Billy Sindoro yang Belum Jera Menyuap

Tim Editor

Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro

Jakarta, era.id - Cuma orang bodoh masuk ke lobang yang sama. Petuah itu akhirnya menimpa Billy Sindoro. Setelah pernah tersangkut suap komisioner KPPU M Iqbal, Billy Sindoro kini kembali harus berurusan dengan KPK.

Senin (15/10) malam, Direktur Operasional Lippo Group itu kembali digelandang masuk penyidik ke markas KPK. Yang membedakan dengan kasus sebelumnya cuma masalah gedung. Di kasus terdahulu, Billy berurusan dengan KPK di gedung yang lama di Jalan HR Rasuna Said.

Billy tiba di Gedung KPK sekitar pukul 23.39 WIB. Mengenakan jas berwarna biru tua, Billy memilih bungkam dan cuma menebar senyum ke awak media. Dia langsung digiring masuk menuju ruang pemeriksaan.

Billy adalah satu dari sembilan tersangka yang baru saja ditetapkan KPK. Diduga kuat, Billy adalah salah satu penyuap Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan sejumlah pejabat Pemkab Bekasi lainnya. Tak tanggung-tanggung, Rp13 miliar sudah disiapkan supaya urusan perizinan proyek Meikarta di Bekasi bisa lancar. Sebelum tertangkap, sudah Rp7 miliar uang digelontorkan kepada pejabat Pemkab Bekasi.


Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin

Billy pasti tak akan lupa kejadian September 2008 lalu di Hotel Aryaduta Jakarta. Dia ditangkap KPK setelah lebih dulu menciduk Komisioner KPPU M Iqbal. Kala itu, Iqbal mau keluar hotel sambil membawa tas hitam berisi uang Rp500 juta. Uang suap itu berasal dari Billy yang kebetulan punya kasus di KPPU yang sedang ditangani Iqbal. Billy kala itu adalah Direktur PT First Media.

Di pengadilan tingkat pertama, Billy divonis tiga tahun dan denda Rp200 juta subsider tiga bulan penjara. Vonis yang lebih rendah setahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum. Billy tak terima. Tapi dia tak mau mengajukan banding dan malah memilih upaya hukum luar biasa dengan mengajukan permohonan PK ke Mahkamah Agung.

Upaya Billy sia-sia. Permohonannya ditolak majelis hakim agung yang terdiri dari Timur Manurung, Imam Harjadi, dan Artidjo Alkostar. Permohonan PK itu diputus pada 1 Juli 2009 lalu. Dengan penolakan itu, maka yang berlaku adalah Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

Dan kini Billy kembali berhadapan dengan kejadian yang kurang lebih sama. Apakah KPK akan menghukum Billy jauh lebih berat?
 

Tag: suap di meikarta

Bagikan: