Masih Penjajakan, PKB Akui Belum Tandatangan Soal Koalisi dengan PKS: Masih Tunggu Hari Baik

Tim Editor

PKB dan PKS (Antara)

ERA.id - Partai Kebangakitan Bangsa (PKB) mengaku masih melakukan penjajakan dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk membentuk koalisi baru.

Karenanya, belum ada niatan untuk menandatangani nota kesepahaman seperti yang dilakukan partai politik yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB).

Wakil Ketua Umum (Waketum) PKB Jazilul Fawaid mengatakan, pihaknya masih menunggu hari baik untuk menandatangani nota kesepahaman koalisi baru.


"Ya tentu ini kan penjajakan, kita kan sudah bertemu juga kan dengan PKS. Soal Mou, soal tandatangan ya sambil tunggu waktu yang tepat, nyari hari yang bagus Rabu Pon kek apa kek, kan gt. Atau bulan apa gitu," kata Jazilul di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/6/2022).

Lagipula, kata Jazilul, PKB dan PKS masih membuka pintu bagi partai-partai politik lainnya yang berminta bergabung.

Dia menyadari, masih butuh satu partai lagi bergabung supaya bisa mengusung pasangan calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2024.

Saat ini PKS mengantongi 50 kursi, PKB 58 kursi, kurang tujuh kursi parlemen untuk memenuhi ambang batas pencalonan presiden 115 kursi.

"PKB sadar diri bahwa suaranya ini baru 10 persen. Kecuali presidential threshold 10 persen, dah langsung, positif sudah. Ini kan (presidential threshold) 20 persen, jadi kita masih harus mencari 10 persen lagi. Dengan PKS aja blm cukup, masih butuh satu partai lagi," papar Jazilul.

Menurutnya, hingga saat ini semua partai politik masih membuka peluang untuk saling berkoalisi. Bahkan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) juga dinilai masih cair.

"Ya kan semua partai bilangnya terbuka. Di KIB juga masih cair, Demokrat juga belum menentukan sikap, NasDem juga. Jadi masih melakukan komunikasi semua lah," katanya.

Sebelumnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memberi sinyal akan membentuk koalisi baru untuk menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Diklaim koalisi yang belum ditentukan namanya ini akan menjadi magnet baru, khususnya untuk calon-calon presiden 2024.

Sekretaris Jenderal PKS Aboe Bakar Al Habsyi mengaku, antara PKS dan PKB memiliki kecocokan. Apalagi kedua partai tersebut memiliki akar rumput yang sama.

"PKS membuka peluang, siapa bertemu siapa, siapa dengan siapa. Kami ingin berperan moga-moga ada yang bertemu jodoh. Ternyata Cak Imin menanggapi dan besoknya langsung kita berdialog, buat PKS welcome, apalagi bersama PKB," kata Aboe di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (9/6).

Dia menambahkan, kolaborasi antara PKS yang dikenal militan dan PKB yang terkenal sebagai penguasa pesantren bakal menjadi daya tarik politik. Tidak hanya bagi partai-partai politik saja, tetapi juga untuk tokoh-tokoh yang berminat menjadi capres 2024.

"(PKS-PKB) Ini kalau ketemu ngeri-ngeri sedap. Semua capres nanti akan tertarik serius dengan benda ini. Jangan kaget kalau sampai terjadi," katanya.

Sementara Wakil Ketua Umum (Waketum) Jazilul Fawaid membenarkan bahwa awal mula pertemuan ini saat Milad PKS ke-20 yang berakhir dengan memutuskan berkolaborasi untuk Pilpres 2024.

"Pucuk dicinta ulam pun tiiba, 20 tahun Milad PKS, ketua umum kami diberikan kesempatan untuk menyampaikan, ternyata di situ ada kata yang sama yang menurut saya ini fakta memang, semuanya kan harus berubah, PKB berubah PKS berubah, semua berubah," kata Jazilul.

Jazilul menilai kolaborasi PKB dan PKS sebagai jalan ketiga di tengah-tengah kemunculan koalisi dan proses pembentukan koalisi yang kini berjalan di antara partai-partai.

"Kalau ini bukan poros tengah disebutnya, ini jalan ketiga. Kalau jalan ketiga ini menjadi lompatan, ini tentu yang disebut dengan magnet baru," kata Jazilul.

Tag: pkb pks koalisi

Bagikan: