Kubu Jokowi: Mengurus Pengangguran Tak Mudah

Tim Editor

Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Irma Suryani Chaniago. (Wardhany/era.id)

Jakarta, era.id - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut angka jumlah angkatan kerja Indonesia pada Agustus 2018 sebanyak 131,01 juta orang, dengan rincian sebanyak 124,01 juta orang adalah penduduk bekerja, sedangkan sebanyak 7 juta orang menganggur. Artinya, dalam setahun ini angka angkatan kerja ini, juga disebut BPS bertambah 2,99 juta orang, sementara pengangguran berkurang 40 ribu orang.

Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Irma Suryani Chaniago bilang, Presiden Jokowi punya empat cara untuk mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Salah satunya dengan melakukan revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) dengan tujuan memberikan kemampuan bagi masyarakat yang tidak menempuh pendidikan formal.

"Tahun 2018, pemerintah melalui Kemenaker (Kementerian Tenaga Kerja) sudah melakukan revitalisasi seluruh BLK. Gunanya untuk meningkatkan skill teman-teman yang tidak memiliki sekolah formal," kata Irma kepada wartawan, Selasa (27/11/2018).

Selain itu, menurut anggota Komisi XI DPR RI itu, saat ini, pemerintah sedang membangun 1.000 BLK komunitas yang dibangun di pesantren. Sehingga, nantinya lulusan pesantren juga akan mampu bersaing dengan angkatan tenaga kerja lainnya ketika menyelesaikan pendidikannya.

Untuk mampu menghasilkan angkatan tenaga kerja yang mampu bersaing di pasar bebas, pemerintah melalui Kementerian Tenaga Kerja, juga membuat program magang di perusahaan internasional.

"Pemerintah melalui Kemenaker juga sudah melakukan program pemagangan di seluruh perusahaan-perusahaan besar. Agar tenaga kerja kita yang tidak memiliki skill bisa memiliki skill dengan pemagangan itu dan tidak boleh lebih dari satu tahun," kata Irma.

Program terakhir yang disebut oleh politikus Partai Nasdem itu adalah zero cost bagi pekerja migran Indonesia. 

"Jadi yang mau ke luar negeri enggak boleh dipungut lagi. Untuk kesehatan maupun pendidikannya sudah di subsidi oleh pemerintah," ungkap Irma.

Baca Juga : Pengangguran di Indonesia Berkurang 40 Ribu Orang

Kata dia, menurunkan angka pengangguran di Indonesia butuh usaha lebih keras lagi. Sebab, pekerjaan itu tidak semudah membalikan telapak tangan.

"Tidak bisa seperti membalikkan telapak tangan. Kenapa? Empat tahun itu bukan waktu yang panjang. Empat tahun itu waktu yang singkat," ujar Irma.

Selain itu, Irma juga menilai, sempitnya anggaran juga berpengaruh dalam menyelesaikan janji pengentasan pengangguran itu. Sehingga, pengurangan jumlah pengangguran ini merupakan salah satu program yang masuk dalam program jangka panjang.

"Jadi enggak bisa semua program yang ada di nawacita itu bisa sekaligus terealisir. Kenapa? Waktunya sempit, kemudian anggarannya juga terbatas. Jadi memang harus step by step melihatnya. Jangka pendek harus diselesaikan jangka pendek. Jangka panjang harus diselesaikan jangka panjang. Bukan berarti berbohong," kata dia.

Tag: jokowi-maruf amin pengangguran

Bagikan: