Blak-Blakan Ketum PPP soal Obor Rakyat

Tim Editor

Ketua Umum PPP Romahurmuziy. (Twitter @MRomahurmuziy)

Jakarta, era.id - Ketua Umum PPP Romahurmuziy secara terang membuka proses penerbitan koran Obor Rakyat yang sempat ramai di Pilpres 2014 lalu. Saat itu, tabloid ini menjadi ramai karena berisi konten kampanye hitam yang menyerang Joko Widodo (Jokowi).

"Saya katakan sebagai orang yang menjalani, mengalami proses penerbitan Obor Rakyat pada waktu itu. Saya menjadi saksi bahwa antek komunis, antek asing, antek anti-Islam itu adalah isu yang difabrikasi oleh lawan politik Pak Jokowi untuk kepentingan Pilpres 2014," kata Romy kepada wartawan di Hotel Acacia, Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (15/12/2018) dini hari.

Romy bilang, saat itu Obor Rakyat akan dicetak selama delapan edisi oleh tim relawan. Tapi, yang baru terlaksana hanya tiga edisi dan dicetak sebanyak 1 juta eksemplar. Tabloid itu dibagikan seluruh 242 ribu masjid dan 28 ribu pondok pesantren di Indonesia. Sehingga, isu itu mudah diterima oleh kaum agamis. 

"Strategi itu cukup efektif karena waktu satu bulan sebelum pilpres 2014, elektabilitas Pak Jokowi sempat drop dan sempat tersalip oleh Pak Prabowo dalam monitoring tim kita waktu itu," ungkapnya.


Tabloid Obor Rakyat. (Foto: Istimewa)

Meski berhasil masif, anggota DPR RI ini bilang, kini kubu Prabowo Subianto enggan menggunakan cara itu. Karena, saat itu penerbit Obor Rakyat memang akhirnya ditangkap dan dinyatakan bersalah. Sehingga, mereka menggunakan media sosial untuk kembali mereplikasi isu tersebut.

"Sekarang beda medium saja. Karena mereka sudah kapok dengan penggunaan Obor Rakyat yang memakan korban pidana kepada para pelakunya," jelasnya.

Siapa pendana Obot Rakyat?

Meski blak-blakan soal penyebaran media Obor Rakyat, Romi tak menyebut siapa pendana tabloid tersebut. Sebab, sebagai Ketua Divisi strategi tim kampanye Prabowo Subianto-Hatta Rajasa di Pilpres 2014, dirinya hanya disodorkan contoh tabloid Obor Rakyat yang akan diproduksi dan diminta untuk mengoreksi isi tabloid tersebut.

"Kami disodorkan 'dummy' tabloid itu dan diminta koreksi bagaimana menurut tim kampanye. Saya waktu itu sebagai Ketua Divisi Strategi Tim Kampanye Prabowo-Hatta, saya katakan tidak ikut-ikut karena ini hoaks, dan kalau kalah akan menjadi masalah," kata dia.

Romy juga kembali menyinggung, perubahan medium penyebaran hoaks kini menggunakan media sosial karena logistik tim penyebar hoaks itu sudah pas-pasan sehingga tak bisa lagi menyebarkan medium fisik seperti 2014.

"Mereka tidak lagi bisa menebarkan medium yang sifatnya fisik. Padahal separo masyarakat kita belum terhubung internet. Tapi mereka tidak melakukannya lagi, karena keterbatasan dana yg jauh menurun kemampuannya dibandingkan 2014 lalu," jelas Romy.

Ke depan, guna menangkal isu komunis sebagai anggota Dewan penasihat Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin, Romahurmuziy, meminta kepada tim advokasi untuk mengambil langkah preventif. Apalagi selama ini, tim pemenangan paslon nomor urut 01 itu sudah cukup sabar meski isu ini terus terdengar di tengah masyarakat.

"Kita akan memproses pidana apabila ada pihak yang masih melabelkan Pak Jokowi antek komunis atau pro komunis karna itu sama sekali tidak betul dan fitnah," tutupnya.

Tag: jokowi-maruf amin

Bagikan: