Usai Petinggi Partai Bikin Heboh karena Berkerumun, DPR: Tindaki Pelanggar Prokes!

Tim Editor

Petinggi partai saat makan dan berkumpul bersama (Raja Juli Antoni)

ERA.id - Belum lama ini beberapa petinggi partai memilih berkumpul untuk makan bersama dalam situasi pandemi.

Hal itu dikabarkan oleh Sekretaris Jendral Partai Solidaritas Indonesia, Raja Juli Antoni.

Hal ini pun membuat heboh publik, karena selain berkumpul dan berdempetan, beberapa orang juga tak memakai masker saat duduk berfoto bersama.

Belakangan, usai menuai banyak protes dari masyarakat. Raja pun langsung mengklarifikasi acara kumpul-kumpulnya.

"Pertemuan dimulai pukul 17.00 wib, kurang dari pukul 19.00 wib sudah bubar. Semua pakai masker dan jaga jarak aman kecuali 2-3 detik untuk foto," tulis Raja dalam akun Twitternya.

Petinggi partai saat makan dan berkumpul bersama (Raja Juli Antoni)

 

Usai mendapati kasus Covid-19 makin bertambah seiring aturan protokol kesehatan yang kurang diperketat lagi apalagi masyarakat yang beramai-ramai pulang kampung beberapa waktu lalu, anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo meminta ada penegakan hukum yang tegas terhadap para pelanggar protokol kesehatan (prokes) COVID-19.

"Selanjutnya, harus juga diikuti penegakan aturan yang tegas. Saya percaya dengan pemerintah daerah dibantu TNI/Polri, satpol PP, kepada siapa saja yang melanggar untuk ditindak dengan tegas," kata Rahmad Handoyo dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (25/6/2021).

Penegak hukum diminta menindak tegas terhadap pelanggar protokol kesehatan baik individu maupun organisasi atau kelompok harus diambil, agar masyarakat disiplin.

Ia yakin PPKM skala mikro bisa efektif mengendalikan COVID-19, dengan catatan kebijakan tersebut harus dijalankan secara gotong royong. Masalahnya, tidak mungkin pemerintah berjalan sendiri mengendalikan COVID-19.

Menurut dia, keputusan pemerintah yang tetap memilih kebijakan PPKM mikro harus dijalankan bersama pemerintah daerah hingga tingkat RT/RW, tokoh dan elemen masyarakat dengan membumikan aturan itu secara ketat.

Hal itu, lanjut dia, termasuk soal ketegasan pemerintah daerah untuk menutup paksa segala hal yang berpotensi melanggar PPKM mikro.

"Seperti kegiatan ekonomi yang melanggar aturan ya harus tegas ditutup dan ditindak. Kalau ini berjalan dan penegakan aturan dengan tegas, saya yakin pandemi bisa ditangani dengan baik," katanya.

Rahmad menilai pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus terus membumikan protokol kesehatan di setiap kesempatan melalui edukasi dan sosialisasi.

Jika itu dilakukan, Rahmad yakin PPKM mikro akan makin berhasil menangani COVID-19.

"Maka kita dorong pemerintah pusat mempercepat vaksinasi di setiap kesempatan dan di seluruh daerah agar paling tidak 50 persen penduduk tahun ini sudah terjangkau vaksinasi," katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR Melkiades Laka Lena menilai penegak hukum perlu bertindak lebih tegas kepada pelanggar prokes. Menurut dia, penegak hukum sudah dibekali prosedur dalam memberikan sanksi kepada pelanggar aturan.

Selain itu, pemerintah perlu membatasi dan mengontrol aktivitas di ruang publik, seperti perkantoran, pasar, dan transportasi publik.

Lena mengatakan bahwa pengujian dan penelusuran perlu secara masif untuk mendapatkan gambaran situasi kondisi lapangan.

Menurut dia, kapasitas isolasi terpusat mulai dari level komunitas sampai level kabupaten kota atau provinsi perlu diperkuat.

"Perkuat dan lengkapi kapasitas faskes pertama dan lanjut dalam menangani kenaikan kasus saat ini," katanya.

Di samping itu, lanjut dia, tenaga kesehatan dan tenaga pendukung penanganan COVID-19 harus disiapkan dalam jumlah dan kualitas yang memadai.

"Berikan insentif sehingga mereka bekerja dengan optimal. Masyarakat dipastikan diam di rumah. Kalau keluar, jalankan prokes dengan disiplin ketat," kata Lena.

Tag: covid-19 di indonesia protokol kesehatan kerumunan pelanggar prokes raja juli antoni

Bagikan: