Kala Djarot Berlagak Jadi Barista

Tim Editor

Djarot Saiful Hidayat. (Tasha/era.id)

Jakarta, era.id - Suasana Posko Cemara 19 mendadak ramai ketika agenda sore itu disebar. Mantan Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat dijadwalkan hadir untuk mengisi kegiatan di Media Center Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin, Jumat (26/10) kemarin.

Agak ngaret, tapi akhirnya yang ditunggu pun datang juga. Dengan mengenakan jaket merah, Djarot turun dari mobil Mitsubishi Pajero Sport berwarna putih. Tak banyak bicara, ia langsung masuk ke dalam rumah yang biasanya diisi untuk konferensi pers.

Sembari menunggu Djarot yang bersiap-siap akan memberikan konferensi pers, masuk seorang laki-laki ke dalam ruang konpers. Ia membawa tas dan sebuah kantong berwarna cokelat. Dari dalam tasnya dikeluarkanlah sebuah tabung yang ternyata isinya kopi dan diletakannya di atas meja.

Tak lama kemudian, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang mendampingi Basuki Tjahja Purnama alias Ahok itu pun masuk ke dalam ruangan. Dengan menebar senyum, pria berkumis itu pun langsung duduk di depan awak media yang telah menantinya.



"Jadi teman-teman sesuai janji saya waktu ke Cemara lalu, setelah saya pulang dari Sumatera Utara, saya akan bawakan produk lokal yang terkenal dari Sumut yaitu kopi," kata Djarot, Jumat malam (26/10).

Politikus PDIP itu kemudian mengambil satu wadah kopi yang tadi dikeluarkan dari dalam tas. "Saya bawa ini kopi lintong. Kalau kopi gayo, toraja kalian sudah kenal. Sidikalang kalian sudah kenal. Tapi ini kopi lintong," ungkapnya.

Dia lantas menjelaskan kalau kopi lintong ini merupakan biji kopi jenis arabika, karena tumbuhnya di dataran tinggi. Salah satunya ada di sebuah kabupaten di Tapanuli Utara. Djarot lantas bilang, tujuan dia membawa kopi bermerk 'Tabodo' yang artinya 'enak' itu untuk menunjukkan kalau Indonesia ini kaya.

"Indonesia ini kaya, kaya akan komoditas yang bisa diolah, dikemas dengan baik dan kualitas pengemasannya sangat baik. Saya lihat di sana dan ini sudah jadi komoditas ekspor," ujar Djarot.

Baca Juga : Manfaat Kopi Hijau yang Jarang Diketahui

Bak barista, Djarot kemudian menjelaskan macam-macam kopi. "Kalau robusta itu agak pahit tidak begitu asam, sementara untuk arabica rasanya lebih asam dibandingkan robusta," jelas dia.

Djarot juga menjelaskan kalau kopi jenis robusta lebih murah dibandingkan arabica. Sebab, robusta biasa ditanam di dataran rendah, sementara arabica butuh dataran tinggi untuk tumbuh dan untuk memasaknya jauh lebih lama.



Mendengar Djarot bicara soal kopi pun, membuat para pewarta sedikit menikmati sajian materi yang beda. Bahkan, moderator konferensi pers pun sampai menyebut kami, para pewarta, terpukau dengan pemaparan Djarot soal kopi. Sebab, memang benar, baru kali ini Djarot bicara panjang lebar soal kopi.

Lantas caleg DPR RI itu menjelaskan alasannya mengapa ia tiba-tiba bicara soal kopi. Sebab, dirinya memang ditugasi untuk berjuang dari dapil Sumut III. Tapi tugasnya tak hanya bicara memenangkan dirinya dan capres cawapres nomor urut 01. Dia juga diberikan tugas untuk mengembangkan potensi yang dimiliki Sumatera Utara untuk diekspor ke luar. Apalagi, Presiden Jokowi telah membangun cukup banyak infrastruktur dan hal itu dilakukan agar membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru.

"Harus diakui, itu hanya bisa terjadi kalau pemerintah pusat turun tangan dan membantu pengembangan di wilayah seluruh provinsi di Indonesia," jelas Djarot.

Selain potensi kopi, Djarot juga menyebut masih banyak potensi lain yang bisa dikembangkan anak muda untuk memajukan ekonomi. Termasuk membangun brand kopi Indonesia yang bisa menembus pasar internasional. Selain itu, keanekaragaman komoditas pun dianggapnya bisa dikembangkan anak muda.

"Masih banyak yang bisa dikembangkan. Contoh untuk kecantikan itu gambir. Untuk pewangi ada bunga kenanga, bunga kamboja. Minyak jahe, kencur, kemenyan, barus dan lainnya," tutupnya.

Tag: jokowi-maruf amin

Bagikan: