Panggung Perdana Agus Setelah 'Naik Level' di Demokrat

Tim Editor

Pidato politik Agus Yudhoyono (Mery/era.id)

Jakarta, era.id - Djakarta Theater menjadi panggung untuk Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono. Pidato politik adalah medianya kala Agus naik level menjadi orang paling bertanggung jawab terhadap pemenangan partai.

Agus Yudhoyono memberi judul pidatonya 'Rekomendasi Partai Demokrat untuk Presiden Indonesia Mendatang'. Sebuah sikap yang terkesan netral meski Demokrat sudah memproklamirkan sebagai pendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Agus bilang, dia dan jajaran elite Demokrat aktif blusukan ke pelosok nusantara. Hasilnya, mereka masih menemukan banyak persoalan mendasar berbangsa. Mulai dari menurunnya penghasilan dan sulitnya mendapatkan pekerjaan.

"Demokrat merekomendasikan kepada Presiden mendatang, untuk memacu laju pertumbuhan ekonomi nasional hingga mencapai angka 6 persen atau lebih, serta menciptakan iklim dunia usaha yang kondusif; di antaranya dengan cara melonggarkan pajak," kata Agus, Jumat (1/3/2019).

Agus berharap, siapa pun presiden yang terpilih, bisa melanjutkan program pemerintahan SBY yang dianggapnya pro rakyat. Sang presiden boleh juga memodifikasi atau sekadar mengganti nama program PKH, Raskin, BLSM, BPJS, BOS, Bidik Misi, LPDP, Beasiswa Santri, KUR dan PNPM, serta penyaluran subsidi secara BBM, listrik dan pupuk.


Pidato politik Agus Yudhoyono (Mery/era.id)

Kritikan Agus Yudhoyono

Agus kemudian melanjutkan dengan melancarkan kritik terhadap kehidupan berdemokrasi. Buat Demokrat, perlu ada peninjauan ulang model pemilu secara serentak. Sistem seperti ini hanya menguntungkan partai pengusung utama sang capres. Tapi efek elektoralnya tak berimbas banyak ke partai pendukung.

"Jika kondisi ini berlanjut di masa depan, bukan tidak mungkin era multipartai akan berakhir, dan menyisakan hanya dua partai besar, seperti di Amerika Serikat," kata Agus.

Partai Demokrat berpandangan, sistem multipartai merupakan pilihan yang paling rasional. Karena di hadapkan pada kemajemukan dan latar belakang historis bangsa ini. Agus secara khusus meminta supaya ide ini bisa dibahas serius setelah pemilu usai.

"Kita semua harus duduk bersama, melakukan dialog untuk membangun konsensus nasional tentang sistem politik apa yang paling cocok bagi bangsa kita di masa mendatang," pintanya.


Pidato politik Agus Yudhoyono (Mery/era.id)

Fanatisme berlebihan

Agus Yudhoyono juga menangkap fenomena fanatisme berlebihan dalam Pemilu 2019 ini. Isu grup WhatsApp sekarang malah lebih banyak berisi perdebatan tanpa akhir soal pilihan politik. Tak ada lagi yang bisa melihat secara jernih. Kalau tak suka dengan pendapat orang lain, tak sedikit yang memilih left group.

"Kita menyaksikan, kawan-kawan kita atau justru kita sendiri left group karena jengkel, seolah-olah kawan-kawan kita tidak lagi sejalan. Ada juga anggota grup yang di-remove oleh admin karena dianggap provokator, makar, atau mengganggu ‘stabilitas politik’ dalam grup," beber Agus Yudhoyono.

Yang paling parah lagi, Agus bilang, begitu ribet menggunakan kode nomor satu atau dua. Tidak hanya emoticon jari dalam percakapan di media sosial, tapi juga simbol jari ketika berfoto. Kalangan perwira di jajaran TNI turut menjadi korban hoax. Simbol jari pada saat foto bersama, yang menandakan angkatan kelulusan di Akademi Militer, dianggap sebagai dukungan pada paslon tertentu.

Kata Agus, di Jakarta, seorang penumpang taksi online, diturunkan di tengah jalan, hanya gara-gara menggunakan kaos yang berbeda dengan pilihan politik pengemudinya. Di tempat lain, makam terpaksa dibongkar dan jenazah dipindahkan, karena pemilik tanah pemakaman dan keluarga almarhum berbeda pilihan politik.

"Partai Demokrat menyayangkan, karena kehidupan politik dan demokrasi, yang susah payah kita bangun sejak krisis 1998, dan hasilnya kian nyata; kini, terasa mundur kembali," tegas Agus.

Tag: partai demokrat

Bagikan: