Suara Pemilih Muslim Turun, PDIP: Pergeseran Hal Biasa

Tim Editor

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. (Wardhany/era.id)

Jakarta, era.id - Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, pergeseran suara merupakan hal yang biasa apalagi 56 hari jelang pencoblosan. Dia bilang, partainya sudah menyiapkan sejumlah video untuk menarik suara pemilih, khususnya pemilih muslim. 

Hal ini dia sampaikan menanggapi hasil survei dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Dari hasil survei tersebut, PDI Perjuangan memimpin dalam kategori pemilih mayoritas alias pemilih muslim dengan suara sebesar 18,4 persen. Tapi, suara ini turun dibandingkan bulan Desember 2018 yang lalu.

"Menjelang H-56 ini sedikit pergeseran hal yang biasa. Nanti setelah mendengar video-video dari KH Ma'ruf Amin, video dari Pak Jokowi kemudian video KH Yusuf Supendi akan banyak lagi. Jadi wajar," kata Hasto kepada wartawan di Jakarta, Kamis (21/2/2019).

Sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin itu juga menilai, turunnya suara PDIP di tengah pemilih muslim terjadi karena banyaknya jebakan politik yang sengaja diciptakan. Tujuannya, membuat partai berlambang moncong putih ini seakan-akan berjarak dengan Islam.

"Serangan sangat masif dengan jebakan politik yang dilakukan untuk membangun persepsi seolah-olah kami menjaga jarak dengan Islam," ungkapnya.

Meski begitu, Hasto tetap yakin masyarakat dapat memberikan dukungannya kepada partainya. Apalagi, dia menyebut, partainya paling terbuka melaporkan dana kampanye. Selain itu, dia juga yakin, rakyat bisa melihat partai mana yang konsisten memperjuangkan kepentingan rakyat.

"Kami berjuang yang terbaik kami dapatkan dukungan paling kuat dari milenial, umat muslim. Naik, turun, tapi kami yakin PDIP akan mendapat dukungan besar dari umat muslim," ungkapnya.

Supaya kalian tahu, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA kembali merilis hasil surveinya. Hasilnya PDI Perjuangan menguasai pemilih suara minoritas alias pemilih nonmuslim. Berdasarkan hasil survei, elektabilitas partai berlambang banteng itu unggul di segmentasi pemilih minoritas dengan angka 54,7 persen.

Sementara untuk kalangan pemilih muslim, PDIP meraih angka 18,4 persen. Meski memimpin, suara tersebut ternyata mengalami penurunan. Karena pada bulan Desember 2018 yang lalu, suara PDI Perjuangan di kalangan pemilih muslim mencapai 24,6 persen.

Menurut Rully, hal ini terjadi karena pengaruh pemilihan presiden. Dia menduga, faktor pendukung gerakan 212 dan Ijtima Ulama GNPF memberikan pengaruh karena mereka cenderung memilih pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno serta partai pengusungnya.

Hal ini terbukti, dengan posisi Gerindra yang menempati partai kedua dengan pemilih muslim sebanyak 16,6 persen. "Ternyata kekuatan 212 dan Itjima Ulama, justru memperkuat barisan Prabowo-Sandi," jelasnya.

Tag: sekjen pdi perjuangan hasto kristiyanto jokowi-maruf amin

Bagikan: