Karena Suara Milenial Itu Penting

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Pemilih milenial (era.id)

Jakarta, era.id – Milenial, istilah yang saat ini sering terdengar. Generasi dengan rentang usia 20 tahun hingga 33-35 tahun itu jumlahnya banyak, suaranya menjadi rebutan, termasuk oleh partai politik. Semua partai, sudah menyadari besarnya suara generasi milenial dan berlomba-lomba mencari cara untuk menggaet dukungannya.
Kenapa?

Dari sisi politik, generasi milenial menjadi penentu kemenangan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 dan Pemilihan Umum 2019. Merujuk pada survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), proporsi pemilih generasi milenial mencakup 55 persen dari total jumlah pemilih potensial Pemilu 2019 yang diperkirakan mencapai 192 juta pemilih.

Pada Pemilu 2014, jumlah pemilih rentang usia 17-20 tahun mencapai 14 juta pemilih. Sedangkan pemilih usia 20-30 tahun mencapai 45,6 juta jiwa. Komisi Pemilihan Umum (KPU) di pusat dan daerah juga menangkap lonjakan jumlah pemilih milenial pada Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

KPU menargetkan partisipasi pemilih pada Pilkada 2018 mencapai 77,5 persen dari total jumlah pemilih. Target itu diyakini tercapai dengan soliditas kerja petugas pemilu.

“Sosialisasi yang masif terutama untuk generasi milenial, tentu dengan sarana prasarana yang sesuai dengan gaya hidup mereka,” kata Ketua KPU Arief Budiman, kepada era.id, pekan lalu.

Apa langkah konkretnya?

Komisioner KPU, Viryan, mengatakan pendekatan pada pemilih milenial dimulai dengan menjaga kualitas seluruh tahapan pilkada dan responsif pada hal-hal yang dapat meningkatkan partisipasi pemilih milenial. Sosialisasinya, kata Viryan, bisa digenjot di media sosial menggunakan konsep menarik.

“Karena salah satu tipikal generasi milenial itu dia enggak suka dengan sesuatu yang tidak jujur. Jadi, kredibilitas menjadi kunci,” kata Viryan.



Media sosial
 
Langkah KPU menggaet pemilih milenial melalui media sosial sejalan dengan hasil riset aplikasi media sosial berlandaskan lokasi, Yogrt, yang menyatakan teknologi digital menjadi sumber informasi utama generasi milenial. Generasi milenial menggunakan media sosial supaya melek isu. Atau, supaya enggak dibilang; “Ah, kuper lu.”

Menurut data Yogrt, media sosial ada di urutan teratas dari tiga sumber infomasi yang diakses generasi milenial. Persentasenya meliputi 79 persen untuk media sosial, 56 persen untuk televisi, dan 34 persen situs berita yang diakses melalui url.

Tinggalkan cara kuno

Direktur Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menyarankan KPU menggunakan cara kreatif dalam sosialisasi tatap muka.

Misalnya, menggelar acara terkait hobi, olahraga maupun seni, yang di dalamnya diselipkan tema pentingnya ambil peran menentukan kepala daerah.

Jika lokasinya di daerah terpencil, sosialisasi pilkada dapat dilakukan melalui karang taruna atau acara keagamaan. Ketertarikan generasi milenial pada pilkada harus dijaga hingga memberikan hak pilih di bilik suara.

"Jadi pendekatan sosialisasi KPU tidak bisa berbasis ceramah. Tidak bisa berbasis satu arah.  Penyelenggara pemilu jangan ketinggalan zaman, jangan pasif," ucap Titi.

Tag: lipsus pilkada

Bagikan: