Beda Cara Evakuasi Tragedi Kecelakaan Air Asia dengan Sriwijaya Air SJ182

Tim Editor

Tim Basarnas (Anto/ Era.id)

ERA.id - Komandan Satuan Tugas operasi pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ182 Laksamana Yayan Sofyan mengungkapkan perbedaan temuan puing pesawat hingga kondisi jenazah antara Sriwijaya Air SJ182 dengan kecelakaan pesawar Air Asia beberapa tahun lalu.

Menurut Yayan, akan sulit menemukan bagian pesawat maupun jenazah pesawat Sriwijaya Air SJ182 dalam kondisi cukup utuh. Hal itu cukup berbeda saat proses evakuasi pesawat Air Asia.

"Berbeda seperti dengan (kecelakaan) Air Asia, misal menemukan beberapa korban yang masih terikat di kursi. Tiga orang. Sekarang berbeda," ujar Yayan kepada wartawan di KRI Semarang, dikutip Selasa (12/1/2020).

Hal itu, kata Yayan, bisa terjadi karena ada kemungkinan pesawat Sriwijaya Air SJ182 jatuh dalam posisi menukik tajam. Sedangkan posisi Air Asia saat jatuh tak langsung menghujam.

"(Air Asia) pada saat jatuh tidak langsung menghujam, ada landainya. Ini kayak kerupuk dikeremes. Belum ada bongkahan besar. Kebanyakan puing puing," kata Yayan.

Hancurnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 di wilayah perairan Kepulauan Seribu juga menjadi salah satu penyebab sulitnya penyelam menemukan kotak hitam atau black box dari pesawat ini. Padahal sistem sonar dari KRI Rigel telah mendeteksi titik lokasi black box tersebut berada.

"Di situ masih ada bongkahan. Kita masih harus cari cara (menembus bongkahan). Karena ibaratnya pesawat menghujam ke permukaan laut. Situasinya seperti Itu," katanya.

Terkait lamanya waktu untuk menyelesaikan operasi pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ182 pun Yayan tak berani memastikan. Dia hanya meminta doa agar proses pencarian dilancarkan

"Sulit untuk menentukan Itu. Waktu (pencarian) Lion Air 30 hari, (pencarian) Air Asia satu minggu. Kita harus telaten (teliti). Makanya prajurit ini diajak berdoa semoga Tuhan meridhoi," pungkasnya.

 

Tag: pesawat terbang pesawat jatuh jenazah sriwijaya air sj182

Bagikan: