Disetujui UNESCO, Indonesia Punya Tiga Cagar Biosfer Baru

Tim Editor

Foto-foto Karimunjawa (Unesco)

ERA.id - Tiga cagar biosfer Indonesia, masing-masing, Bunaken Tangkoko Minahasa, Karimunjawa Jepara Muria dan Merapi Merbabu Menoreh, ditetapkan sebagai UNESCO Biosphere Reserves per Rabu, (28/10/2020).

Keputusan tersebut iambil dalam sidang International Co-ordinating Council of the Man and the Biosphere Programme (ICC MAB) sesi ke-32.

Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Surya Rosa Putra, kepada ANTARA, Kamis lalu, mengatakan ketiga cagar biosfer Indonesia tersebut mendapat penilaian positif dari Advisory Committee dan penetapannya disetujui oleh seluruh anggota ICC-MAB.

Sidang sendiri menetapkan 24 proposal cagar biosfer baru, termasuk cagar biosfer Indonesia. Saat ini secara keseluruhan terdapat 714 cagar biosfer UNESCO yang tersebar di 129 negara.

Ketiga cagar biosfer Indonesia tersebut memiliki keunikannya masing-masing. Cagar Bunaken Tangkoko Minahasa misalnya, merupakan ekosistem vulkanik yang memiliki keanekaragaman hayati bawah laut yang sangat kaya.

Sedangkan Karimunjawa-Jepara-Muria adalah ekosistem unik yang merupakan gabungan kepulauan, dataran rendah dan pegunungan. Sedangkan, Cagar Merapi Merbabu Menoreh merupakan ekosistem hutan pegunungan yang menjadi rumah bagi flora dan fauna khas Jawa.

Mewakili Pemerintah Indonesia, Surya Rosa Putra, menyampaikan komitmen Indonesia dalam melanjutkan upaya pelestarian ketiga cagar biosfer tersebut.

Bagi Indonesia, penetapan cagar biosfer tidak hanya bertujuan untuk melindungi dan melestarikan lingkungan hidup namun juga untuk memberi manfaat sosial-ekonomi pada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.

Dikatakannya menjadi bagian dari World Network of Biosphere Reserve (WNBR), membuka peluang Indonesia untuk menjalin kerjasama ilmiah dan sekaligus kerjasama sosio-ekonomi dengan sesama negara anggota UNESCO yang lain.

Wadetap RI mengajak anggota council untuk datang melihat secara langsung keunikan setiap cagar biosfer dalam menopang pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Direktur Eksekutif Komite MAB Indonesia, Prof. Dr. Ir. Y. Purwanto DEA, yang juga hadir sebagai delegasi Indonesia di dalam sidang virtual, mengatakan konsep cagar biosfer itu telah digagas UNESCO sejak tahun 1971, yaitu mengelola suatu kawasan yang bertujuan untuk melakukan harmonisasi antara kebutuhan konservasi keanekaragaman hayati, sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.

Dengan penetapan tiga cagar biosfer, saat ini, Indonesia telah memiliki total 19 UNESCO Biosphere Reserves yang tergabung dalam World Network of Biosphere Reserve (WNBR).

Tag: unesco

Bagikan: