Pelopor Gerakan Pro-Ganja Meninggal Dunia di Usia 92 Tahun

Tim Editor

    Dr. Lester Grinspoon dalam sebuah acara organisasi NORML

    Boston, era.id - Awalnya ia percaya bahwa ganja bersifat merusak, lalu penelitiannya membuktikan bahwa ia salah. Sejak itu ia menjadi salah satu pelopor legalisasi ganja.

    Dr. Lester Grinspoon, seorang profesor psikiatri di Harvard yang semasa hidupnya menjadi pelopor legalisasi ganja meninggal di usia 92 tahun pada 25 Juni, 2020. Risetnya terhadap ganja yang menunjukkan bahwa ganja tidak secandu tembakau atau alkohol telah mengubah pandangannya dan hidupnya.

    Perangai Dr. Grinspoon tidaklah seperti yang ibayangkan orang sebagai pejuang pro-ganja. Awalnya, dia percaya bahwa tanaman ini adalah obat-obatan yang berbahaya. Saat astronot Carl Sagan, yang adalah temannya sekaligus pengajar di Universitas Harvard, mengajaknya menghisap ganja pada akhir era 1960an, Dr. Grinspoon masih mewanti-wanti sang astronot untuk berhenti mengkonsumsi ganja.

    "Dia menghisapnya lagi dan berkata, 'Ayo, Lester, cobalah sedikit,'" katanya kepada koran The Boston Globe di tahun 2018. "'Kamu pasti suka, dan dia tidak berbahaya.' Aku sangat terpukau."

    Respon dari Dr. Sagan menjadi tantangan bagi Dr. Grinspoon yang lantas menceburkan diri ke sejumlah ulasan dan penelitian yang ada saat itu untuk menemukan resiko medis dari penggunaan ganja.Ia menemukan bahwa dokter dari abad ke-19 meresepkan marijuana sebagai penawar rasa sakit dan untuk menolong orang-orang agar bisa tidur nyenyak. Namun, ia tidak menemukan satu pun bukti yang mendukung kehebohan yang sudah ada selama berpuluh-puluh tahun bahwa ganja bersifat candu.

    Pandangan bahwa ganja adalah candu bisa ditemukan dalam film keluaran tahun 1936, "Reefer Madness" (awalnya dikenal dengan judul "Tell Your Children" atau Beritahu Anakmu). Satu tahun kemudian, pemerintah federal Amerika Serikat memutuskan  memasukkan ganja sebagai barang ilegal.

    Kesimpulan Dr. Grinspoon saat itu adalah bahwa ganja itu substansi candu yang masih aman untuk digunakan dan perlu diregulasi seperti halnya alkohol. Bahaya utamanya justru, kata dia, mengkriminalisasi penggunanya.

    Setelah menulis temuannya secara singkat di majalah Scientific American pada tahun 1969, Dr. Grinspoon lalu menulis buku "Marihuana Reconsidered." Tulisan ini dipublikasikan pada tahun 1971.

    "Potensi luka sosial terbesarnya terletak pada melukai begitu banyak orang mudah dan benturan institusional yang diakibatkan oleh hukum yang melarang ganja saat ini," tulis Dr. Grinspoon. "Jika kita ingin menghindari luka ini menjadi sebuah bencana nasional dalam waktu sepuluh tahun ke depan, kita  harus memastikan bahwa penggunaan marijuana secara sosial sebagai aktivitas legal."



    Pemerintah AS di dekade 1970an terbilang kurang suka dengan tulisan Dr. Grinspoon. Presiden Richard M. Nixon saat itu membaca review atas buku penelitian ganja tersebut. Bagian berjudul "The best dope on pot so far -" ("Kebodohan terbesar tentang ganja adalah...") menyita perhatian sang presiden. Ia lantas melingkari nama Grinspoon dan menulis keterangan "orang ini badut yang terlalu kekiri-kirian." Saat itu Presiden Nixon baru saja memulai upaya kerasnya memerangi obat-obatan.

    Selama dekade 1970an, Dr. Grinspoon semakin menjadi tokoh sentral di Amerika Serikat dalam kampanye reformasi ganja. Ia menjadi anggota direksi dan penasihat Organisasi National untuk Reformasi Undang-Undang Anti Ganja (NORML). Ia membantu para aktivis meyakinkan publik bahwa "ganja tidak sekadar ditemukan kaum hippies di dekade 1960an."

    Kaum hippies saat itu memang terkenal akan tiga hal. Obat-obatan, seks bebas, dan musik rock & roll.



    Dalam kampanyenya untuk mendorong legalisasi ganja, Dr. Grinspoon berusaha mempertahankan figurnya sebagai peneliti. Ia konon tak pernah mencoba ganja selama ia meneliti tanaman tersebut (Ia baru mencoba ganja tahun 1972, bersama istrinya, namun ia tidak menyukainya). Kepada para pewawancara, ia mengatakan bahwa ia pun bisa menulis buku tentang sakit jiwa tanpa harus lebih dulu mengalaminya.

    Pada tahun 1975, Dr. Grinspoon juga membantu John Lennon, personil band legendaris The Beatles, menghindari deportasi dari pemerintah Amerika Serikat karena kepemilikan resin marijuana, atau hashish, saat masih berada di Inggris. Dengan meyakinkan Dr. Grinspoon mengatakan bahwa resin marijuana bukanlah marijuana, dan oleh sebab itu "resin marijuana bukanlah narkotika."

    Saat ini, kepemilikan ganja oleh orang dewasa adalah hal legal di 11 negara bagian Amerika Serikat.

    Bagikan :


    REKOMENDASI