Kalau Babi Haram, Mengapa Diciptakan?

| 24 Aug 2020 20:18
Kalau Babi Haram, Mengapa Diciptakan?
Babi

ERA.id - Banyak orang yang menganggap babi tak perlu diciptakan karena dalam beberapa agama haram hukumnya mengonsumsi daging babi. Lalu mengapa Tuhan menciptakan hewan babi?

Seorang penganut Kristen, Stefanus Henza, berbicara soal Yudaisme bersama hukum kashrut membahas babi. "Bukan hukum halal (Islam), sehingga istilah yang akan saya gunakan adalah 'tidak kosher', bukan 'haram'." Kosher ialah makanan yang sesuai dengan aturan makan Yahudi.

Menurut Stefanus, tidak ada penjelasan detail mengapa daging babi dinyatakan sebagai makanan yang tidak kosher dalam hukum kashrut. Meski sejumlah kultur menganggapnya tabu, namun daging babi merupakan makanan yang umum dikonsumsi di kawasan Timur Tengah pada abad 5–2 BCE, sampai kemudian perannya digantikan oleh daging ayam karena alasan ekonomis.

Dalam hukum Taurat, yang menjadi dasar hukum kashrut, diperkirakan diwahyuhkan kepada Musa sekitar tahun 1312 sebelum masehi lalu diturunkan dari generasi ke generasi dalam bentuk oral, dan barulah pada sekitar abad 6–5 sebelum masehi selesai dibukukan.

"Menilik tren konsumsi daging babi yang semakin menurun di kawasan Timur Tengah pada sekitar abad 1 sebelum masehi, kemungkinan hal ini pun berpengaruh pada aturan diet pada hukum Taurat."

Menurut Stefanus, tren konsumsi daging babi karena alasan ekonomis, sepertinya terlalu canggung untuk dijadikan sebagai alasan mengapa sampai pelarangan daging babi mengakar begitu kuat dalam keyakinan Yudaisme.

babi/commons wikimedia

Ia menambahkan, ada pendapat yang mengatakan jika aturan diet Yudaisme diadopsi oleh Musa dari aturan diet Mesir saat ia memperoleh pendidikan di istana Firaun.

Namun, hal tersebut disangsikan banyak orang karena, pertama, daging babi adalah sajian yang umum di Mesir bahkan di istana Firaun, hanya para pendeta yang tidak memakannya.

Pendapat lain yang paling mungkin, mengapa babi yang paling disorot, karena sebagai identitas bangsa Israel. "Pada saat itu di tanah Kanaan, berbagai bangsa (semisal bangsa Filistin) berbagi keyakinan yang sama jika daging babi adalah najis, namun meski tidak dikonsumsi oleh manusia, babi tetap dipelihara untuk dijadikan persembahan kepada para dewa mereka."

Stefanus menambahkan lagi, bangsa Israel tidak mengonsumsi babi dalam bentuk dan ritual apapun untuk membedakan mereka dari bangsa-bangsa lain di sekitarnya.

Kedua, sejarah panjang dan kelam bangsa Israel dengan para penjajah/penindasnya. Babi adalah simbol dari penjajahan Romawi serta sering digunakan sebagai bahan olok-olok dan penghinaan kepada bangsa Israel, seperti pada peristiwa Reconquista, Revolusi Makabe, dan berbagai persekusi lainnya oleh kaum Kristen Eropa kepada kaum Yahudi.

Babi/Commons Wikimedia

"Namun dari berbagai pendapat, pandangan paling umum mengapa babi dianggap tidak kosher adalah karena memang demikianlah yang ditulis pada Kitab Taurat. Tidak butuh penjelasan lagi."

Nah, untuk pertanyaan di judul itu, jawabannya sederhana, kembalikan ke persepsi keyakinan masing-masing. Apa yang dilarang pada suatu keyakinan, belum tentu dilarang pada keyakinan lainnya. Demikian juga sebaliknya. Apa yang tidak dilarang pada suatu keyakinan, belum tentu tidak dilarang pada keyakinan lainnya," beber Stefanus.

Islam dan Yudaisme sama-sama sepakat jika babi adalah "haram" sekaligus "tidak kosher". Namun Kitab Imamat bukan hanya menyebutkan babi, tetapi juga unta, pelanduk, kelinci, segala yang tidak bersirip dan bersisik di dalam laut dan sungai, juga berbagai jenis burung.

Ambil contoh, kelinci. "Mungkin ada penganut Islam yang tidak pernah bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa kelinci diciptakan, karena daging kelinci diperbolehkan untuk dimakan pada keyakinan Islam?"

Namun di tempat lain, mungkin ada penganut Yudaisme yang pernah bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa kelinci diciptakan, padahal daging kelinci tidak diperbolehkan untuk dimakan pada keyakinan Yudaisme.

Tags : sejarah
Rekomendasi