Mengapa Kita Suka Nonton Video "Pencet Komedo"?

| 11 Sep 2020 20:08
Mengapa Kita Suka Nonton Video
Dr Lee atau Pimple Popper (GlamourBiz)

ERA.id - Coba sekarang Anda ketik komedo di Youtube dan lihat ada berapa konten untuk komedo di sana dan berapa penontonnya. Normalnya, video tersebut dapat perhatian hingga sejuta orang!

Memang apa yang membuat kita bisa lega dan puas saat menonton video "pencet komedo" di Youtube? Bukan cuma orang Indonesia, banyak orang di luar Indonesia juga senang menonton video berbau jerawat atau komedo itu kok.

Ketika saja "Pimple popping" di Youtube, maka Anda akan menemukan banyak  video yang seluruhnya menampilkan aksi memencet jerawat. Lucunya, seluruh aksi itu didominasi satu orang, Dr Sandra Lee, yang notabene ahli dermatologi dan kanker kulit serta kosmetik kesohor di Los Angeles, Amerika Serikat.

Di dunia maya, ia dikenal dengan sebutan Dr Pimple Popper atau 'ratu pencet jerawat'. Dari videonya, ia mampu menggaet jutaan pelanggan Youtube dan mencapai jutaan pengikut di Instagram.

Awalnya, Dr Lee cuma ingin berbagi pengetahuan seputar jerawat, komedo dan kista. Kemudian dia sadar bahwa ternyata ada begitu banyak orang yang suka melihat videonya. Mengapa?

Sejumlah penggemar video yang pernah diwawancara The Guardian, cenderung mengungkap efek terapeutik dengan alasan "menenangkan" dan "relaksasi". Mashable juga menemukan kata "memuaskan" sebagai tanggapan umum di kalangan pemirsa. Beberapa orang bahkan mengaku lebih mudah tidur di malam hari setelah menonton video tersebut.

Dr Lee mengatakan, banyak orang mengalami respons meridian sensorik otonom (autonomous sensory meridian response/ASMR), atau lebih dikenal dengan orgasme otak. Yakni sensasi menyenangkan dan menggelitik serupa kesemutan sebagai respons terhadap pemandangan, suara, dan bau tertentu.

Suara dr Lee saat bicara dengan pasien berpadu dengan kepuasan berhasil mengangkat komedo, disebut-sebut memberi kenikmatan fisik berupa sensasi ASMR tadi. Terlebih lagi, saat videonya bisa membantu meringankan kondisi dermatillomania--gangguan mental mencabuti kulit kering.

Sementara penjelasan ilmiahnya, para ahli sependapat, rasa suka melihat video memencet jerawat terkait dengan respons khas manusia terhadap perasaan jijik.

Dan Kelly, profesor filsafat di Purdue University dan penulis buku Yuck!: The Nature and Moral Significance of Disgust memaparkan dalam Live Science, terkait dua petunjuk utama kenapa kita melindungi diri dengan merasa jijik.

Pertama, kita pasti menolak makan apapun yang bisa meracuni atau mengganggu pencernaan. Kedua, kita akan mencegah terpapar penyakit bagaimanapun caranya karena tak mau kekebalan tubuh terganggu,

Kelly mencontohkan, "Jika Anda melihat orang bersin dan ingus mengalir dari hidung mereka, itu menjijikkan." Mengapa menjijikkan? karena Anda melihat sendiri.

Dengan cara yang tak bisa dijelaskan, pikiran kita dibuat percaya bahwa ada yang salah dari orang itu. Mungkin dia sakit, sehingga Anda menjauh. Menariknya, karena dilihat lewat video, kita merasa aman.

Akhirnya jijik berbuah penasaran. Ini ada kaitannya dengan psikologis manusia untuk tertarik menyaksikan bencana. Jadi, semacam memasuki daerah ancaman, tanpa bahaya nyata.

"Sensasi negatif itu menarik, terutama bila Anda berada dalam konteks di mana mereka tidak dapat menyakiti," kata Nina Strohminger, penulis The Hedonics of Disgust.

"Anda tidak akan menginjak kotoran anjing hanya untuk mengalaminya, tapi mungkin, Anda akan mengeklik sebuah tautan untuk melihat orang lain melakukannya," terangnya.

Melepaskan komedo/Insider

Studi kasus tahun 2001 pernah menggambarkan, makin menjijikkan sebuah cerita, makin luas penyebarannya di internet. Lihat saja fenomena mudahnya berita kriminal yang berbau lendir, darah, sadisme itu viral di jagat maya.

Menyoal kenikmatan dan sensasi lega begitu jerawat meletus, kemungkinan karena disertai pelepasan dopamin yang membuat kita merasa lebih baik. Setelah sebelumnya merasakan ketegangan dan kecemasan.

Selanjutnya, kelegaan itu bisa jadi adiktif sehingga orang semakin tergila-gila melihat video pencet jerawat. Demikian jelas Heather Berlin, asisten profesor psikiatri di Mount Sinai Hospital New York.

Tags : kesehatan sains
Rekomendasi