Menemui Soe Hok Gie di Museum Taman Prasasti

Tim Editor

    Nisan Soe Hok Gie di Museum Taman Prasasti. (Gabriella/era.id)

    Jakarta, era.id - "Nobody knows the troubles i see, nobody knows my sorrow," pesan itu terukir jelas pada sebuah batu nisan milik aktivis 66, Soe Hok Gie di Museum Taman Prasasti, Jakarta Pusat. Di atas nisan, sebuah patung Angel memohon kebaikan dari langit berdiri tegak dengan wajah welas.

    Pusara itu dulunya merupakan milik Soe Hok Gie. Kebesarannya sebagai aktivis gerakan mahasiswa kala itu, mengantarkan jenazah Gie berbaring di antara pusara para bangsawan Belanda. 

    Gie lahir di Jakarta pada 17 Desember 1942. Semasa hidup. dia dikenal sebagai aktivis yang kerap melontarkan kritik tajam kepada rezim penguasa saat itu yakni Presiden Soekarno. Tak hanya kritis dan mampu menggerakan ribuan masa untuk turun ke jalan mendemo pemerintah, Gie muda juga seorang pencinta alam. 

    Di alam jugalah dia mengembuskan nafasnya yang terakhir. Gie meninggal di Puncak Mahameru, Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur. Pendakiaannya ke Gunung Semeru kebetulan bebarengan dengan hari ulang tahunnya ke-27 tahun. Namun jelang sehari sebelum perayaan hari lahirnya, dia dan rekannya Idhan Lubis harus meregang nyawa akibat menghirup gas beracun.

    Semula Hok Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo sebelum  dipindahkan ke kompleks pemakaman Kebon Jahe Kober, Tanah Abang --saat ini Museum Taman Prasasti. Namun akibat bertambahnya makam di sana, Guberbur DKI Jakarta, Ali Sadikin memerintahan untuk memindahkan makam-makam. Sebagian jenazah yang dikuburkan dikembalikan ke kampung halaman.

    Bagaimana dengan makam Hok Gie? Keluarga Hok Gie rupanya menolak memindahkan jenazah Gie dan akhirnya membawa jasad Gie ke krematorium. Abu jenazahnya disebesar di Lembah Mandalagiwangi, Gunung Pangrango, salah satu tempat favorit Gie semasa hidup. Di sanalah tempat persemayaman terkakhir Hok Gie berada.

    "Biasanya jelang hari ulang tahunnya, banyak yang datang ke makamnya," ujar Eko Wahyudi salah serorang pemandu wisata kepada era.id, Minggu (15/12/2019).

    Dari ratusan prasasti dan makam bergaya Neo Gothic, desain makam Hok Gie lah yang paling sederhana. Hanya ada patung malaikat berukuran sedang yang seolah mendoakan dan menemani di atas batu nisannya.

    Meski sudah 50 tahun Hok Gie pergi, tapi semangatnya masih terus menjadi pematik setiap kali mahasiswa di Indonesia bergerak turun ke jalan mengkritik pemerintah. Karya-karyanya seperti Di Bawah Lentera Merah, Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan, Zaman Peralihan, dan buku hariannya Catatan Seorang Demonstran pun terus dibaca bahkan dicetak ulang berkali-kali.

    Hok Gie dan Sepatu Lars Prabowo Subianto

    Saat kabar Soe Hok Gie meninggal, banyak orang merasa kaget sekaligus sedih. Tak terkecuali dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

    Dikutip dari majalah Tempo, mantan Danjen Kopassus dan sang aktivis 66 ini memang berkawan akrab. Prabowo yang saat itu berusia 18 tahun itu ikut menyongsong jenazah Gie yang diangkut pesawat Antonov milik TNI Angkatan Udara dan mendarat di Bandar Udara Kemayoran pada tanggal 24 Desember 1969.

    "Prabowo bilang sedih karena Hok Gie seorang idealis tapi meninggal di usia muda," ujar Jusuf Abraham Rahim, salah satu aktivis 66.

    Tak heran jika Prabowo merasa sedih dengan kamatian kawan karibnya. Sebab, menurut almarhum Jopie Lasut, Prabowo sempat meminjamkan sepatu lars kepada Hok Gie karena mendaki gunung tertinggi di tanah Jawa itu memerlukan perlengkapan terbaik. Saat itu yang memiliki sepatu kualitas terbaik hanya sedikit, salah satunya adalah Prabowo.

    Tag: tempat wisata

    Bagikan :