Trah Keluarga Cendana di Politik Nasional

Tim Editor

Ilustrasi (era.id)

Jakarta, era.id - Keluarga Cendana, begitu istilah untuk keluarga besar Presiden Kedua RI Soeharto. Nama ini tentu tidak asing di kalangan rakyat Indonesia. Nama ini pun familiar di kalangan politikus nasional.

Nama Cendana sesungguhnya merujuk ke Jalan Cendana, Menteng, yang jadi kediaman keluarga ini. Di sini, Soeharto bersama istrinya, Siti Hartinah (Tien) tinggal dengan enam orang anaknya. Mereka adalah Siti Hardijanti Rukmana, Hutomo Mandala Putra, Sigit Harjojudanto, Siti Hediati Heriyadi, Bambang Triatmodjo, dan Siti Hutami Endang Adiningsih. 

Selama 32 tahun menjabat sebagai pemimpin negeri ini, membuat nama anak Soeharto mudah dikenal. Di antaranya bahkan ikut terjun ke dunia politik.

Kami merangkum kiprah tiga anak Soeharto di kancah perpolitikan Nasional. Dua anaknya bahkan bergabung dalam Partai Berkarya yang ikut Pemilu 2019. Partai ini merupakan fusi dari 2 partai politik, yaitu Partai Beringin Karya dan Partai Nasional Republik. Pada pemilu kali ini, mereka mendapatkan nomor urut 7 dan mendeklarasikan dukungannya untuk pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.


Keluarga Cendana. (Foto: Reuters)

1. Siti Hardijanti Rukmana 
 

Perempuan ini lebih dikenal dengan panggilan Mbak Tutut Soeharto. Dialah anak sulung Presiden Soeharto. Sebagai anak sulung, sang ayah beberapa kali 'menuntun' Tutut untuk meneruskan karier politik yang dibandung puluhan tahun.
 
Saat rezim Orde Baru, Tutut kerap terjun ke dunia politik atas arahan Soeharto. Tutut juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia menggantikan Ibnu Sutowo pada 1992 sampai dengan 1998.
 
Malah Tutut adalah satu-satunya anak Soeharto yang masuk ke dalam kabinet. Dia dipilih sebagai Menteri Sosial pada Kabinet Pembangunan VII, menggantikan Endang Kusuma Inten Soeweno. Tutut hanya menjadi Mensos selama dua bulan hingga Soeharto lengser pada 21 Mei 1998. Tutut jugalah anak Soeharto yang menemani sang ayah saat menyampaikan pidato pengunduran diri.
 
Lunturnya kekuasaan rezim Orde Baru, tidak membuat perempuan kelahiran 23 Januari 1949 itu mengendurkan ambisinya dalam dunia politik. Tahun 2002, Tutut mendirikan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), sebagai kendaraan politiknya pada Pilpres 2004. Saat itu, kerabat dekat cendana, Hartono, yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, dilantik sebagai Ketua Umum PKPB. Namun, partai tersebut gagal dapat kursi di parlemen. 

Kegagalan PKPB tidak bikin Tutut istirahat. Pada 2014, dia menjadi juru kampanye Partai Golkar. Tapi hingga kini, Tutut tidak pernah sekalipun menduduki jabatan publik sejak kejatuhan Soeharto.


Siti Hardijanti Rukmana atau Mbak Tutut saat kampanye untuk Golkar (Foto: Reuters)

2. Hutomo Mandala Putra
 

Pria yang terkenal dengan sebutan Tommy Soeharto ini adalah anak bungsu Soeharto. Sempat disebut sebagai anak kesayangan presiden Soeharto dan mendapat julukan 'Pangeran Cendana'.
 
Pada 11 Maret 1988, pertama kalinya Tommy dan kakak-kakaknya menghadiri upacara pelantikan sang ayah sebagai presiden untuk masa jabatan kelima. Saat itu banyak yang menilai Soeharto sedang membuka jalan politik untuk anak-anaknya.
 
Demi memoncerkan langkah politik trah Cendana, Tommy, bersama Tutut dan Bambang Triatmodjo bergabung dengan Golkar. Tepat pada 1992, Soeharto mengangkat tiga anaknya sebagai anggota MPR hingga kekuasaannya jatuh pada 1998.
 
Tommy tercatat pernah menjadi buronan untuk kasus hukum pada periode 2000-2001. Tommy bahkan disebut-sebut terlibat dalam kasus pembunuhan Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita.


Tommy Soeharto kala menikah dengan 'Tata' Ardhia Pramesti Regita Cahyani (Foto: Reuters)

Tommy akhirnya tertangkap dan diproses hukum pada penghujung 2001. Usai segala 'drama' peradilan, pada 2008, para petinggi Partai Golkar mengizinkan Tommy dan saudara-saudaranya kembali bergabung di Partai Golkar, dengan syarat tidak terlibat masalah hukum.
 
Pada 2016, Tommy dikabarkan bakal mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Partai Golkar, tapi akhirnya batal karena dia diangkat menjadi anggota Dewan Pembina Partai Golkar.Tak lama setelahnya, Tommy memilih keluar dari Partai Golkar dan mendirikan Partai Nasional Republik (Nasrep) yang tidak terdengar gaungnya.
 
Pada akhir 2016, Tommy mendirikan Partai Berkarya, dengan meleburkan dua partai, yaitu Partai Beringin Karya dan Partai Nasional Republik. Setelah melewati beberapa tahap dan pemenuhan terhadap persyaratan dari KPU, Partai Berkarya berhasil menjadi peserta Pemilu 2019. Di Partai ini, Tommy menjadi ketua umum.
 
3. Siti Hediati Hariyadi  
 
Itulah nama panjang Titiek Soeharto. Dia adalah anak keempat Soeharto dan pemilik gelar sarjana ekonomi di Universitas Indonesia pada 1985. Titiek pernah menikah dengan Prabowo Subianto pada Mei 1983. Pernikahan mereka berakhir pada 1998.
 
Semasa Soeharto masih berkuasa, Titiek dikenal dengan gaya hidupnya yang glamor. Koleksi tas dan pakaiannya berasal dari merek terkemuka dunia seperti Harry Winston dan Bvlgari. Titiek juga hobi berburu berlian kala berwisata ke luar negeri. 
 
Titiek pernah memegang jabatan penting di sejumlah perusahaan seperti BEJ (1995-1998), PT Mekar Unggul Sari (sejak 1994) dan pernah menjadi komisaris SCTV hingga 2015.Usai kejatuhan Soeharto, nyatanya Titiek tetap berjaya di percaturan politik Indonesia. 
 
Dia dipercaya memimpin bidang pertanian dan nelayan DPP Partai Golkar (2012-2015). Pada pilpres 2014 lalu, Titiek juga menjadi salah satu juru kampanye pasangan Prabowo-Hatta Rajasa.

Di Pemilu 2019 ini, Titiek bergabung bersama Tommy di Partai Berkarya. Titiek menduduki jabatan sebagai ketua dewan pertimbangan Partai Berkarya. 


Ilustrasi (era.id)

Tag: pemilu titiek soeharto partai berkarya presiden soeharto

Bagikan: