LIPI Sebut Debat Capres Keempat Tanpa Substansi

| 04 Apr 2019 18:42
LIPI Sebut Debat Capres Keempat Tanpa Substansi
Debat keempat pilpres (Twitter/@KPU)
Jakarta, era.id - Peneliti Pusat Penelitian Politik LIPI Diandra Megaputri Mengko memberikan catatan kritis terkait jalannya debat keempat antarcalon presiden yang digelar beberapa hari lalu. 

Diandra bilang, ada beberapa pertanyaan panelis yang tak dijawab sesuai substansi oleh Joko Widodo (Jokowi) ataupun Prabowo Subianto. Keduanya, kata Diandra kurang menjawab secara konkret solusi dari permasalahan yang ada.

"Dalam debat kemarin, sayangnya kedua paslon enggak membahas lebih lanjut soal solusi ke depannya. Mereka tidak mengelaborasi lebih jauh. Dari sisi substansinya, hampir tak ada ide baru dari kedua paslon," kata Diandra dalam diskusi di Jakarta Pusat, Kamis (4/4/2019).

Ia mengambil contoh soal pengadaan alutsista yang masih kurang. Ia bilang, pengadaan alutsista itu terkait dengan persoalan akuntabilitas dan transparansi, dan bagaimana kedua calon menjamin pengadaan alutsista yang sesuai dengan prinsip akuntabilitas dan transparan.

Sayangnya, substansi itu tidak dijawab oleh kedua capres. Kurang lebih, Prabowo bicara mengenai sistem pertahanan kita yang masih lemah dan kurang anggaran. Kemudian, Jokowi justru sibuk membantah Prabowo dengan mengatakan sistem pertahanan kita sudah ada progressnya. Soal tercukupinya program dan gelar pasukannya, serta industri pertahanan, misalnya.

"Masing-masing kandidat tidak ada yang jawab mengenai persoalan bagaimana menjamin transparansi dan akuntabilitas di sektor pengadaan alutsista. Padahal, ini sebenarnya jadi isu yang menarik juga dalam komitmen kedua paslon dalam mengatasi persoalan transparansi dan akuntabilitas di sektor pertahanan dan keamanan," jelas dia. 

Lebih lanjut, ia mengkritisi soal ungkapan Jokowi yang bilang dalam 20 tahun ke depan tak akan ada perang. Kalau melihat data survei LIPI tahun 2018, sebanyak 88 persen ancaman pertahanan dan keamanan Indonesia memang berbentuk nontradisional. Sementara itu, ancaman konvensional berupa peperangan cuma berkisar 4 persen. Tetapi, data survei ini memang tidak Apple to Apple kalau bicara soal kemungkinan perang.

"Perang konvensional memang kecil kemungkinannya, tapi kalau terjadi dampaknya akan sangat besar. Kalau persoalan nontradisional memang dampaknya tidak sebesar peperangan, Walaupun ada, Tetapi dia high probability kemungkinan munculnya lebih besar," tuturnya. 

Meski hampir tak ada yang baru pada gagasan kedua paslon, tapi Diandra bilang keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan. lebih ke arah yang berbentuk fisik kedaulatan negara keutuhan wilayah, sementara Jokowi lebih ke arah bagaimana memberikan rasa aman kepada manusia dengan kerjasama internasional membuat rasa saling percaya di antara negara kawasan. 

"Menurut saya dua-duanya bukan sesuatu hal yang dipertentangkan, karena tidak benar atau salah tetapi dua-duanya punya kelemahan dan kelebihan masing-masing. Itu yang bisa mempengaruhi para pemilih," ungkap Diandra. 

Rekomendasi