Dari Mana Munculnya Istilah Kids Zaman Now?

Tim Editor

Ilustrasi generasi muda (SASINT/pixabay.com)

Jakarta, era.id - Warganet pasti sudah tidak asing dengan istilah "kids zaman now", telolet, terciduk, dan sederet kata populer lainnya yang populer belakangan ini di jagat maya. Sebagian mungkin bertanya-tanya dari mana istilah-istilah tersebut berasal.

Benarkah kata tersebut diciptakan millenials?

Muhammad Faisal, peneliti budaya remaja Indonesia menyatakan, kata tersebut justru diciptakan generasi X untuk mencibir generasi millenials.

"Fenomena ini sama dengan istilah alay. Istilah alay tidak datang dari masyarakat menengah ke bawah. Tapi justru datang dari kelas menengah atas untuk mengejek kelas bawah," ujar Faisal, saat ditemui di acara Artotel Weeks, Kota Tua, Jakarta, Kamis (9/11/2017).

Terminologi kids zaman now itu justru merupakan sindiran dari generasi X yang merasa karakteristiknya jauh berbeda dengan kids zaman now yang merujuk pada millenials.

Ironisnya, kata tersebut justru dengan bangga digunakan anak millenials agar terlihat "gaul".

"Menurutku, apa ya, ya itu kayak kekinian gitu. Ya artinya anak muda yang pengin ngikutin tren lah," kata Indhi, millenials yang diwawancarai era.id.

Selain Indhi, masih banyak millenials lain yang menganggap istilah tersebut memang diciptakan generasi millenials, tetapi untuk menyindir sesamanya.

"Ya itu dari millenials, buat anak-anak sekarang yang ngikut arus. Tapi sifatnya satir gitu sih," ucap Lingga, narasumber lainnya.

Menurut Faisal, salah satu karakteristik millenials adalah tidak pernah melabeli diri sehingga dia yakin istilah kids zaman now tidak berasal dari generasi millenials.

"Millenials itu tidak mendefinisikan dirinya. Mereka itu identitasnya fluid (cair), dan lebih suka sesuatu yang abu-abu," tegas laki-laki yang sudah 10 tahun terjun ke dunia penelitian remaja.

Faisal melihat generasi millenials ini sebagai sekelompok anak muda yang suka mendobrak status quo dan tidak menyukai keteraturan. Ketidakteraturan inilah yang kemudian disindir oleh generasi sebelumnya.

"Kalau generasi sebelumnya serba teratur, serba dicekoki, didoktrin, sama pemerintah, sama orangtua. Kalau millenials mereka bergerak sendiri, tidak ada indoktrinasi. Tapi kelemahannya, menjadi late bloom (terlambat dewasa)." tutup Faisal.

 

Bagikan: