Gerilya Desa, Jadi Strategi Karding di Pileg 2019

Tim Editor

Kegiatan Abdul Kadir Karding di daerah pemilihan. (Wardhany/era.id)

Jakarta, era.id - Menjadi Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin, sekaligus menjadi anggota DPR RI dan menjadi kembali maju jadi caleg di Pileg 2019 mungkin jadi hal yang menantang bagi Abdul Kadir Karding. 

Kali ini, tim era.id berkesempatan mengikuti kegiatan Karding saat berkunjung ke Magelang dan Purworejo yang merupakan dapilnya di Jawa Tengah VI. Berangkat dari Jakarta sekitar pukul 07.25 WIB kami langsung menuju Kota Purworejo yang terletak di timur kota Yogyakarta. 

Ada dua agenda yang dilakukan Karding di kota ini, yaitu pelatihan pupuk kompos serta pemberian bibit pohon jati dan penyerahan bantuan untuk 18 BUMDes dari wilayah Wonosobo, Purworejo, Temanggung dan Magelang. 

Sementara agenda lainnya di Kota Magelang adalah membagikan bantuan berupa motor pengangkut sampah sebanyak 30 unit kepada beberapa desa di wilayah dapilnya.

Di sela-sela acara, kami sempat menanyakan bagaimana cara dirinya membagi waktu dengan kesibukannya sebagai anggota dewan dan wakil ketua tim pemenangan paslon nomor urut 01. Menurut Ketua DPP PKB ini, dalam seminggu dia bisa dua kali turun ke dapilnya jika tak harus mengurusi Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin.

"Sekarang, karena saya sibuk di TKN kemudian satu minggu maksimum dua atau tiga hari baru saya bisa turun," kata Karding di tengah kunjungannya itu.

Karding paham betul, untuk urusan kampanye tentu dia harus dibantu oleh tim yang sudah dibentuknya. Ia bersama timnya pun sudah menyiapkan strategi, termasuk bergerilya di desa-desa yang ada di dapilnya. Menurut Ketua DPP PKB ini, dengan bergerak di desa-desa, ia bersama timnya langsung menyentuh pemilih.

"Desa itu langsung bersentuhan dengan pemilih, kemudian kita akan dorong mereka (tim untuk) door to door campaign itu yang sebelumnya kita canvasing. Jadi yang belum kenal kita, jadi kenal karena melakukan canvasing," jelasnya.


Kegiatan Karding di daerah pemilihan. (Wardhany/era.id)

Meski bergerilya dari desa ke desa, anggota DPR RI ini bilang tak semua desa dikunjunginya karena keterbatasan waktu. Sehingga, ia memilih desa-desa yang akan dikunjunginya berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan bersama timnya.

"Kita target sesuai dengan isu dan kebutuhannya. Kemudian, kita sampaikan apa yang kira-kira kita perjuangkan dan targetnya," ungkapnya.

Mengatur keuangan kampanye 

Karding mengaku, untuk menangani keuangan kampanye memang sedikit sulit. Sebab, jika tak diatur maka biayanya bisa membengkak. Ada beberapa hal yang harus diatur Karding dan timnya agar biaya kampanyenya tidak mahal seperti biaya operasional tim, biaya operasional kendaraan. 

Tak hanya soal operasional, Karding juga harus mengurusi biaya pembuatan Alat Peraga Kampanye (APK) yang jadi sarana kampanye. Belum lagi, ketika dirinya harus menggelar acara baik pertemuan berbentuk diskusi atau acara kompetisi olahraga, yang terakhir adalah bantuan.

Karding bercerita, saat menjabat sebagai anggota DPR dirinya harus siap dianggap serba bisa oleh masyarakat yang diwakilinya di gedung parlemen. Sehingga tak jarang, masyarakat datang padanya untuk meminta bantuan. 

Jenisnya pun beragam, seperti pembangunan masjid atau mushola, pembangunan pesantren atau sarana pendidikan dan hal lainnya. Tapi permintaan itu juga tentu akan diseleksi lagi oleh ia dan timnya.

"Itu tidak mungkin dihindari cuma harus diseleksi betul. Mereka betul butuh atau tidak. Atau hanya karena mau pemilu saja jadi tim harus kuat melakukan seleksi," jelasnya.

Salaman jadi gaya komunikasi politik

Anggota DPR RI ini menjadikan salaman sebagai salah satu gaya politiknya. Dalam pertemuan di tiga lokasi itu, Karding tampak menyalami semua peserta yang hadir. Politikus PKB ini bilang, gaya ini sudah sejak lama ia lakukan. 

"Itu kan model komunikasi politik yang memang sudah saya lakukan sejak lama, dari di DPRD. Cuma kalau dulu saya ngga terkenal seperti Pak Jokowi," ujarnya sambil berkelakar.


Kegiatan Karding di daerah pemilihan. (Wardhany/era.id)

Dirinya menyebut, sengaja menggunakan salaman sebagai gaya komunikasi politiknya karena ia menilai rakyat suka dengan politisi yang ramah.

"Masyarakat menganggap sentuhan emosional penting. Mereka senang dengan orang yang humble, ramah, yang mereka di sapa," tutupnya.

Tag: dana kampanye pkb

Bagikan: