Canggih, Roket NASA Akan Dibuat Secara 3D-Printing

Tim Editor

Ilustrasi: Badan Antariksa AS (NASA) memiliki program Tipping Point yang meneliti sejumlah teknologi mutakhir, termasuk sistem manajemen cairan kriogenik yang membutuhkan desain roket khusus. (Foto: Felipe Simo/Unsplash)

ERA.id - Sebuah pabrik roket berteknologi 3D-printing dipilih Lockheed, yang merupakan kontraktor roket Badan Antariksa AS (NASA), untuk membangun badan luar roket  eksperimental yang akan mengorbit pada tahun 2021.

Perusahaan itu bernama Relativity Space. Mereka memproduksi roket lewat teknologi cetak tiga dimensi (3D), alih-alih teknologi cetak konvensional.

Pilihan pada perusahaan ini bukannya tanpa sebab. Sebagai bagian dari program Tipping Point, NASA berencana melakukan pengujian berbagai sistem manajemen cairan kriogenik, yaitu suatu eksperimen fisika mengenai proses perubahan zat dari bentuk gas, cair, hingga ke bentuk padat. Eksperimen akan dilakukan dalam satu buah roket yang mengorbit bumi.

Sementara bagian inti roket dan sistem kriogenik akan didesain dan dibuat oleh Lockheed dan partner mereka di NASA, Relativity akan diminta terlibat dalam menciptaan badan luar roket.

CEO dan pendiri Relativity Tim Ellis, seperti dilansir Tech Crunch, mengatakan bahwa teknologi 3D printing perusahannya bisa melakukan perancangan khusus bagi roket-roket NASA dari ujung atas hingga ujung bawah.

"Jika Anda melihat alat produksi roket yang masih digunakan saat ini, kelihatan bahwa desain mereka tak jauh beda dengan yang digunakan 60 tahun lalu," kata Ellis. "Desainnya sudah paten, yaitu sebuah mesin raksasa yang kelihatan menakjubkan dari luar, namun, sebenarnya hanya berupa satu bentuk yang sama, yang itu pun didesain secara manual (dengan tangan)."

"Perlu 12-24 bulan untuk menyelesaikan produksi semacam itu."

Perusahaan Ellis mengaku bisa memangkas rentang waktu itu menjadi cukup 30 hari saja.
"Penciptaannya pun dibuat menggunakan perangkat lunak. Jadi kami tinggal mengganti konfigurasi dalam file untuk mengubah dimensi atau bentuk tertentu," kata Ellis.

Ellis mengakui bahwa waktu adalah elemen terpenting dalam proyek jutaan dolar seperti milik NASA ini. Meski roket masih akan diluncurkan tiga tahun lagi, software mereka menguntungkan karena sanggup mengakomodasi perubahan dengan cepat. Ini adalah satu hal yang penting mengingat akan adanya perubahan di menit-menit terakhir.

Program Tipping Point dari NASA mengucurkan dana hingga 89,7 juta dolar (Rp1,32 triliun) pada Lockheed guna membangun proyek eksperimental ini. Salah satu tujuan NASA adalah meneliti teknologi kriogenik agar bisa memiliki nilai komersil. Selain ini, badan antariksa tersebut juga menggelontorkan banyak dana untuk pembuatan robot-robot penjelajah luar angkasa.

Tag: nasa luar angkasa

Bagikan: