Mulai Uji Coba Program Konversi Kompor LPG ke Kompor Listrik, Pemerintah Targetkan Rumah Tangga Kecil dan Usaha Mikro

| 22 Sep 2022 19:55
Ilustrasi (Antara)

ERA.id - Pemerintah mulai melakukan uji coba Program Konversi Kompor LPG ke kompor listrik atau induksi dua kota di Indonesia.

Kota tersebut yakni Solo di Provinsi Jawa Tengah dan Kota Denpasar di Provinsi Bali.

Plt Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kemenerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan PLN saat ini tengah membagikan paket kompor induksi kepada masyarakat di dua kota itu.

"PLN sedang melakukan uji coba di dua kota, masing-masing 1.000 keluarga penerima manfaat di Denpasar dan Solo. Kita mempelajari keberterimaan terhadap kompor induksi ini,“ ujar Dadan dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (22/9/2022) dikutip dari Antara.

Paket kompor induksi gratis yang diberikan terdiri dari tipe 2 tungku dengan daya 1.000 Watt dan daya 1.800 Watt, dengan sasaran penerima paket ini adalah rumah tangga kecil dengan daya 450 VA, 900 VA, dan usaha mikro.

Selain itu penerima paket akan dibantu untuk mendapatkan penyesuaian daya listrik secara gratis tanpa menaikkan daya kontrak dengan tarif subsidi seperti semula.

“Terobosan yang kita lakukan adalah mengganti Miniatur Circuit Breaker (MCB) nya dari 450VA menjadi 3.500VA, dan 900 VA menjadi 4.400VA. Kita khusus untuk program ini, nanti untuk keluarga yang memang berhak menerima subsidi ini, otomatis tarifnya mengikuti harga subsidi,“ jelas Dadan.

Program konversi kompor LPG ke kompor induksi dilakukan untuk mendukung program pemerintah terkait Ketahanan Energi Nasional melalui program pengalihan energi berbasis impor menjadi energi berbasis domestik.

Sementara itu Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahadiansyah menyatakan program konversi kompor induksi ini harus mengutamakan edukasi kepada masyarakat, terutama masyarakat dalam golongan subsidi agar memahami penggunaan kompor induksi ini hemat, aman, dan nyaman.

“Kompor (induksi) listrik ini sangat bagus dan praktis, tetapi persoalannya masyarakat juga harus diedukasi. Masyarakat perlu ada pendampingan dimana dalam pemakaiannya ini betul-betul aman dan nyaman,“ ungkap Trubus.



Rekomendasi