ERA.id - Beredar rekaman video yang memperlihatkan stan minuman beralkohol Newport dari Orang Tua Grup sedang bermain-main dengan surah dan ayat suci Al-Qur'an
Kabar yang beredar, kalau pengunjung menghapal Surah Ad Dhuha maka akan diberi minuman keras secara gratis. Momen itu terjadi dalam festival musik Thr Sounds Project yang digelar di Jakarta beberapa waktu lalu.
Akhirnya banyak publik yang marah dan menyayangkan insiden ini. Sampai berita ini diturunkan belum ada pula pihak yang bertanggung jawab dan mengaku salah. Persoalan ini juga belum dibawa ke ranah hukum.
Merespons itu politisi Gerindra sekaligus Anggota Komisi VI DPR RI, Kawendra Lukistian hanya mengecam keras dan bilang masalah ini telah menyentuh aspek etika bisnis, perlindungan konsumen, serta penghormatan terhadap nilai-nilai agama dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Dia pun meminta Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) untuk menginvestigasi kasus ini. Menurut dia, masyarakat berhak mendapatkan kepastian apakah aktivitas pemasaran tersebut melanggar ketentuan perlindungan konsumen maupun regulasi terkait peredaran dan promosi minuman beralkohol.
“Kalau ditemukan pelanggaran, jangan berhenti pada permintaan maaf atau klarifikasi. Harus ada tindakan dan sanksi yang tegas sesuai aturan,” katanya, Selasa kemarin.
Selain itu, dia juga meminta Kementerian Perdagangan mengevaluasi aspek perizinan dan distribusi produk terkait bila hasil investigasi menemukan adanya pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku.
Menurut dia, dunia usaha memang harus diberikan ruang untuk berkembang dan berinovasi. Namun kebebasan berusaha tetap memiliki batas.
“Publik membutuhkan kepastian dan tindakan nyata. Bukan sekadar kata khilaf.”
Sementara polisi NasDem sekaligus Anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania menilai ayat tukar miras bukanlah perkara yang lucu dan kreatif. "Ini tidak pantas dan melukai perasaan umat Islam," kata Dini di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Menurut dia, ada batasan yang harus dihormati karena kesucian agama jangan justru dijadikan gimik pemasaran. Dia menyampaikan bahwa permintaan maaf tentu patut dihargai, tetapi evaluasi juga harus dilakukan secara serius.
"Jangan sampai setelah viral dan masyarakat marah, baru kemudian menyadari ada yang salah," tandasnya.