Andai Nurhadi-Aldo Betul-betul Ada di Surat Suara

| 04 Jan 2019 19:32
Andai Nurhadi-Aldo Betul-betul Ada di Surat Suara
Ilustrasi (Ilham/era.id)
Jakarta, era.id - Memasuki akhir tahun 2018, periode penuh ketegangan jelang Pemilu 2019 sedikit merenggang. Pasangan nomor urut 10, Nurhadi-Aldo jadi obatnya. Enggak cuma guyonan-guyonan kocak bernada sindiran yang berhasil melebur cebong dan kampret dalam tawa. Pasangan capres-cawapres fiktif ini juga muncul menjadi harapan, pembuka pikiran masyarakat, kalau politik yang mereka usung jauh lebih sehat dari politik identitas yang selama ini beredar.

Jangan bilang kamu enggak memahami narasi di atas. Jangan bilang kamu enggak tahu siapa itu Nurhadi-Aldo. Baik, info ini untuk kamu-kamu yang agak seret kuota atau yang memang menganut paham sok asyik: memilih hidup tanpa media sosial. Jadi, Nurhadi-Aldo adalah pasangan capres-cawapres fiktif yang kampanyenya berseliweran di media sosial beberapa waktu belakangan.

Konten kampanye media sosial pasangan ini sungguh menarik. Mengusung nama DiLdo --akronim Nurhadi-Aldo, pasangan ini berhasil mencuri perhatian publik media sosial. Nama keduanya dikemas menjadi pasangan alternatif untuk menyaingi pasangan resmi yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin.

Foto via @nurhadi_aldo

Saat pasangan Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma'ruf terlibat dengan konflik politik yang melelahkan, Nurhadi-Aldo akan melempar gagasan-gagasan nyeleneh yang sayangnya memang lebih substansial daripada dua pasang capres-cawapres yang sungguhan. Saat perdebatan pecah soal kewajiban tes baca Alquran bagi capres-cawapres, Nurhadi-Aldo justru melempar kampanye progra yang mereka beri nama 'Kampang Pantek'.

Nama programnya terdengar ngehek, memang. Tapi, rasanya gagasan macam begini yang memang dibutuhkan masyarakat. Bukan berarti membaca Alquran enggak penting. Tapi, bagi empat peserta pemilu yang semuanya beragama Islam, bukankah kemampuan membaca Alquran memang hal yang wajib dikuasai, yang seharusnya enggak perlu jadi perdebatan.

Kampang Pantek sendiri adalah singkatan dari Kampung Terbelakang Pandai Teknologi, yaitu sebuah program pemberdayaan desa terbelakang berbasis teknologi. Lewat program ini, Nurhadi-Aldo ingin menyetarakan daya saing masyarakat perkampungan dengan perkotaan lewat teknologi. Masyarakat yang andal memanfaatkan teknologi, diyakini pasangan ini sebagai asset penting pembangunan bangsa.

Atau ketika hoaks dan 'bisikan-bisikan' pemecah persatuan disebar, pasangan Nurhadi-Aldo justru melempar isu tentang legalisasi ganja. Kontroversial memang bagi bangsa ini, pun sampai hari ini ketika begitu banyak negara-negara di dunia telah melegalisasi ganja dan memanfaatkannya untuk kepentingan medis, tekstil, ataupun sekadar rekreasi.

Dalam narasi kebijakan legalisasi ganja medis yang mereka beri nama Peli Gajah alias Program Legalisasi Ganja Halal, Nurhadi-Aldo menjelaskan fakta ilmiah soal tanaman ganja yang manfaatnya telah digunakan manusia sejak berabad-abad lalu. Desain programnya jelas, Peli Gajah bahkan telah menyiapkan tiga langkah legalisasi ganja medis, mulai dari edukasi soal penggunaan ganja yang baik dan benar, kontrol peredaran ganja lewat apotek, hingga mengendalikan langsung perizinan pengelolaan dan distribusi tanaman ganja di bawah pemerintah.

Mereka yang di balik layar

Meski nampak meyakinkan sebagaimana tagline yang mereka usung: SmackQueen YaQueen (Semakin Yakin -- bacanya), sayang sekali kita semua harus menerima bahwa Nurhadi-Aldo adalah fiktif. Nama keduanya enggak akan kita temukan di surat suara kita nanti. Tapi, seenggaknya, Nurhadi-Aldo telah menunjukkan kepada masyarakat dan para politikus soal bagaimana berpolitik yang lebih masuk akal.

Dan memang itu tujuan orang-orang di belakang kampanye fiktif Nurhadi-Aldo. BBC berhasil mewawancarai salah satu di antara kepala-kepala kreatif dari pergerakan ini. Menurut narasumber yang namanya enggan disebut itu, segala kampanye kreatif ala Nurhadi-Aldo digarap oleh sejumlah anak muda berusia 17-23 tahun yang tinggal di berbagai kota di Nusantara.

Menurutnya, kekonyolan-kekonyolan yang dilempar dalam kampanye Nurhadi-Aldo bukannya tanpa pesan. Nurhadi-Aldo adalah bayang-bayang perdamaian yang mampu melerai perselisihan antara cebong dan kampret. Dalam setiap konten yang dilempar, kelompok yang terdiri dari para pengelola akun guyonan, penyebar meme, dan shitpost ini selalu menyelipkan kritik.

"Ada banyak yang bisa kita kritik, ada pemerintah, politisi, dari pada berantem sesama rakyat. Karena tidak mengubah apa-apa kalau sesama rakyat saling berantem," katanya, kami kutip Jumat (4/1/2019).

Sejauh ini, gerakan kampanye ala Nurhadi-Aldo boleh dibilang sukses. Dibiayai secara swadaya dan dilakukan lewat pergerakan berbasis online alias tanpa pertemuan tatap muka di antara mereka, para pemuda ini berhasil menarik 81.000 pengikut di akun Facebook Nurhadi-Aldo, 18.600 pengikut Twitter, serta 73.000 pengikut Instagram.

Soal sosok Nurhadi, bapak-bapak berkumis ini ternyata enggak sepenuhnya fiktif. Nurhadi adalah seorang tukang urut asal Mejobo, Kudus, Jawa Tengah. Di kalangan shitposting, Nurhadi adalah sosok yang sudah dikenal luas karena kebiasaannya mempromosikan jasa pijat dan memosting foto-foto dirinya sendiri. Dengan modal itu, kelompok ini sengaja mengangkat sosok Nurhadi sebagai protagonis utama kampanye.

"Sebelumnya, saya sendiri sudah menghubungi Pak Nurhadi dan minta izin, menjelaskan bahwa gerakan ini bisa bermanfaat untuk ekonominya.".

Agar bermanfaat secara ekonomi untuk Nurhadi, tim di balik kampanye Nurhadi-Aldo memformulasi sistem kerja sama penjualan merchandise. Jadi, tim kebagian mengurus desain, promosi, dan marketing, sementara Nurhadi kebagian menangani produksi dan pemesanan merchandise. Seluruh keuntungan penjualan merchandise itu sepenuhnya diberikan kepada Nurhadi.

Nah, kalau Nurhadi adalah tokoh shitposting dari Kudus, beda lagi dengan Aldo. Bapak berkumis dan berpipi agak bulat inilah yang sepenuhnya tokoh fiktif. Wajah Aldo, menurut keterangan tim dibuat dengan olah digital. Wajah Aldo adalah gabungan dari sejumlah politikus negeri dan beberapa orang lain. Gokil kan?

Akhir kata, selamat menikmati segala kelucuan hasil karya kepala-kepala kreatif di belakang DilDo!

Tags : pemilu 2019
Rekomendasi