Sebentar Lagi Melahirkan, Harimau Sumatera Mati Terjerat

Tim Editor

    Harimau sumatera mati terjerat. (Foto: Twitter @singkys)

    Pekanbaru, era.id - Harimau sumatera liar mati akibat jerat kawat baja di Provinsi Riau. Padahal, tak lama lagi harimau itu akan melahirkan sepasang anak, jantan dan betina. Hal itu diketahui berdasarkan hasil nekropsi atau bedah bangkai yang dilakukan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau.

    Kepala BBKSDA Provinsi Riau Suharyono mengatakan, dua janin di kandungan harimau betina itu diperkirakan berusia lima bulan lebih. Janin itu juga mulai terlihat utuh menyerupai anak harimau. Dalam kondisi normal, harimau sumatera betina akan melalui masa bunting selama sekitar enam bulan sebelum melahirkan.

    "Kondisi harimau ternyata sedang bunting atau hamil dan yang sangat menyedihkan harimau itu seharusnya sudah siap untuk melahirkan sekitar 14 hari ke depan," kata Suharyono di Pekanbaru, seperti dikutip Antara, Kamis (27/9/2018).

    Ia menjelaskan dua janin itu terdiri dari harimau jantan seberat 8 ons, sedangkan yang betina sebesar 6,5 ons. Diagnosa tim dokter hewan dalam nekropsi menunjukkan indikasi satwa bernama latin panthera tigris sumatrea itu mati akibat jerat kawat baja sangat ketat mencengkram perut, yang mengakibatkan ginjalnya pecah.

    Baca Juga : Ngeri! 2 Singa dan Jaguar Kabur dari Kebun Binatang

    "Ini sangat menyedihkan karena tiga ekor harimau sumatera yang langka dan dilindungi di Indonesia ini, dan juga dilindungi oleh dunia, mati dalam satu waktu akibat jerat," katanya.


    (Ilustrasi/Pixabay)

    Pelaku penjerat harimau sumatera ditangkap

    Suharyono mengatakan, pihaknya sudah menemukan pelaku yang memasang jerat kawat baja, yang telah menewaskan harimau sumatera liar beserta janin yang sedang dikandungnya di Kabupaten Kuantan Singingi. Untuk proses hukum selanjutnya, BBKSDA Riau akan berkoordinasi dengan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau.

    "Ada satu orang yang kita bawa dari lokasi. Inisialnya E, dan mengaku sebagai pemasang jerat," katanya.

    Baca Juga : Harimau Pemangsa Bikin Geger Warga Bahorok Langkat

    Menurut dia, sejauh ini E statusnya masih sebagai saksi karena mengaku memasang jerat itu untuk menangkap babi, bukan untuk menangkap harimau sumatera. Keterangan dari saksi bisa diragukan karena jerat kawat baja yang digunakan cukup besar sehingga bisa mencengkram perut harimau sumatera. Pelaku merupakan seorang pekerja yang menjaga kebun kelapa sawit di daerah tersebut.

    Baca Juga : Pantaskah Pembantaian Buaya di Sorong Disebut Konflik?

    "Keterangan saksi akan kita dalami, karena setiap orang yang masang jerat mana pernah mau ngaku itu untuk menangkap harimau. Pasti bilangnya untuk menangkap babi," katanya.

    Menurut dia, pelaku layak dihukum berat karena perbuatan tersebut sangat mengerikan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, lanjut Suharyono, pelaku bisa dihukum penjara selama lima tahun dan denda Rp100 juta.


    (Infografis/era.id)

    Harimau sumatera yang diperkirakan berusia empat tahun itu ditemukan mati akibat jerat di daerah perbatasan Desa Muara Lembu dan Pangkalan Indarung, Kabupaten Kuantan Singingi, Rabu (26/7). Suharyono bilang, lokasi tersebut berada di luar kawasan hutan, namun masih dalam area jelajah harimau Sumatera di lanskap Rimbang Baling.

    Tim Rescue BBKSDA sebelumnya menerima laporan dari warga bahwa ada seekor harimau liar yang terjerat di daerah itu. Petugas sempat dua hari melakukan penyisiran sebelum akhirnya menemukan satwa terancam punah itu dalam kondisi mati.

    Tim Rescue menemukan bangkai harimau sumatera menggantung di pinggir jurang dengan jerat kawat baja membelit perutnya. "Diperkirakan harimau tersebut berhasil meloloskan diri dari jerat, namun tali jerat tersangkut di semak dan membelit pinggangnya sehingga menggantung di tepi jurang dan membuatnya mati," katanya.

    Baca Juga : Karena Kemerdekaan Juga Hak Orang Utan

    Ia menambahkan, bangkai induk harimau dan dua janinnya sudah dikubur di halaman belakang kantor BBKSDA Riau. "Makamnya ditutup dengan semen supaya tidak ada yang bisa mencuri kulit dan organ lainnya," ujar Suharyono.

    Tag: penyiksaan hewan hewan langka penyelundupan hewan

    Bagikan :