Di Pertemuan ASEAN-China, Menlu RI Tegaskan Anut Kebijakan 'One China Policy' yang Tak Akui Taiwan Sebagai Negara

| 04 Aug 2022 14:17
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (Antara)

ERA.id - Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan China harus bekerja lebih keras agar dapat berkontribusi bagi perdamaian dan stabilitas di kawasan, kata Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi, Kamis (4/8/2022) dikutip dari Antara.

Dia mengatakan hal itu dalam pertemuan tingkat menteri ASEAN-China yang diselenggarakan di Phnom Penh, Kamboja, seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya.

"Kemitraan ASEAN-China harus dapat berkontribusi untuk menangani tantangan dunia saat ini dengan tujuan utama tetap sama, yaitu berkontribusi bagi perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran untuk kawasan dan untuk rakyat kita," kata Retno.

Dia juga mengatakan bahwa Indonesia sangat khawatir dengan kian meningkatnya rivalitas di antara kekuatan-kekuatan besar.

“Jika rivalitas ini tidak dikelola dengan baik, maka akan dapat berujung pada konflik terbuka yang sudah dapat dipastikan mengganggu perdamaian dan stabilitas, termasuk di Taiwan Strait,” ujar dia.

Terkait hubungan China dan Taiwan yang makin memanas karena kunjungan Ketua DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi ke pulau itu, Indonesia menegaskan penghormatannya pada Kebijakan Satu China (One China Policy) yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari China.

Prinsip yang sama juga dianut oleh negara-negara anggota ASEAN lainnya.

Menlu Retno mendorong agar semua pihak menahan diri dan tidak melakukan tindakan provokatif yang dapat memperburuk situasi.

“Yang diperlukan dunia saat ini adalah wisdom dan tanggung jawab para pemimpin dunia agar perdamaian dan stabilitas kawasan dan dunia dapat terjaga,” tutur dia. Tentang perdamaian dan stabilitas, Retno menekankan pentingnya menjaga kepercayaan (trust). Indonesia juga menegaskan pentingnya China menjadi bagian dari kerja sama konkret pelaksanaan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific.

Selain itu, penghormatan terhadap hukum internasional juga ditekankan oleh Retno, termasuk penghormatan terhadap UNCLOS 1982.

Selain itu, Indonesia mendorong penguatan kerja sama antara ASEAN dan China untuk ketahanan pangan.

Menurut Retno, upaya mewujudkan ketahanan pangan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu memastikan rantai pasok pangan dalam jangka pendek dan memperkuat ketahanan pangan kawasan dalam jangka panjang melalui pendirian regional food emergency relief mechanism, investasi untuk inovasi pertanian, dan pengembangan strategi keamanan pangan.

Pertemuan ASEAN-China Ministerial Meeting itu dipimpin oleh Menlu Kamboja Prak Sokhonndan dan Menlu China Wang Yi.

Dalam pertemuan itu, diadopsi Rencana Aksi Kemitraan Strategis Komprehensif ASEAN-China, yang antara lain berisi aksi untuk menindaklanjuti ASEAN Outlook on the Indo-Pacific bersama China.

Rekomendasi