Melawan Paranoid Konsumsi Susu Kental Manis

Tim Editor

Ilustrasi

Jakarta, era.id - Kabar baik buat para mamang warkop dan seluruh pecinta susu kental manis. Sebuah studi terbaru menyatakan, susu kental manis aman buat dikonsumsi. Studi tersebut seperti membantai polemik yang ramai diperdebatkan beberapa waktu lalu, soal ancaman kesehatan yang dapat timbul dari konsumsi susu kental manis.

Dalam seminar bertajuk "Literasi Gizi: Belajar dari Polemik Kasus Susu Kental Manis" yang digelar di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat beberapa waktu lalu, Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI memaparkan pentingnya mengonsumsi susu kental manis sebagai pendukung kebutuhan gizi masyarakat.

Bahkan, pakar gizi yang juga Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Universitas Indonesia, Ahmad Syafiq menuturkan, susu kental manis enggak hanya aman, tapi juga dibutuhkan. Dan enggak cuma buat orang dewasa, susu kental manis bahkan ia sebut memiliki kandungan energi yang diperlukan untuk mendukung pemenuhan gizi anak.

Tapi, yang harus diperhatikan, anak-anak yang dimaksud Syafiq adalah anak berusia balita atau lebih. Bukan anak bayi. lho! "Susu kental manis tidak cocok untuk bayi usia nol hingga 12 bulan dan bukan untuk menggantikan ASI. Susu kental manis boleh disajikan sebagai minuman, tetapi tentu untuk balita harus disesuaikan penyajiannya dan bukan sebagai asupan tunggal," kata Ahmad sebagaimana dikutip dari Antara, Senin (13/8/2018).

Ahmad juga bilang, enggak perlu takut dengan kandungan lemak atau pun gula di dalam produk susu kental manis, sebab Peraturan Kepala BPOM Nomor 21 Tahun 2016 tentang Kategori Pangan dan Standar Nasional Indonesia Nomor 2971 Tahun 2011 tentang Susu Kental Manis telah mengatur batas maksimal campuran lemak dan gula dalam produk susu kental manis.

Dalam aturan tersebut, batas maksimal racikan gula dan lemak pada produk susu kental manis adalah 43-48 persen dan 51-56 persen. Nah, makanya, ketika menjadikan susu kental manis sebagai minuman, kita wajib mencampur dengan takaran air yang pas. Asumsinya, ketika dicampur air, kadar lemak dalam minuman susu kental manis akan berada di kisaran 3,5 gram. Begitu juga dengan total padatan susu bukan lemak yang berkisar di angka 7,8 gram, dan kadar protein di kisaran tiga gram.

Meski dinyatakan aman, jangan juga menjadikan susu kental manis sebagai sumber gizi atau protein utama. "Perlu diingat, bahwa semua jenis makanan saling melengkapi. Tidak ada makanan atau minuman tunggal yang mampu memenuhi kebutuhan gizi seseorang ... Susu kental manis tidak masalah dikonsumsi secara proporsional. Tapi kalau sudah berlebih, apapun juga tidak boleh," kata Syafiq.


Kandungan

Lebih merinci soal kandungan dalam susu kental manis, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Ahmad Sulaeman menjelaskan, produk susu kental manis pada umumnya dibuat dari susu segar yang dikombinasikan dengan kandungan lain, seperti susu skim, susu skim powder, susu bubuk whey, buttermilk powder, palm oil, juga gula.

Kata Sulaeman, gula dalam susu kental manis berfungsi untuk mencegah kerusakan produk. Secara garis besar, susu kental manis adalah hasil rekonstitusi susu bubuk dengan tambahan gula. Susu kental manis juga bisa dijelaskan sebagai produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh dengan menghilangkan sebagian air dari campuran susu dan gula hingga mencapai tingkat kepekatan tertentu.

"Atau, merupakan hasil rekonstitusi susu bubuk dengan penambahan gula, dengan atau tanpa penambahan bahan lain ... Produk susu kental manis lantas dipasteurisasi dan dikemas secara kedap (hermetis)," lanjut Ahmad.

Melengkapi pernyataan dua ahli sebelumnya, anggota Dewan Pengurus Pusat Persatuan Ahli Gizi (PERSAGI), Marudut Sitompul MPS menjelaskan, ada dua karakteristik dasar dari produk susu kental manis. Pertama adalah kadar lemak susu yang enggak kurang dari delapan persen serta kadar protein yang enggak kurang dari 6,5 persen. Jadi, enggak adil juga tuh menyamakan susu kental manis dengan minuman-minuman lain yang sekadar manis. Soal campuran gula yang terkandung di dalam produk susu kental manis, Marudut bilang, jangan takut.

Selain sudah dipastikan takarannya --sesuai aturan BPOM-- yaitu 14 gram per satu gelas, susu kental manis enggak pernah terbukti sebagai penyebab berbagai penyakit yang ditakutkan banyak orang, baik diabetes atau pun obesitas. Marudut mengingatkan kajian ilmiah yang pernah dikemukakan World Health Organization (WHO), bahwa penyebab utama dari kegemukan dan obesitas adalah kekurangan aktivitas fisik. 


Infografis "Kandungan Susu Kental Manis" (Mia Kurniawati/era.id)


Meluruskan larangan BPOM

Mei lalu, BPOM menerbitkan surat edaran yang seketika langsung membuat produk-produk susu kental manis jadi sorotan. Dalam surat yang ditandatangani pada 22 Mei 2018 itu, BPOM menetapkan sejumlah larangan terkait iklan-iklan produk susu kental manis. Pertama, iklan produk susu kental manis enggak boleh lagi menampilkan anak berusia di bawah lima tahun sebagai bintang.

Selain itu, iklan produk susu kental manis juga enggak boleh muncul di jam-jam tayang anak, apalagi dalam program-program televisi anak. Dan yang paling esensial, iklan produk susu kental manis dilarang menggunakan visualisasi yang mengesankan bahwa susu kental manis adalah produk susu yang layak dikonsumsi sebagai pelengkap gizi. Alasannya, susu kental manis nyatanya bukanlah produk yang diperuntukkan bagi anak-anak.

Surat edaran BPOM ini langsung memicu perdebatan. Enggak cuma dari para produsen dan distributor produk susu kental manis, tapi juga dari praktisi industri pemasaran. Center for Healthcare Policy and Reform Studies (Chapters), sebuah lembaga riset dan edukasi kesehatan independen mendorong BPOM untuk bersikap profesional. Iya, maksudnya, jangan sampai kebijakan yang ditetapkan ini bermuatan kepentingan tertentu.

Caranya, tentu saja BPOM enggak boleh bersikap diskriminatif. Artinya, apapun produk susu kental manis yang bermasalah, wajib ditertibkan. Selain itu, BPOM juga harus memperjelas substansi dari surat edaran yang mereka terbitkan. Sebab, sejauh ini surat edaran BPOM hanya mengatur tentang sejumlah larangan pelabelan dan iklan susu kental manis.

Padahal, menurut Chapters, BPOM seharusnya juga mengatur soal kandungan dalam produk susu kental manis. "Ini dapat membingungkan masyarakat ... Saya juga tidak tahu kenapa baru sekarang tiba-tiba, apakah ada kepentingan dibalik itu atau tidak," ungkap Chairman & Founder Chapters Luthfi Mardiansyah dalam keterangan pers yang dirilis.

Hal ini jadi penting untuk diluruskan. Sebab, di tengah rendahnya budaya minum susu masyarakat, ketakutan mengonsumsi susu kental manis malah memperparah kondisi ini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 mengungkap bahwa konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya 16,5 liter per kapita per tahun. Angka ini sangat rendah dibanding konsumsi susu masyarakat di negara-negara ASEAN lain.

Coba lihat Malaysia, yang menurut data USDA Foreign Agricultural Service, masyarakatnya mengonsumsi 50,9 liter. Setelah Malaysia, Thailand jadi negara dengan konsumsi susu terbesar: 33,7 liter, disusul Filipina yang konsumsi susunya 22,1 liter. Produksi susu segar di Indonesia sendiri baru mencapai 920.093,41 ton pada 2017, terpantau hanya naik 0,81 persen dari tahun sebelumnya: 912.735,01 ton.

Lagipula, sejatinya BPOM pun enggak pernah dengan eksplisit menyebut susu kental manis sebagai produk berbahaya. Toh, larangan ini pun hanya ditujukan untuk mengendalikan iklan-iklan produk susu kental manis. Yang paling penting kayaknya adalah menghentikan paranoid akan konsumsi susu kental manis. Sebab, jika dikonsumsi dalam takaran yang pas, susu kental manis punya macam-macam manfaat.

Jadi, mari nyusuuu~

Tag: kesehatan polemik susu kental manis viral anak nonton porno

Bagikan: