Survei: Pelaku Usaha dan Masyarakat Umum Anggap Ekonomi Nasional Buruk

Tim Editor

Kawasan Sudirman, Jakarta (Foto oleh Angga Nugraha/era.id)

ERA.id - Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia merilis survei bertajuk 'Evaluasi Pelaku Usaha Terhadap Kinerja Kabinet dan Ekonomi di Masa Pandemi'. Salah satu yang ditanyakan adalah kondisi ekonomi nasional. Hasilnya, sebanyak 76,4 persen responden dari kalangan pelaku usaha dan 69,2 persen dari responden umum menilai perekonomian nasional buruk.

"Pelaku usaha cenderung lebih gelap dalam memandang kondisi ekonomi nasional ketimbang warga, walaupun tidak terlalu beda jauh (persentasenya)," ujar Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dalam acara webiner, Kamis (23/7/2020).

Hal sama juga terjadi pada penilaian berdasarkan sektor ekonomi dan skala usaha. Dari tujuh sektor ekonomi dan empat skala usaha, mayoritas responden juga menilai kondisi ekonomi nasional saat ini buruk.

Burhanuddin memaparkan, sebanyak 81,4 peren responden dari sektor ekonomi perdagangan, reparasi, dan perawatan yang beranggapan kondisi ekonomi buruk. Sedangkan sebanyak 73,5 persen dari skala usaha besar menilai hal yang sama.

Baca juga: Hasil Survei: Tak Puas dengan Kinerja Pemerintah, Publik Setuju Reshuffle Kabinet

"Lebih dari 50 persen responden di setiap kelompok sektor ekonomi dan skala usaha menilai ekonomi nasional buruk dan sangat buruk," katanya.

Lebih lanjut Burhanuddin memaparkan masalah utama dalam menjalankan usaha di masa pandemi COVID-19. Mayoritas responden sebanyak 38 persen menyebutkan karena ekonomi global sedang lesu. Kemudian yang menjawab karena sepi orderan juga sebanyak 38 persen. Lalu disusul alasan mahalnya ongkos operasional, harga bahan baku semakin mahal, dan persaingan bisnis tidak sehat.

"Kondisi ekonomi global sedang lesu dan semakin sulit mendapat proyek atau order paling banyak disebut sebagai masalah utama dalam menjalankan bisnis saat ini," katanya.

Di sektor pertanian non-perikanan dan kelautan, kondisi ekonomi global sedang lesu kemudian mahalnya ongkos operasional paling banyak disebut sebagai masalah paling utama dalam menjalankan bisnis saat ini.

Selanjutnya, sektor pertambangan dan enggalian, sulit mendapat proyek atau order paling banyak disebut sebagai masalah paling utama dalam menjalankan bisnis saat ini. Di sektor industri pengolahan, masalah paling utama dalam menjalankan bisnis saat ini adalah sulitnya mendapat proyek atau order.

Lalu di sektor konstruksi, kondisi ekonomi global yang lesu. Kemudian sulit mendapat proyek atau order paling banyak disebut sebagai masalah paling utama dalam menjalankan bisnis saat ini.

Di sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor, harga bahan baku makin mahal. Kemudian kondisi ekonomi global yang lesu, dan persaingan usaha yang tidak sehat paling banyak menjadi masalah paling utama dalam menjalankan bisnis saat ini.

Ia menambahkan pada sektor pengangkutan dan pergudangan, mahalnya ongkos operasional, kemudian sulit mendapat proyek atau order paling banyak disebut sebagai masalah paling utama dalam menjalankan bisnis saat ini. Di kelompok skala usaha mikro, sulit mendapat proyek atau order paling banyak disebut sebagai masalah paling utama dalam menjalankan bisnis saat ini.

Di kelompok Skala Usaha Kecil dan kelompok Skala Usaha Menengah, sulit mendapat proyek atau order paling banyak disebut sebagai masalah paling utama dalam menjalankan bisnis saat ini. Di kelompok Skala Usaha Besar, kondisi ekonomi global yang lesu paling banyak disebutbsebagai masalah paling utama dalam menjalankan bisnis saat ini.

Survei dilakukan pada 29 Juni-11 Juli 2020 terhadap pelaku usaha di tujuh sektor ekonomi melalui sambungan telpon. Sampel di masing-masing sektor dan skala usaha dipilih secara acak dengan jumlah yang sama yakni 140 pelaku usaha per sektor sehingga total sampel awal sebanyak 980 responden.

Untuk kebutuhan analisisdilakukan penambahan jumlah sampel (oversample) pada sektor pertanian dan sektor perikanan kelautan,masing-masing menjadi 150 dan 350 pelaku usaha.

Tag: jokowi covid-19 ekonomi resesi ekonomi

Bagikan: