Sejarah Tahi Lalat di Indonesia dan Bagaimana Budaya Negara Lain Memandangnya

Tim Editor

Penyanyi lawas Ita Purnamasari yang tampil anggun dengan menunjukkan tahi lalatnya (Ist)

ERA.id - Tahi lalat adalah dari tanda diri seseorang yang berbentuk bintik berwarna coklat kehitaman. Di dunia medis, tahi lalat dikenal dengan nama nevus. Nevus berasal dari bahasa latin yang mempunyai arti tanda lahir.

Di Indonesia, nama tahi lalat didasari pada anggapan masyarakat yang mengira bahwa tanda lahir itu adalah seekor lalat yang hinggap pada tubuh manusia jika dilihat dari jauh.

Selain itu, dalam sumber lain, istilah tahi lalat dikenal di Indonesia sewaktu para orang tua melihat bintik hitam pada tubuh anak mereka ketika lahir. Tanda lahir itu dianggap seperti sebuah kotoran yang sering ditinggalkan oleh lalat pada sisa makanan. Dari dua cerita inilah, istilah tahi lalat lalu banyak dipakai untuk menyebut tanda lahir yang berbintik hitam atau cokelat tersebut.

Ternyata, cerita tahi lalat tak sampai di situ. Di negara lain, tahi lalat ada maknanya. Jika di Indonesia tahi lalat dianggap biasa saja sekarang, daerah di bawah ini malah menganggap tahi lalat itu sakral dan dipakai untuk meramalkan nasib.

1. Zaman Yunani Kuno

Orang Yunani kuno percaya bahwa tahi lalat dan tanda lahir dapat memprediksi nasib seseorang. Bahkan, Melampus, juru tulis Raja Ptolemeus I, menulis traktat perkiraan nasib seseorang secara keseluruhan berdasarkan letak tahi lalat.

Rupanya, tahi lalat di pipi berarti kekayaan masa depan yang besar. Sementara, mereka yang memiliki tanda lahir di bagian belakang tenggorokan hidupnya akan berakhir dipenggal.

2. Kekaisaran China   

Dalam pengobatan China klasik, ada sebuah tradisi moleomancy, yaitu ramalan berdasarkan tahi lalat dan tanda lahir. Nasib baik atau buruk bisa dilihat dari tanda khusus ditentukan dari sembilan titik di wajah, yang merupakan titik kemakmuran.

Termasuk juga ukuran dan warna tanda lahir. Tahi lalat  paling mudah dilihat dan dianggap sebagai peringatan atau pengingat nasib dan keberuntungan.

3. Romawi kuno

Bagi masyarakat Romawi kuno, kulit mulus tanpa cacat adalah simbol kecantikan. Tahi lalat, bintik-bintik, dan tanda lahir dianggap sebagai masalah. Karena itu, wanita Romawi berusaha untuk menghapus atau memudarkan menggunakan abu yang terbuat dari siput.

4. Era Renaissance   

Orang-orang di zaman Renaissance memiliki ide yang terbilang aneh seputar tahi lalat. Salah satunya adalah Quack Richard Sanders yang menciptakan 'sistem' yang ia klaim dapat digunakan untuk mencari tahu orang-orang yang memiliki tanda lahir yang sama.

Saat itu, tahi lalat diyakini dapat menggambarkan kepribadian. Jadi, jika Anda dapat menemukan letak tahi lalat atau tanda lahir seseorang, maka bisa diketahui apakah kelak ia akan jadi suami, teman atau mungkin mitra bisnis yang baik atau tidak.

5. Abad ke-18

Pada abad ke-18, mouches yang artinya terbang, merupakan 'noda' yang jadi tren di kalangan wanita. Mouches mirip tahi lalat. Noda yang dibuat pada wajah tersebut seperti tanda kecantikan dan sangat populer di kalangan wanita Eropa Barat.

Begitu banyak para desainer mulai mengembangkannya. Bahkan ada yang membuat ukuran besar dan mouches terlihat seperti seseorang yang ditarik oleh empat ekor kuda.

6. Era Victoria

Pada era Victoria berkembang frenologi atau  'ilmu' yang menganalisis kepala seseorang untuk mengetahui kepribadian, kecerdasan, dan karakter secara keseluruhan. Bahkan ada moleoscopy, sub-genre khusus yang diklaim mampu mengidentifikasi ciri-ciri karakter berdasarkan letak tahi lalat. Misalnya, jika ada tanda lahir atau tahi lalat  di sisi kanan dahi mereka dianggap sangat cerdas dan kompeten. Jika tahi lalat ada di sisi kiri dahi, mungkin Anda tipe orang yang boros.

7. Era 1950an   

Pada era 1950an, tahi lalat dianggap sebagai simbol seksualitas. Seperti Marilyn Monroe, ia memiliki tahi lalat besar di bagian sebelah kiri dekat dengan bibirnya. Lalu, Madonna dan Cindy Crawford juga memiliki tahi lalat dekat bibir. Dulu, tahi lalat dekat bibir dianggap penanda seseorang yang memiliki sensualitas tinggi.

Tag: sejarah

Bagikan: