Eksistensi Kekal, Jangan Asal Viral

Tim Editor

Ilustrasi (iyus/era.id)

Jakarta, era.id - Menjaga eksistensi di dunia musik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada proses panjang dan pengorbanan. Dari tetesan keringat, air mata, hingga (kadang) darah.

Kebersamaan yang terjalin dengan penuh pengorbanan seperti ini biasanya mampu menempa karakter seorang artis. Hasilnya, karier mereka menjulang tinggi dan bertahan lama. Sebaliknya, jika karier seseorang terbentuk secara instan, bukan tidak mungkin hanya 'numpang lewat'.

Kita ambil contoh Slank. Band rock asal Gang Potlot ini terbentuk pada 1983 dan mengalami bongkar pasang formasi lebih dari 10 kali.

Evolusi dalam tubuh Slank berlangsung sejak kali pertama terbentuk hingga masuknya sang vokalis, Kaka, pada 1989 di formasi ke-13. Slank adalah pendobrak, ketika orang-orang takut membawakan lagu sendiri dan jenuh dengan musik pop, Slank muncul dengan gaya 'slengean' lewat balutan musik rock mengentak. 

Eksistensi Slank di atas panggung tergurat saat formasi pertama band ini:  Erwan (vokal), Bongky (gitar), Kiki (gitar), Bimbim (drum), dan Denny (bass) tampil perdana di Universitas Nasional (UNAS) Jakarta pada 1983. Saat itu, penampilan mereka terbilang mengecewakan dan kalah pamor dari grup musik Marara pimpinan Adi Adrian KLA Project.

Mereka lalu ambil bagian di kompetisi band KMSS di Istora Senayan, Jakarta. Tapi mereka juga belum mampu menjadi yang terbaik lantaran kalah dari band Surabaya, Grassrock.

Namun Slank tidak patah arang. Bimbim dkk berusaha menerjang karang terjal yang menghalangi langkahnya. Hasilnya, band yang sekarang digawangi Kaka (vokal), Bimbim (drum), Ivanka (bass), Ridho (gitar), dan Abdee (gitar) ini mampu melahirkan 22 album penuh dan sejumlah album mini serta album live.

Baca Juga : Artis Terkenal Kemudian Tanggal

Selain Slank, band yang tidak kalah melegenda adalah God Bless. Band bentukan Achmad Albar (vokal), Ludwig Lemans (gitar), Donny Fattah (bass), Yockie Suryo Prayogo (kibord) dan Fuad Hasan (drum) ini didirikan pada 1973. Sepanjang perjalanan kariernya, mereka juga mengalami bongkar pasang personel.

Tapi fenomena pergantian pemain seperti ini lazim terjadi pada pertumbuhan band rock periode ’70an hingga ‘80an. Dalam konteks perjalanan karier God Bless, tradisi ini berkontribusi dalam memperkuat karakter musik sekaligus menaikkan pamor.

Selama lebih dari empat dekade God Bless konsisten memainkan genre hard rock dan berhasil mencetak sejumlah hit. Di antaranya Huma di Atas Bukit, She Passed Away, Balada Sejuta Wajah, Musisi, Kehidupan, Semut Hitam, Rumah Kita, Raksasa dan banyak lagi. Mereka bahkan mendapat kepercayaan menjadi band pembuka Deep Purple dan Suzi Quatro pada 1975. Hingga 2017, telah menghasilkan tujuh album penuh dan tiga kompilasi.

Beda zaman, beda kelakuan. Di era teknologi seperti sekarang informasi berkembang pesat dan popularitas menjadi semakin mudah terwujud. Fenomena 'viral' misalnya, membuat orang terkenal semudah menjentikkan jari. 

Norman Kamaru misalnya, mantan polisi asal Gorontalo mendadak tenar ketika videonya tersebar lewat media YouTube ketika memperagakan tarian dari lagu artis India, Shakh Rukh Khan yang berjudul Chaiyya-Chaiyya. Ada juga Shinta dan Jojo yang memarodikan lagu Keong Racun dan kisah populer sesaat Arya Wiguna dengan jargonnya yang viral 'Demi Tuhan'.

Namun, fenomena instan ini berbanding lurus dengan durasi eksistensi para pelakunya. Kabarnya, saat ini Norman Kamaru menjadi pedagang bubur Manado di daerah Jakarta. Shinta dan Jojo? Lebih sulit lagi mencari info tentang mereka, sama sulitnya dengan mengikuti kisah hidup Arya Wiguna di masa kini.

Tidak hanya karena media sosial. Ketika Indonesia dilanda demam musik melayu pada pertengahan era 2000an, band yang pertama kali melejit lewat genre musik ini adalah Kangen Band yang lantas diikuti oleh band-band lain. Kini, mereka hilang ditelan zaman.

Ketika pangsa pasar musik melayu meredup dan digantikan gelombang K-Pop, sejumlah boyband dan girlband juga ikut bermunculan di Indonesia. Salah satu yang paling booming adalah SM*SH (Seven Man as Seven Heroes) pada 2010 lewat single pertamanya I Heart You.

Lalu muncul XO-IX, HITZ, 7icons, Max 5, dan lainnya. Namun lagi-lagi nama mereka hanya sesaat. Kini, hampir tidak terdengar lagi gaungnya. Terbukti, semua yang muncul atas nama tren itu tidak akan abadi. Semua terseleksi satu persatu dan hilang entah ke mana. Mereka lupa, kesuksesan hanyalah akhir dari seluruh upaya yang kita lakukan. Bagaimana pun, kita tidak boleh melupakan sebuah proses.

Jadi ingat kata-kata yang diucapkan gitaris Slank, Ridho Hafiedz, kepada salah satu wartawan era.id beberapa waktu lalu.

"Jika ada produser atau label rekaman yang minta gue bikin lagu komersil, gue mau-mau saja. Tapi, berkompromi untuk bikin lagu komersil yang setipe seperti tren saat itu? No way! Yang gue tahu bikin lagu bagus itu dari alam bawah sadar kita. Dari hati. Bukannya ikut-ikutan,” tandasnya.

Setiap orang memiliki pendapat masing-masing. Mereka juga berhak menentukan pilihannya. Jadi, masih mau jadi musisi instan? 

Tag: era budaya instan

Bagikan: