Bupati Pamekasan Ingatkan 'Bahaya Pelakor Kesehatan', Apa Itu?

| 24 Feb 2021 17:20
Bupati Pamekasan Ingatkan 'Bahaya Pelakor Kesehatan', Apa Itu?
Ilustrasi banner pelakor kesehatan (Dok. Antara)

ERA.id - Media Sosial (Medsos) Bupati Pamekasan, Jawa Timur Baddrut Tamam dijadikan ajang kampanye akan pentingnya penanganan dan layanan cepat bidang kesehatan melalui pemanfaatan Mobil Sigap dan bahaya "Pelakor-Penyebab Lambat Penanganan Korban" di masa pandemi COVID-19 ini.

"Agar terhindar dari 'Pelakor', Pemkab Pamekasan sudah siapkan PCC dan mobil sigap di seluruh desa. Tinggal catat nomornya. Sakit dijemput, sehat diantar pulang," kata Bupati seperti diunggah pada akun facebook pribadinya, Ra Baddrut Tamam dikutip dari Antara, Rabu (24/2/2021).

PCC/Pamekasan Call Care merupakan program layanan cepat di bidang kesehatan dengan kegiatan antar jemput pasien bagi seluruh masyarakat Pamekasan yang tersebar di 178 desa dan 11 kelurahan di 13 kecamatan di wilayah itu melalui alat transportasi, yakni mobil Sigap.

Menurut Bupati Baddrut Tamam di Pamekasan, Rabu, program PCC ini sebagai bentuk ikhtiar Pemkab Pamekasan dalam memberikan pola pelayanan cepat kepada masyarakat dengan sarana mobil Sigap, yakni satu desa satu unit mobil.

Warga Pamekasan yang sakit dan hendak berobat ke pusat layanan kesehatan, klinik, ataupun ke rumah sakit, tinggal menghubungi nomor telepon yang disediakan oleh tim PCC, 082245565049 dan 08225565053.

"Masyarakat tinggal mencatat kedua nomor ini. Tim akan menjemput pasien, dan diantar kembali ke rumahnya setelah sembuh. Layanan ini gratis, tanpa biaya," kata Baddrut Tamam, menjelaskan.

Menurut dia, total jumlah desa dan kelurahan yang tersebar di 13 kecamatan sebanyak 189, terdiri dari 178 desa dan 11 kelurahan. Namun, dari jumlah desa dan kelurahan yang ada di Pamekasan mobil Sigapnya memang hanya untuk desa, sedangkan kelurahan tidak, karena akses transportasi masyarakatnya lebih mudah.

"Oleh karena itu, polanya kami terapkan 'call care'. Bisa saja ada warga desa tertentu yang dijemput mobil Sigap dari desa lain, karena pada saat yang sama mobil Sigap di desa itu sedang digunakan," urai Baddrut Tamam.

Selain itu, dengan sistem menghubungi kepada pengelola layanan, masyarakat Pamekasan yang tinggal di kelurahan juga bisa tercakup layanan.

Bupati lebih lanjut menjelaskan, dirinya sengaja menggunakan ungkapan bernada 'miring' dan falimiar di kalangan masyarakat untuk layanan cepat di bidang kesehatan ini, karena memiliki beberapa tujuan.

"Salah satunya, agar program layanan cepat bidang kesehatan yang dicanangkan Pemkab Pamekasan ini segera diketahui oleh masyarakat," katanya.

Kedua, sambung dia, dirinya ingin membangun pola berpikir positif di kalangan masyarakat Pamekasan, sehingga melalui cara pandang yang positif, maka secara psikologis dampaknya juga positif.

"Jadi positif thinking itu penting, dan di kepemimpinan saya ini, saya berupaya untuk membangun persepsi bahwa selalu ada kebaikan pada sesuatu yang biasa dipersepsi buruk oleh sebagian orang," ujarnya.

Selama ini, sambung mantan anggota DPRD Jatim dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Timur itu, istilah "Pelakor" selalu berkonotasi negatif, yakni perempuan yang biasa selingkuh atau merebut suami orang.

"Masak tidak boleh istilah itu kita gunakan untuk kebaikan, upaya membantu masyarakat dalam bidang kesehatan," ujarnya.

Melalui istilah yang sudah familiar digunakan masyarakat itu, sambung penulis buku "Pesantren Nalar dan Tradisi" tersebut, dirinya ingin program baik Pemkab Pamekasan bisa dimanfaatkan seluas-luasnya oleh masyarakat Pamekasan.

Sebab, menggunakan sesuatu yang sudah terkenal, maka pesan tersirat dari proses komunikasi bisa cepat tersampaikan kepala khalayak.

"Apalagi di masa pandemi COVID-19 seperti sekarang ini. Layanan cepat bidang kesehatan bagi semua elemen masyarakat sangat dibutuhkan," katanya, menjelaskan.

Ia mengatakan pola komunikasi yang dilakukan Bupati Baddrut Tamam melalui istilah familiar dan dikenal banyak orang itu sangat efektif dalam memperluas sebaran informasi, apalagi di era saat ini.

"Jenis media yang digunakan, yakni media sosial facebook juga sangat tepat, karena umumnya masyarakat kini lebih banyak mengetahui informasi melalui media sosial, terutama facebook," katanya.

Disamping itu, sambung alumni pascasarjana Unitomo Surabaya tersebut, pengguna jenis media sosial facebook memang lebih banyak kalangan dewasa, yang memang rentan pada penyakit.

"Jadi, disamping biaya lebih murah, sebarannya juga akan lebih luas," katanya, menjelaskan.

Rekomendasi