Rupiah Melemah dan IHSG Tertekan Lagi, Sampai Kapan Purbaya Optimis?

| 04 Jun 2026 13:51
Rupiah Melemah dan IHSG Tertekan Lagi, Sampai Kapan Purbaya Optimis?
Purbaya Yudhi Sadewa

ERA.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa hanya bisa memberi harapan  manis kepada publik saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan dan rupiah melemah menjadi Rp18 ribu lebih per dolar.

Dia bilang tak menyiapkan intervensi khusus untuk menghadapi tekanan itu, toh, katanya, fundamental ekonomi yang kuat bisa menjadi andalan untuk menopang pergerakan IHSG.

“Kalau dari saya sih nggak ada (intervensi). Yang penting adalah saya jelaskan bahwa fondasi ekonomi kita bagus dan akan membaik terus. Itu harusnya menjadi landasan ke penilaian harga saham,” kata Purbaya saat dikonfirmasi di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

IHSG terus terkoreksi tajam pada perdagangan Kamis dengan penurunan lebih dari 4 persen.

Padahal sebelumnya, Purbaya sama optimisnya dengan hari ini, bahwa IHSG mampu berbalik menguat didukung oleh solidnya fundamental perekonomian.

Ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (3/6), Purbaya menyebut berbagai indikator perekonomian bisa mendorong IHSG kembali bergerak positif.

Salah satunya yaitu inflasi pada Mei 2026 sebesar 3,08 persen secara tahunan (year on year/yoy) yang masih dalam rentang target Bank Indonesia 2,5 plus minus 1 persen.

Selain itu, penerimaan pajak tercatat mencapai Rp646,3 triliun per 30 April 2026, tumbuh sebesar 16,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Dia menilai gejolak IHSG saat ini bersifat kekhawatiran jangka pendek, yang dipengaruhi oleh isu-isu negatif di dalam negeri. Dia pun memastikan bakal menjaga kinerja perekonomian sekaligus sentimen pasar tetap stabil.

Per Kamis (4/6) pukul 10.02 WIB, IHSG tercatat melemah 246,14 poin atau 4,14 persen ke level 5.694,91.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai koreksi tajam IHSG menunjukkan pasar sedang menghadapi krisis kepercayaan yang cukup serius.

Katanya, pelemahan pasar saham diperparah oleh sejumlah faktor domestik seperti kebijakan ekspor satu pintu serta berlanjutnya arus keluar dana asing yang menjadi faktor yang mendorong investor mengurangi investasinya pada aset berisiko di Indonesia.

Hendra memandang kondisi itu terlihat kontras karena sebagian besar bursa saham Asia justru bergerak menguat. “Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar domestik lebih banyak berasal dari faktor internal dibandingkan eksternal,” jelasnya.

Rekomendasi