Dear Pak Jokowi, Keluarga Ingin 64 Korban Lion Air Ditemukan

Tim Editor

Kelurga korban Lion Air PK-LQP meminta pemerintah segera menemukan 64 korban hilang. (Diah/era.id)

Jakarta, era.id - Peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 di perairan Karawang, Jawa Barat, sudah lewat satu setengah bulan. Namun, masih ada hal yang belum selesai, khususnya bagi keluarga penumpang yang menjadi korban.

Mereka belum tenang, merasa masih ada hak yang belum terpenuhi. Oleh karenanya, sore ini sejumlah keluarga korban pesawat yang jatuh pada 29 Oktober lalu tersebut mendatangi Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat untuk menyampaikan aspirasi kepada Presiden Joko Widodo.

"Kami di sini tidak untuk berdemo kepada Pak Jokowi. Kami di sini hanya menyampaikan aspirasi, mewakili dari keluarga penumpang Lion Air. Kami juga berkirim surat yang sore ini sudah masuk ke Istana," tutur Anton Suhadi, keluarga dari korban bernama Rian Ariyandi saat ditemui di depan Istana Negara, Jakarta, Kamis, (13/12/2018).


Kelurga korban Lion Air PK-LQP meminta pemerintah segera menemukan 64 korban hilang. (Diah/era.id)

Diketahui, pada 10 November lalu, Badan SAR Nasional telah menutup masa pencarian korban dengan temuan terakhir sebanyak 125 yang telah teridentifikasi dan masih menyisakan 64 korban yang belum ditemukan.

Anton menjelaskan, pada tanggal 23 November lalu, pihak Lion Air berjanji kepada akan melakukan dan membiayai pencarian lanjutan tahap kedua. Saat ditagih, Lion Air menjadwalkan ulang kedatangan kapal pencarian korban pada 17 Desember mendatang.

"Kami selaku keluarga korban pesawat Lion Air JT-610 memohon perkenan Bapak Presiden untuk dapat
memfasilitasi tuntutan kami kepada pihak Lion Air, agar segera merealisasikan janjinya untuk melakukan pencarian korban lanjutan tahap ke-2, dengan menggunakan kapal dan peralatan canggih sebagaimana kesepakatan dengan keluarga korban," jelas dia.

Yang kedua, kata Anton, pihak Lion Air harus lakukan pendampingan pada keluarga korban baik yang anggota keluarganya sudah ditemukan maupun yang belum, dalam hal ini pendampingan serta fasilitas pada 64 keluarga dari korban yang belum ditemukan dan teridentifikasi.

"Fasilitas dapat diberikan dalam bentuk antara lain pemberian fasilitas, biaya, transportasi pulang-pergi, penginapan, konsumsi bagi keluarga yang berada di luar Jakarta, selama proses pencarian korban lanjutan tahap kedua, serta pemberian uang tunggu tambahan," tutur Anton.


Kelurga korban Lion Air PK-LQP meminta pemerintah segera menemukan 64 korban hilang. (Diah/era.id)

Ketiga, lanjutnya, Lion Air harus segera menyelesaikan pemberian ganti rugi atau santunan keluarga korban tanpa ada perjanjian lain yang bersifat memaksa dari pihak manapun.

"Masalah santunan, ada yang sudah terima, tapi mayoritas keluarga korban belum bisa terima karena ada persyaratan-persyaratan untuk tidak menuntut dan segala macam. Harusnya tidak ada persyaratan-persyaratan itu, itu kan hak sepenuhnya keluarga korban," kata dia lagi.

Yang keempat, dalam menghadapi adanya kemungkinan akan dirugikan oleh pihak Lion Air, Anton dan keluarga korban lainnya meminta agar pemerintah dapat mengawal realisasi setiap janji yang diberikan oleh Lion Air.

"Kami mohon kepada presiden agar pemerintah bisa aktif mengawasi pemberian ganti rugi, mengawasi dan memberi sanksi kepada Lion apabila batas waktu sampai dengan akhir desember 2018 santunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan pencarian lanjutan 64 korban ini," tutup dia.


(Infografis/era.id)

Tag: lion air jatuh

Bagikan: