Validkah Klaim Prabowo yang Ngaku di Jalan yang Benar Usai Surveinya Jeblok?

| 10 Aug 2026 05:09
Validkah Klaim Prabowo yang Ngaku di Jalan yang Benar Usai Surveinya Jeblok?
Presiden RI, Prabowo Subianto. (FB Prabowo Subianto)

ERA.id - Di tengah banyak kritikan tajam dan nilai survei kepuasan publik yang berubah jeblok, Presiden Prabowo Subianto tetap percaya diri dan yakin dia dan pemerintahannya sudah di jalan yang benar.

Hal iti disampaikan dalam acara peluncuran 10 buku karya Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Jakarta, Jumat (7/8) silam.

Di sana ditegaskan kalau visi pemerintahannya yaitu memberdayakan kelompok masyarakat rentan yang disebutnya sebagai rakyat yang paling tidak berdaya.

"Pemimpin bekerja agar orang yang paling lemah, orang yang kecil, orang yang paling miskin bisa senyum, bisa ketawa. Artinya, kalau orang yang sangat lemah, sangat tidak berdaya, bisa senyum dan ketawa, dia mulai punya harapan. Kita bekerja memberi harapan kepada rakyat kita yang paling tidak berdaya," kata Prabowo dalam sambutannya.

Makanya Prabowo yakin dia dan pemerintahan yang dipimpin berada pada jalan yang benar. Selain itu, dia juga mengatakan bahwa penilaian pemerintahannya selama dua tahun ini boleh dikatakan "oke".

"Saya kira, we will always be on the right track. Kita akan selalu berada di jalan yang benar," tambahnya.

Data bicara beda

Dalam catatan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), tingkat kepuasan publik berada di angka 51,1 persen. Itu berdasar hasil survei pada 5–19 Juli 2026.

Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani saat merilis hasil survei pada Minggu (26/7) mengatakan, tingkat kepuasan itu jeblok dibanding hasil survei November 2025 yang berada di angka 81,2 persen.

Deni memerinci pada survei terbaru SMRC, sekitar 4,8 persen warga merasa sangat puas atas kinerja presiden, 46,3 persen cukup puas, 35 persen kurang puas, 11,9 persen tidak puas sama sekali, dan 2,1 persen tidak tahu atau tidak menjawab.

Menurut dia, penurunan tingkat kepuasan publik ini berhubungan erat dengan evaluasi negatif warga pada kondisi ekonomi,  politik, dan penegakan hukum.

“Penurunan tingkat kepuasan publik ini berhubungan erat dengan merosotnya sentimen positif terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum,” kata Deni dalam keterangan tertulisnya.

Populasi survei tersebut adalah seluruh warga Indonesia yang punya hak pilih. Sebanyak 749 dari mereka dipilih secara acak.

Responden yang mempunyai telepon diwawancarai lewat telepon (83,8 persen), sementara yang tidak punya telepon diwawancarai dengan tatap muka (16,2 persen).

Adapun batas kesalahan atau margin of error survei tersebut lebih kurang 3,7 persen.

Rekomendasi