah menemukan enam virus korona jenis baru yang bersemayam di tubuh kelelawar di Myanmar. Virus korona baru tersebut masih satu keluarga dengan virus SARS-CoV-2 yang saat ini tengah mewabah di seluruh dunia.

Secara genetik virus-virus ini punya perbedaan signifikan, baik SARS-CoV-2 ataupun dua virus korona yang menyebabkan infeksi, yaitu SARS dan MERS. Mereka terus bermutasi dan mempebarui diri.

Seperti dilansir dari Live Science, Senin (14/4/2020), para peneliti menemukan enam virus ketika meneliti kelelawar di Myanmar dalam program pemerintah yang dinamakan PREDICT.

Kelelawar menjadi inang bagi virus korona sebelum menginfeksi manusia. SARS-CoV-2 juga diperkirakan berasal dari kelelawar dengan kemungkinan besar ditularkan terlebih dahulu ke hewan lain sebagai perantara, yang kemudian ditularkan ke manusia.

Para ilmuwan mengumpulkan ratusan sampel air liur dan guano (kotoran kelelawar) dari 464 kelelawar dari setidaknya 11 spesies berbeda selama empat tahun belakangan. Mereka mengambil sampel di tiga lokasi di Myanmar, di mana ada kontak manusia dengan kelelawar.

"Dua dari lokasi ini adalah gua yang populer di mana orang-orang secara rutin berkontak dengan kelelawar melalui panen guano, praktik keagamaan, dan ekowisata," tulis para peneliti dalam studi yang diterbitkan di jurnal PLUS ONE pada 9 April 2020.

Peneliti kemudian menganalisis urutan genetik dari sampel-sampel yang sudah didapat, dan membandingkannya dengan genom virus korona yang sudah diketahui sebelumnya. Hasilnya, virus korona baru ditemukan pada tiga spesies kelelawar

Pertama adalah kelelawar kuning Asia (Scotophilus heathii), sebagai inang dari virus PREDICT-CoV-90. Kedua, kelelawar berekor bebas keriput (Chaerephon plicatus), yang menjadi rumah bagi virus PREDICT-CoV-47 dan PREDICT-CoV-82. Terakhir pada kelelawar hidung daun Horsfield (Hipposideros larvatus), yang membawa PREDICT-CoV-92, PREDICT-CoV-93 dan PREDICT-CoV-96.

Para ilmuwan mengatakan kontak antara manusia dan satwa liar menjadi semakin lazim. Seperti, COVID-19 disebabkan oleh interaksi kontak manusia dengan hewan-hewan tersebut. Diharapkan dengan penelitian virus korona yang selalu bermutasi ini, tak ada lagi pandemik dan bisa diatasi lebih dini.

"Di seluruh dunia, manusia berinteraksi dengan satwa liar dengan frekuensi yang semakin meningkat. Jadi semakin kita mengerti tentang virus ini pada hewan, kemungkinan mereka bermutasi dan menyebarkan ke spesies lain. Semakin baik kita dapat mengurangi potensi pandemik mereka," ujar Marc Valitutto, pemimpin penulis penelitian dan mantan dokter hewan satwa liar di Smithsonian's Global Health Program.

Tag: flora dan fauna

Bagikan: