Tuna Indonesia yang Keliling Dunia

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Ikan tuna tangkapan nelayan Indonesia menjadi yang paling banyak beredar di dunia. Berdasarkan catatan Direktur PT Bahara Biru Nusantara Hadi Wijaya, mereka mampu memproses 35 ton ikan per hari, atau 5.000 ton per tahun. Ikan yang masih segar dan bisa dikonsumsi mentah ini dikirim ke Amerika Serikat, Uni Eropa dan Korea.

Dilansir dari South China Morning Post, Rabu (27/3/2019), saking banyaknya ikan tuna dari Indonesia yang beredar di dunia, penghasilan dari tangkapan tahunan diperkirakan sekitar 5 miliar dolar AS atau sekira Rp71 triliun. Selain itu, sekitar satu dari enam tuna yang ditangkap di seluruh dunia, selama tiga tahun terakhir, itu berasal dari Indonesia. 

Pasar terbesar tuna Indonesia adalah Amerika Serikat. Mereka mengonsumsi ikan tuna dalam bentuk filet beku. Ekspor tuna Indonesia ke AS melonjak 130 persen sejak 2014.

Sementara, Jepang --negara yang memperkenalkan sushi ke dunia-- mengimpor hampir seperempat tuna Indonesia tahun lalu. Sisanya diambil dari Australia, Hong Kong, Singapura dan Korea Selatan.


Ilustrasi (Pixabay)

Pekan ini, akan ada pameran Seafood Expo North America 2019. Ini adalah pameran perdagangan makanan laut terbesar di benua Amerika. Selain PT Bahari Biru Nusantara, ada 20 perusahaan lainya yang akan hadir. Kehadiran mereka untuk menunjukkan Indonesia sebagai produsen tuna berkualitas tinggi terbaik dunia, memberikan edukasi tentang kurangnya stok ikan karena penangkapan yang berlebihan, serta kerusakan lingkungan laut yang ada. Dengan begitu, masyarakat dunia tahu dari mana ikan yang mereka makan berasal dan cara penangkapannya.

"Permintaan akan makanan laut yang berasal dari sumber yang bertanggung jawab telah tumbuh di pasar di seluruh dunia," kata Direktur Asia Tenggara untuk International Pole and Line Foundation, sebuah organisasi non-pemerintah yang mempromosikan perikanan berkelanjutan, Jeremy Crawford.

Selama beberapa tahun belakangan, Indonesia dianggap mampu meyakinkan pelanggannya dengan membuat cara kerja rantai pasokan makanan lautnya lebih transparan. Dengan perkiraan 3,3 juta orang bekerja di sektor ini, semuanya tidak melalui praktik perburuhan yang buruk, perdagangan manusia, dan maraknya penangkapan ikan ilegal di Pasifik Barat.

Di bawah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Indonesia menjadi negara nelayan pertama yang membuat data real-time tentang lokasi semua kapal di perairannya.

Selain itu, di bawah pengawasan Susi, ratusan kapal penangkap ikan asing yang bertindak ilegal di perairan Indonesia telah tenggelam, seringkali ledakan ini dilakukan secara seremonial. 

Tindakan keras ini berdampak dengan meningkatnya reputasi Indonesia sebagai pasokan ikan yang transparan dan tidak ada toleransi terhadap praktik ilegal.

Selain itu, Indonesia juga telah mengembangkan industri pengolahan yang modern dan efisien untuk mengatasi volume ikan yang ditangkap. Kapal penangkap ikan Indonesia telah lama meninggalkan penggunaan jaring besar yang mampu mengangkat seluruh tuna dari laut. Cara ini memang mendapatkan meningkatkan produksi, namun berisiko menangkap ikan secara berlebihan.


Ilustrasi (Pixabay)

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia, menjadi negara kedua setelah Jepang, yang menggunakan metode penangkapan pancing satu per satu, untuk menghilangkan risiko pengangkutan ikan secara berlebihan. Para ahli memperkirakan bahwa hampir 20 persen tuna Indonesia dapat ditangkap dengan metode yang lebih ramah lingkungan ini.

November lalu, Perusahaan Citraraja Ampat Canning, yang mempekerjakan 750 nelayan di 35 kapal pole and line, menjadi perusahaan perikanan pertama di Indonesia dan yang kedua di Asia Tenggara setelah Ben Ben di Vietnam, yang menerima sertifikasi Marine Stewardship Council. Ini adalah standar internasional yang paling ketat untuk memastikan praktik penangkapan ikan tidak mengurangi stok di masa depan.

"Indonesia menunjukkan kelayakannya untuk memanfaatkan permintaan tuna skala internasional yang besar, dan juga dapat melindungi masa depan masyarakat pesisir," kata Crawford.

Untuk masalah tuna, Thailand dan Vietnam juga jadi pengekspor ikan ini di Asia Tenggara. Tapi, mereka mengekspor tuna untuk dikalengkan, bukan dikonsumsi secara segar.

Untuk diketahui, tuna telah muncul sebagai bagian perang dagang AS-China. Ini terdaftar pada Bagian 301 Daftar 3, dengan tarif 10 persen dikenakan ketika diimpor ke AS dari China.

Shaver, dari Stimson Center, menunjukkan, AS mengimpor sekitar 80 persen dari makanan laut yang dikonsumsi di sana, meskipun sebagian besar awalnya ditangkap di AS. Dalam beberapa kasus, ikan yang ditangkap AS dikirim ke China untuk diproses sebelum diimpor kembali untuk menarik tarif.


Ilustrasi (Pixabay)

Perusahaan tuna kalengan Amerika, Bumble Bee, telah membayar tarif untuk tuna yang ditangkap di Pasifik barat dan diproses di China sebelum dikalengkan di AS.

Pada saat yang sama, konsumsi tuna kalengan di AS telah menurun secara mantap selama dua dekade terakhir, digantikan oleh meningkatnya rasa orang Amerika akan tuna segar.

Untuk memenuhi permintaan ikan segar, perusahaan Seafood Imports yang berbasis di San Diego, secara eksklusif menjual tuna kelas sashimi yang ditangkap dan diproses di Indonesia kepada pembeli Amerika, termasuk menjualnya di supermarket besar.

"Untuk mempromosikan transparansi dan menyediakan pekerjaan, Indonesia tidak memproses tuna-nya di luar negeri, tidak seperti banyak negara--termasuk AS --yang mengirim banyak jenis spesies ikan ke Tiongkok dan negara-negara lain untuk diproses," kata Shaver.

Awal bulan ini, Bumble Bee Seafoods mengatakan, sebagai akibat langsung dari perang dagang, pihaknya mempertimbangkan untuk menutup pabrik pengalengannya di California dan pindah ke Asia Tenggara.

Indonesia, dengan kapasitas segala daya dan upayanya, berada dalam posisi yang baik untuk menerima relokasi semacam itu.

"Indonesia melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam mengendalikan penangkapan ikan ilegal di perairannya," kata Reniel Cabral, seorang ilmuwan kelautan dari Filipina yang berspesialisasi dalam pengelolaan sumber daya pesisir di Universitas California Santa Barbara, dalam sebuah komentar di situs pengawas Global Fishing Watch.

Menurutnya, Indonesia perlu menerapkan pengawasan serupa terhadap metode penangkapan ikan para nelayan domestiknya.

"Untuk terus mendapatkan manfaat dari kebijakan ini, mereka perlu memastikan bahwa upaya penangkapan ikan domestik juga dikelola dengan baik," tambah Barbara.

Tag: potensi laut indonesia susi pudjiastuti manfaat makanan ekspor

Bagikan: