885 Titik Panas di Kalbar Berdampak pada Kualitas Udara

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengungkap hasil pantauan 24 jam terakhir dari satelit Aqua, Terra, SNPP pada katalog Modis Lapan. Hasilnya, terdeteksi 885 titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat.

Dijelaskan Sutopo, dari 885 titik panas yang dipantau sejak pukul 07.13 WIB, 509 titik panas dikategorikan sedang, dan 376 titik panas dengan kategori tinggi. Menurutnya, jumlah 885 titik panas di Kalimantan Barat ini adalah terbanyak dibandingkan provinsi lain di Indonesia. 

"Daerah yang cukup banyak terdeteksi titik panas adalah Kalimantan Tengah adalah 151 titik panas. Secara keseluruhan terdapat 1.231 titik panas di Indonesia pada Kamis, 23 Agustus 2018, pukul 07.13 WIB. Daerah lainnya jumlah hotspot tidak terlalu banyak," kata Sutopo, melalui keterangan tertulis, di Jakarta, Kamis (23/8/2018).

Sutopo menambahkan, upaya pemadaman terus dilakukan tim satgas terpadu di daerah-daerah rawan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan, seperti di Jambi, Riau, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Menurutnya, dampak kebakaran juga telah menyebabkan kualitas udara berdasarkan konsentrasi partikulat atau PM10 terukur 166 mikro gram per meter kubik atau kategori tidak sehat.


(Ilustrasi/Pixabay) 

"Sebaran asap mengarah ke utara di wilayah Kalimantan Barat bagian barat. Sebanyak 2.000 orang dilaporkan menderita sakit ISPA selama musim kemarau ini. Bandara Internasional Supadio di Pontianak tetap beroperasi normal. Jarak pandang 4 kilometer," terangnya.

"Sementara itu sekolah sudah masuk kembali, setelah sebelumnya sekolah diliburkan selama 20 hingga 22 Agustus 2018 karena pengaruh asap kabakaran hutan dan lahan," lanjutnya.

Di sisi lain, Sutopo mengungkap, dampak dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan Barat, telah menyebabkan empat orang meninggal dunia sejak sebulan terakhir. Jumlah ini, kata dia, merupakan data sejak hari Selasa, (21/8).

"Korban meninggal akibat terpapar asap dan api saat lahan di sekitarnya terbakar. Mereka terjebak dalam kepungan api yang dibuat untuk membersihkan lahan. Keempat korban berasal dari daerah yang berbeda yaitu Kabupaten Melawi, Sambas dan Sintang," ucapnya.
 
Dikatakan Sutopo, BMKG juga telah mengeluarkan peringatan dini bahwa cuaca makin kering dan berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan, hujan akan makin berkurang dan puncak kemarau terjadi selama Agustus hingga September. BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan. 

Tag: kebakaran hutan bnpb

Bagikan: