Moeldoko, Soekarno dan Politik Kedaulatan Pangan Indonesia

Tim Editor

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (Twitter @GeneralMoeldoko)

Jakarta, era.id - Lahirnya Moeldoko sebagai bagian dari elite politik nasional sebenarnya telah diprediksi sebelumnya. Keberhasilannya dalam memimpin matra tertinggi angkatan bersenjata Indonesia membuat namanya makin melambung tinggi. 

Hingga akhirnya, mantan politisi Partai Hanura tersebut dipanggil Presiden Jokowi untuk masuk dalam pemerintahan, memegang jabatan strategis, Kepala Staf Kepresidenan (KSP). Pada jabatan inilah, Moeldoko memaksimalkannya untuk berbicara mengenai gagasan politiknya yang membangun bangsa ini.

Dalam beberapa kali kesempatan, Moeldoko sering kali menekankan pandangannya terhadap politik tanah dan air untuk menuju kedaulatan pangan.  Misalnya, saat menjadi pembicara tamu dalam Temu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara se-Indonesia di Universitas Islam Riau, (3/3/2017), Moeldoko menekankan pentingnya politik adaptasi terkait persoalan dunia yang berubah cepat dan ekstrem.

Oleh karena itu, gagasan Politik Tanah dan Air digunakan untuk mengatasi kedaulatan pangan. Politik ini adalah politik yang menghidupkan mental di mana kita mampu mengubah tongkat kayu dan batu kembali jadi tanaman.


(Foto: Istimewa)

Bagi Moeldoko, langkah ini merupakan bentuk politik taktis untuk mencapai kedaulatan pangan. Petani dan nelayan dipersenjatai petani dengan pengetahuian dan teknologi, memperkuat benteng komoditas sesuai dengan konteks ekologi dan menciptakan kedaulatan pangan.

Politik Kedaulatan Pangan yang dilontarkan oleh Moeldoko sejatinya bisa disejajarkan dengan kontek politik ketahanan pangan yang selama ini telah dibawah oleh founding father negara kita, Soekarno.
 
Saat menghadiri peletakan batu pertama Fakultas Pertanian Universitas Indonesia (1959), Soekarno menekankan bahwa persoalan pangan adalah soal hidup matinya bangsa. Seperti contoh, persoalan persediaan beras sering kali menjadi masalah, hingga pada akhirnya negara harus mengimpor komoditas tersebut.

Oleh karena itu, pada pidato Trisakti Bung Karno pada 1963, beliau menekankan pentingan berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan berkepribadian secara sosial-budaya. Dalam hal ini, kedaulatan pangan telah menjadi harga mati bagi negara ini. Pemikiran inilah yang diserap secara apik oleh Moeldoko.

Sebagai Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (KTI), Moeldoko juga memiliki gagasan untuk menjaga kelangsungan pangan Indonesia dengan menciptakan gerakan Brigade Anti Hama. Dengan diisi tim ahli yang khusus memahami isu pertanian, gerakan tersebut berusaha mendampingi petani Indonesia untuk membantu menjaga lahan pertanian yang diserang hama.

Pengamat Politik Universitas Al Azhar Ujang Komarudin menganggap wajar ketika menyamakan Moeldoko dengan Soekarno. Apalagi adanya kesamaan visi antara keduanya.

"Sebenarnya boleh-boleh saja mengeidentifikasi (seseorang dengan orang lain), mungkin gerak perjuangannya sama atau visinya sama," kata Ujang dihubungi era.id, Selasa (24/7/2018).

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) ini menambahkan, jika dikaitkan dengan konteks menjelang Pemilu 2019, Moeldoko juga dianggap cocok. Apalagi, dia berasal dari kalangan militer.

"Moeldoko itukan dari militer dan lawan2 parpol Jokowi dari militer, Prabawo militer, SBY militer. Untuk merangkul suara militer adalah merangkul kalangan militer," kata dia.

Semalam, Joko Widodo mengundang enam ketua umum partai politik yang sudah mendeklarasikan dukungannya dalam pilpres mendatang, di Istana Bogor, Jawa Barat. Dia pun sudah mengantongi satu nama dari hasil pertemuan ini.

Yang hadir dalam pertemuan ini adalah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PPP Romahurmuziy, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar hingga Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang (OSO).

"Masalah-masalah bangsa tak akan bisa dipikirkan dan diselesaikan hanya oleh satu dua orang sahaja," tulis Jokowi di akun Twitter pribadinya.

Tag: moeldoko

Bagikan: